Lonjakan Harga Gula Mencapai Tertinggi 3-1/2 Bulan

624

(Vibiznews – Commodity) – Harga gula berjangka yang diperdagangkan di bursa komoditas internasional ICE New York yang berakhir hari Kamis  (21/02)  rally kuat hingga naik ke posisi tertinggi 3-1/2 bulan. Demikian juga harga gula putih di ICE London melaju  ke posisi tertinggi 1-bulan.

Bangkitnya mata uang Real Brasil mendorong bargain hunting  setelah Real naik ke posisi tertinggi 2 minggu terhadap dolar. Semakin kuat Real menghambat ekspor dari produsen gula Brasil. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah ke level tertinggi 3 bulan mengangkat harga gula karena menguntungkan harga etanol dan mungkin mendorong pabrik gula Brasil mengalihkan lebih banyak tebu yang dihancurkan ke arah produksi etanol daripada produksi gula, sehingga mengurangi pasokan gula.

Sentimen lain yang meningkatkan harga gula adalah proyeksi  dari Federasi Nasional Koperasi Gula Ltd  India bahwa produksi gula India 2019/20 akan turun setidaknya  5% y/y ke level terendah 3-tahun 30 MMT. Juga, Indonesia sebagai importir gula terbesar di dunia, dapat mengimpor lebih banyak gula tahun ini setelah Asosiasi Penyulingan Gula Indonesia mengatakan pada hari Selasa bahwa penyuling dapat mengimpor 3,2 MMT gula mentah pada tahun 2019, naik   5,3% y/y.

Harga gula mentah akhir perdagangan bursa New York sedang naik 0,55  atau 0,55% pada harga $13,44 per lb untuk kontrak berjangka Mei 2019. Namun untuk harga gula putih kontrak Maret yang terpantau  di bursa London sekarang sedang naik 0,90  atau 0,25% pada harga $360.00.

Harga gula di Amerika jatuh ke level terendah 5-minggu Kamis lalu setelah India menaikkan harga jual minimum gula sebesar 6,9%, di bawah ekspektasi untuk kenaikan 10%. Harga gula minimum yang lebih tinggi dapat mendorong pabrik gula India untuk menjual lebih banyak gula di pasar domestik dan berpotensi mengurangi ekspor gula dan pasokan global.

Untuk perdagangan selanjutnya hingga sesi Amerika malam nanti, analis Vibiz Research Center memperkirakan secara teknikal harga gula di ICE New York berpotensi retreat  oleh proyeksi penguatan dolar AS dan retreat harga minyak mentah.

Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting Group
Editor: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here