Harga Makanan di China Turun, Inflasi Januari Terburuk dalam 1 Tahun

672

(Vibiznews – Index) – Kantor Statistics China melaporkan inflasi harga konsumen negeri tersebut melambat menjadi 1,7 persen secara tahunan di bulan Januari 2019 dari 1,9 persen di bulan sebelumnya dan di bawah ekspektasi pasar 1,9 persen. Data tersebut merupakan  tingkat inflasi terendah sejak Januari 2018.

China Inflation Rate

Tekanan penurunan inflasi di China dipicu oleh turunnya tingkat harga konsumen untuk makanan. Inflasi makanan yang sensitif secara politis turun ke level terendah lima bulan di 1,9 persen di Januari dari 2,5 persen di bulan sebelumnya, kenaikan harganya lebih rendah dari periode sebelumnya seperti  sayuran segar (3,8 persen vs 4,2 persen pada Desember), buah segar (2,7 persen vs 9,4 persen) dan telur (0,3 persen vs 0,7 persen). Untuk biaya yang terus turun untuk minyak nabati (-0,3 persen vs -0,3 persen) dan babi (-3,2 persen vs -1,5 persen).

Untuk biaya non-makanan, inflasi naik 1,7 persen pada Januari, sama seperti pada bulan sebelumnya. Harga terus meningkat untuk pakaian (1,6 persen vs 1,5 persen pada Desember);  bahan bakar & utilitas (2,1 persen vs 2,2 persen); barang dan jasa rumah tangga (1,5 persen vs 1,4 persen); pendidikan, budaya dan rekreasi (2,9 persen vs 2,3 persen). Pada saat yang sama, biaya transportasi dan komunikasi turun lebih jauh (-1,3 persen vs 0,7 persen pada Desember).

Sedangkan inflasi inti tahunan, tanpa harga pangan dan energi naik tipis menjadi 1,9 persen di Januari dari 1,8 persen di bulan sebelumnya dan merupakan tingkat  tertinggi dalam lima bulan.

Secara bulanan, indeks harga konsumen naik 0,5 persen pada bulan Januari, dibandingkan dengan posisi yang flat pada Desember dan sesuai perkiraan pasar. Kenaikan inflasi bulanan tersebu merupakan tingkat bulanan tertinggi dalam empat bulan.

Sementara itu, Kantor Statistics Chin juga umumkan data indeks harga produsen China naik 0,1 persen dari tahun sebelumnya di Januari, jauh lebih lambat dari kenaikan 0,9 persen di bulan sebelumnya dan kurang dari ekspektasi pasar 0,2 persen. Itu adalah inflasi produsen terendah sejak September 2016.

Telah terjadi penurunan pada harga alat-alat produksi (-0,1 persen vs 1 persen dalam sebulan sebelumnya),  bahan baku (-1,6 persen vs 0,8 persen), pemrosesan (0,3 persen vs 0,8 persen) dan ekstraksi (1,2 persen vs 3,8 persen).

Pada saat yang sama, inflasi produksi barang-barang konsumsi turun menjadi 0,6 persen dari 0,7 persen, di antaranya produksi makanan (0,8 persen vs 0,9 persen), pakaian (1,6 persen vs 1,6 persen) dan barang-barang keperluan sehari-hari (0,3 persen vs 0,4 persen).

Analyst Vibiz Research Center melihat data ini mengkhawatirkan pasar akan pertumbuhan ekonomi global yang dalam beberapa waktu terakhir jadi momok. Akibat data ini menimbulkan tekanan anjloknya pasar saham global dan juga kurs aussie dolar .

Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting Group
Editor: Jul Allens

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here