Review Forex 14/02: Poundsterling Sendirian Menderita Karena Brexit

495

(Vibiznews – Forex) – Mengakhiri perdagangan forex di ujung sesi Amerika  beberapa saat lalu pada hari Jumat (15/02), dolar AS anjlok terhadap beberapa mata uang utama  setelah data dari Departemen Perdagangan mengatakan penjualan ritel di AS secara tak terduga turun 1,2% pada bulan Desember.

Indeks dolar yang menunjukkan kekuatan dolar AS terhadap rival utamanya ditutup pada posisi  97,02 atau turun sekitar 0,11% dari perdagangan sebelumnya. Namun indeks di sesi asia sempat naik ke posisi tinggi di 97.28 dan turun ke posisi terendah di 96.95  setelah awal sesi dibuka pada posisi 97.18.

Kurs euro bertahan di posisi yang kuat sekalipun mendapat tekanan dari data yang mengecewakan dari Jerman terus meningkatkan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi zona euro. Euro dalam pair EURUSD alami kenaikan 0,28 persen pada $1,1294 yang sedikit diperkuat oleh data pertumbuhan PDB zona euro yang sesuai dengan perkiraan.

Melawan poundsterling, dolar berhasil menang dengan penyebab sentimen ketidakpastian tentang Brexit yang terus membebani mata uang Inggris tersebut. Perdana Menteri Inggris Theresa May kesulitan untuk mendapatkan dukungan dari legislator ata rencana Brexit. Poundsterling jadi anjlok 0,4 persen yang turun ke posisi  1.2800.

Yen Jepang sempat melemah ke posisi 111,13 per dolar akibat kuatnya perdagangan saham Asia namun pulih kembali pada saat sesi Eropa yang perdagangan sahamnya merugikan dan kemudian pada sesi Amerika semakin kuat oleh anjloknya yield treasury AS untuk tenor 10-tahun. Saat penutupan yen naik  sekitar 0,4% dari penutupan sebelumnya pada posisi 110,51 dolar.

Untuk dolar Australia yang merupakan barometer untuk sentimen perdagangan aset risiko global, masih mampu bullish setelah pada hari yang sama sempat naik tinggi pasca data perdagangan China yang lebih baik serta kekuatan harga komoditas. Kemudian naik kembali oleh retreatnya dolar hingga 0,23 persen pada posisi $0,7104.

Departemen Perdagangan AS semalam melaporkan penjualan ritel turun 1,2 persen pada bulan Desember, yang merupakan  penurunan bulanan terbesar mereka sejak September 2009. Departemen itu juga mengatakan penjualan ritel inti turun 0,9 persen pada Desember tidak termasuk penjualan di pompa bensin.

Selain data diatas, ada data PPI dengan tidak termasuk penurunan tajam dalam harga pangan dan energi indeks core PPI naik 0,3 persen pada Januari  sedangkan perkiraan pasar hanya naik 0,2 persen. Namun secara tahunan pertumbuhan harga produsen melambat menjadi 2,5 persen di Januari dari 2,8 persen di Desember. Tingkat pertumbuhan tahunan dalam harga produsen inti juga merosot ke 2,6 persen di Januari dari 2,7 persen di bulan sebelumnya.

Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting Group
Editor: Asido Situmorang 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here