IMF proyeksikan Indonesia Masuk 6 Besar Negara Ekonomi Terbesar Dunia

660

(Vibiznews – Banking & Insurance) – Perekonomian Indonesia yang cukup stabil dan baik diakui oleh dunia internasional terbukti dari International Monetary Fund (IMF) yang memproyeksikan Indonesia akan masuk sebagai enam besar negara ekonomi terbesar di dunia di tahun 2023.

Dari perkiraan IMF, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,4%. Dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita mencapai US$ 5,12 ribu per kapita. Pada tahun 2023, Indonesia akan bisa menggeser posisi Brazil, Rusia, Inggris, Perancis dan Meksiko. IMF memprediksi negara-negara Eropa akan mengalami penurunan ekonomi pada ranking global. Salah satunya adalah Perancis dengan pertumbuhan ekonomi 1,6%, stagnan sejak tahun 2018.

Berdasarkan peringkat 10 besar pada tahun 2023, ekonomi terbesar akan diduduki oleh Tiongkok, Amerika Serikat (AS), India, Jepang, Jerman, Indonesia, Rusia, Brazil, Inggris dan Perancis.

Bagaimana tanggapan Bank Indonesia mengenai hal ini?

Menurut Deputy Gubernur Bank Indonesia (BI) hal ini dimungkinkan karena jika dilihat ke depan, dari demografi penduduk Indonesia usia produktif yang besar dengan pendapatan per kapita yang terus meningkat  maka hal ini akan mendorong kegiatan konsumsi dan investasi. Secara tidak langsung hal ini akan meningkatkan permintaan domestik yang besar yang akan jadi motor penggerak  utama ekonomi Indonesia.

Meskipun demikian, BI berharap penggerak ekonomi tidak hanya dari permintaan domestik namun juga dari angka ekspor-impor. Saat ini BI telah membuat beberapa kebijakan struktural untuk meningkatkan ekspor baik barang maupun jasa namun pemerintah diharapkan membuat langkah-langkah untuk meningkatkan produktivitas dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta teknologi yang maju sehingga dapat bersaing dengan negara-negara lain.

Pemerintah saat ini berupaya untuk memangkas berbagai regulasi yang menyulitkan, dan juga membebani dunia usaha, “Kita telah memulai dengan OSS (On line Single Submission), demikian pernyataan dari Presiden Jokowi dalam Konvensi Rakyat di SICC kemarin (24/02). Selain itu perbaikan kemudahan berusaha alias ease of doing business (EoDB), perbaikan iklim investasi, industri 4.0 dan pemberian tax holiday juga telah dilakukan oleh pemerintah.

Tentu saja sebagai bank sentral, BI akan tetap konsisten memperkuat stabilitas eksternal dengan mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik.

BI juga terus menempuh strategi operasi moneter untuk meningkatkan ketersediaan likuiditas dalam mendorong pembiayaan perbankan.

Rencana ke depan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, BI akan menempuh kebijakan makroprudensial yang akomodatif dan penguatan kebijakan sistem pembayaran dalam rangka memperluas pembiayaan ekonomi serta koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait yang juga terus dipererat untuk mempertahankan stabilitas ekonomi.

 

Belinda Kosasih/ Partner of Banking Business Services/Vibiz Consulting Group

Editor : Asido Situmorang

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here