Review Forex 11/02: Dolar AS Menang Kuat Lawan Rival Utamanya

527

(Vibiznews – Forex) – Mengakhiri perdagangan forex sesi Amerika  beberapa saat lalu pada hari Selasa (12/02), pasar forex masih dikuasai oleh kekuatan dolar AS yang menguat terhadap semua mata uang utama. Kemenangan dolar AS tersebut , memperpanjang kenaikan ke 7-hari berturut-turut  di tengah kekhawatiran tentang prospek pertumbuhan ekonomi global.

Indeks dolar sempat naik ke posisi tertinggi dalam 2 bulan yaitu 97,12 dan saat penutupan tadi turun ke posisi 97.06 atau naik sekitar 0,43% dari akhir perdagangan sebelumnya di hari Jumat lalu. Kekuatan dolar AS bertambah di sesi Eropa ketika rival utamanya poundsterling anjlok parah setelah rilis data PDB Inggris yang lemah.

Menurut laporan dari Office For National Statistics, produk domestik bruto Inggris Q3-2018 hanya tumbuh 0,2% dari kuartal ketiga yang saat itu  ekonomi tumbuh 0,6%. Sebelumnya di kuartal kedua tumbuh 0,4% dan pada kuartal  pertama tahun 2018 hanya 0,1%. Kemudian dilaporkan juga secara tahunan, PDB Inggris  naik 1,3% pada kuartal keempat, yang merupakan laju terlemah sejak kuartal kedua 2012. Dimana sebelumnya pada kuartal ketiga pertumbuhan tahunan 1,6%.

Poundsterling jatuh sekitar 0,3% terhadap dolar, dan kemudian turun lebih jauh lagi dan anjlok sekitar 0,6%. Terhadap rival lainnya, dolar menguat ke $1,1275 per euro, pulih dari penutupan sebelumnya di $1,1326. Demikian juga terhadap yen ditutup pada 110,39 atau naik sekitar 0,6%. Kemudian terhadap franc Swiss, dolar  naik hampir 0,6% pasca flash crash yang terjadi pada awal sesi Asia.

Fokus pasar forex sekarang sekarang sedang menunggu proses selanjutnya pada pembicaraan perdagangan AS-China dimana negosiasi tingkat awal antara pejabat kedua negara dimulai hari ini. Akhir pekan ini, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin, bersama dengan para pejabat tinggi dijadwalkan berada di Beijing untuk negosiasi.

Fokus pasar lainnya juga datang dari kekhawatiran para investor yang mempertimbangkan kemungkinan penutupan operasional pemerintah lagi di AS setelah pembicaraan antara anggota parlemen Demokrat dan Republik gagal mengenai masalah kebijakan penahanan imigran.

 

Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting Group
Editor: Asido Situmorang 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here