2 Masalah Dunia Penyebab Bursa Amerika Merugi Kembali

602

(Vibiznews – Index) – Perdagangan saham Amerika di bursa Wall Street yang berakhir pada hari Jumat  pagi (8/02), merugi kembali dan ditutup dengan indeks utama kembali terkurung dalam zona merah. Sejak awal perdagangan perdagangan saham sudah mendapat tekanan dari Inggris dan jelang akhir sesi bertambah kencang oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait perang dagang AS-China.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 220,77 poin atau 0,9 persen menjadi 25.169,53 dengan anjloknya saham Apple dan DowDuPont memimpin penurunan. Indeks S&P 500 anjlok 0,94 persen ditutup pada 2.706,05 yang dipimpin oleh pelemahan saham sektor energi dan teknologi. Indeks Nasdaq Composite yang merosot paling dalam sekitar 1,2 persen menjadi 7.288,35.

Tekanan pertama datang dari kekhawatiran pertumbuhan global meningkat karena Komisi Eropa dan bank sentral Inggris (BOE) memangkas perkiraan pertumbuhan mereka.  Komisi Eropa memangkas prospek pertumbuhan untuk zona euro tahun ini karena perkirakan ekonomi terbesar blok itu akan merosot oleh ketegangan perdagangan global. Proyeksi Komisi Eropa bahwa pertumbuhan zona euro akan melambat menjadi 1,3 persen tahun ini dari 1,9 persen pada 2018, sebelum rebound pada 2020 menjadi 1,6 persen. Bank of England juga memangkas prospek pertumbuhan 2019 dan belum melihat ekonomi Inggris tumbuh sejak 2009.

Dan sentimen negatif yang paling kuat yaitu kekhawatiran pasar bahwa pemerintahan Trump tidak akan mencapai kesepakatan perdagangan dengan China sebelum batas waktu Maret. Pejabat administrasi senior mengatakan bahwa Presiden Trump dan Presiden Xi tidak mungkin bertemu sebelum gencatan perdagangan berakhir pada 1 Maret 2019 dan penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengakui ada  jarak yang cukup jauh untuk ditempuh  sebelum AS dan China mencapai kesepakatan perdagangan.

Untuk saham-saham top yang tertekan seperti saham Caterpillar dan Deere keduanya turun lebih dari 1 persen. Boeing turun 0,9 persen. Saham-saham perusahaan-perusahaan ini dipandang sebagai penentu arah untuk perdagangan global mengingat eksposur mereka ke pasar luar negeri.

Twitter melaporkan pendapatan kuartalan yang mengalahkan ekspektasi, namun saham perusahaan media sosial tersebut turun 9,8 persen karena Twitter juga mengeluarkan proyeksi yang lemah.

Berita koorporasi datang dari saham BB&T dan SunTrust Banks melawan tren negatif keseluruhan, masing-masing naik 4 persen dan 10,2 persen. Kedua saham naik setelah BB&T setuju untuk membeli SunTrust dengan harga lebih dari 28 miliar. Kesepakatan itu yang terbesar dalam satu dekade dalam sektor perbankan.

Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting Group
Editor: Asido Situmorang 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here