Akhir Bursa Amerika Dow Jones Retreat dan Paling Terpukul

497

(Vibiznews – Index) – Perdagangan saham Amerika di bursa Wall Street yang ditutup beberapa saat lalu Senin  (05/03) anjlok setelah awal sesi dibuka menguat di tengah pemerintah AS dan China semakin dekat dalam kesepakatan dagang mereka selama ini. Indeks sempat mencapai posisi tinggi oleh sentimen diatas namun tidak lama kemudian terus mundur hingga ke posisi negatif.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 206,67 poin atau 0,8 persen menjadi 25.819,65 yang menghapus kenaikan 129,66 poin sebelumnya. Saham Boeing adalah salah satu yang berkinerja terburuk hingga merosot 1,8 persen. Indeks S&P 500 turun 0,4 persen menjadi 2.792,62 setelah naik hampir setengah persen, dan akhir pekan lalu ditutup pada posisi tertinggi sejak 8 November. Nasdaq Composite ditutup 0,2 persen lebih rendah pada 7.577,57.

Indeks Dow Jones turun 69,16 poin atau 0,29 persen ditutup pada 25.916 dengan saham UnitedHealth yang paling anjlok hingga lebih dari 50 poin dari indeks blue-chip. Indeks S&P 500 turun hampir 0,3 persen ditutup pada 2.784,49, sementara itu indeks Nasdaq Composite juga kehilangan sekitar 0,3 persen atau 19 poin ke posisi 7.532,53 dengan saham-saham utama Facebook, Apple dan Netflix semuanya turun lebih dari 0,5 persen.

Saham mulai terpangkas harganya setelah Departemen Perdagangan melaporkan belanja konstruksi turun 0,6 persen pada Desember dan sebelumnya diperkirakan  kenaikan 0,2 persen. Sektor yang lebih dulu terkena serangan yaitu sektor teknologi S&P 500 yang turun 0,4 persen. Saham Salesforce yang mencetak penurunan terbesar di sektor ini, meluncur lebih dari 3 persen menjelang rilis pendapatan kuartalan mereka.

Pembukaan pasar menguat menerima sentimen positif bahwa negosiasi perdagangan AS-China sedang dalam  tahap akhir ketika kedua pihak bersiap untuk KTT yang mungkin di Mar-a-Lago pada akhir Maret. Jika kesepakatan tercapai, AS dapat memutar kembali tarif atas barang-barang Tiongkok setidaknya $ 200 miliar sementara China akan menghapus atau memotong pungutan khusus industri seperti yang ada di produk mobil.

Namun, AS menginginkan kemampuan untuk memberlakukan kembali pungutan terhadap barang-barang Tiongkok jika pembicaraan gagal tentang mekanisme penegakan hukum atas pencurian kekayaan intelektual dan hal-hal terkait. Dan ini sepertinya tidak cocok dengan orang Cina.

Namun terdapat sedikit kekhawatiran pasar oleh pemberitaan suatu media Amerika bahwa kesepakatan perdagangan yang dibahas tidak akan banyak membantu mengatasi masalah struktural utama. Ini termasuk upaya oleh China untuk mengekang cybertheft dan subsidi yang menurut pemerintah Trump mempersulit perusahaan AS untuk melakukan bisnis di China.

Analyst Vibiz Research Center melihat perang dagang kedua negara ekonomi besar ini  telah mengirim riak besar melalui pasar keuangan sejak tahun lalu, dengan investor khawatir bagaimana kondisi perdagangan yang lebih ketat dapat mempengaruhi keuntungan perusahaan.

 

 

Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting Group
Editor: Asido Situmorang 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here