Review Forex 26/02: Dolar AS Terperosok dan Poundsterling Cetak Rekor

1985

(Vibiznews – Forex) – Mengakhiri perdagangan forex hari Selasa yang berakhir Rabu pagi (27/02), dolar AS menunjukkan kelemahan terhadap rival-rival utamanya  dengan Poundsterling Inggris memimpin keuntungan pasar, yang sempat mencetak rekor tinggi di tengah laporan kemungkinan ada penundaan Brexit.

Berita terkait Brexit, referendum kedua terlihat sangat mungkin setelah pemberitaan Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan pemungutan suara pada kesepakatan Brexit akan diadakan pada 12 Maret. Jika kesepakatan ditolak lagi, akan ada pemungutan suara pada Brexit yang tidak ada kesepakatan di Parlemen pada 13 Maret. Dan jika itu gagal, anggota parlemen kemudian akan memberikan suara pada 14 Maret untuk melihat apakah pasal 50 dapat diperpanjang melampaui batas waktu 29 Maret.

Indeks dolar yang menunjukkan kekuatan dolar AS terhadap rival utamanya ditutup pada posisi 96,46 atau turun sekitar 0,3% dari perdagangan sebelumnya, setelah sebelumnya dibuka pada posisi 96.43. Indeks sempat jatuh ke posisi terburuk 3 pekan di posisi 95.95 sebelum kemudian naik ditopang data dari CB.

Poundsterling terhadap dolar AS dalam pair GBPUSD naik sekitar 1,2% pada $1,3254 merespon pemberitaan kemungkinan adanya penundaan Brexit diatas. Poundsterling sempat naik ke posisi 1.3287 yang merupakan posisi tinggi dalam 6 bulan.

Melihat posisi dolar terhadap rival utama lainnya, dolar AS melemah terhadap Euro juga, melemah ke 1,1393 per Euro atau anjlok  sekitar 0,3%, setelah naik ke 1,1346 pada hari sebelumnya. Demikian juga dengan yen Jepang menguat  ke 110,57 setelah dibuka pada 111,06 yen per dolar.

Dolar tertekan semalam oleh pidato Ketua Federal Reserve Powell  di hadapan Komite Perbankan Senat AS yang mengatakan The Fed akan tetap sabar dalam memutuskan kenaikan suku bunga lebih lanjut, yang menegaskan kembali perubahan kebijakan yang dibuat oleh bank sentral AS pada bulan Januari lalu sekalipun dia juga menyebutkan ekonomi sedang baik.

Powell juga mempersalahkan  volatilitas di pasar keuangan, melambatnya pertumbuhan di China dan Eropa, dan ketidakpastian tentang Brexit dan pembicaraan perdagangan AS-China. Dan untuk menaikkan suku bunga dan menekankan keputusan kebijakan masa depan akan bergantung pada data dan memperhitungkan informasi baru ketika kondisi ekonomi dan prospek berkembang.

Bangkitnya dolar dari posisi terburuk semalam dibantu oleh  rilis data ekonomi makro yaitu  lonjakan indeks kepercayaan konsumen AS menurut survey CB untuk Februari menjadi 131,4, dari data revisi sebelumnya 121,7 pada bulan Januari.

 

 

 

Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting Group
Editor: Asido Situmorang 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here