Transaksi Digital Masyarakat Meningkat Pesat; di BCA Mendominasi 98% Transaksi

1132

(Vibiznews – Banking) – Bank Indonesia (BI) beberapa waktu lalu mencatat transaksi pembayaran secara online via digital banking tumbuh sebesar 44,4 persen secara tahunan pada akhir kuartal tahun 2018. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan triwulan III-2018 yang sebesar 41,1 persen.

BI menyatakan bahwa kinerja positif uang elektronik dan digital banking tersebut tidak terlepas dari menguatnya preferensi masyarakat bertransaksi menggunakan platform teknologi. Hal ini seiring dengan berkembangnya industri financial technology, e-commerce, dan jasa transportasi online.

Bank swasta terbesar di Indonesia, BCA, juga melihat perkembangan luar biasa pemanfaatan transaksi digital di bank tersebut. Belum lama ini disebutkan bahwa 98% transaksi di Bank BCA saat ini merupakan transaksi digital. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan dari total transaksi 2018 senilai Rp 6.700 triliun, 98%-nya berasal dari transaksi digital, demikian disampaikan kepada media usai peluncuran Synergy di Jakarta (27/3).

Diterangkan bahwa transaksi digital itu kebanyakan dicetak dari perdagangan, termasuk e-commerce. Saat ini secara frekuensi, transaksi non-digital yang dilakukan melalui kantor cabang BCA hanya 2%. Jahja menjelaskan, transaksi digital yang paling sering dilakukan misalnya transfer uang, setoran tunai melalui mesin ATM, termasuk transaksi melalui ecommerce.

Selain itu, BCA baru saja meresmikan produk widget keyboard yang bernama BCA Keyboardpada  akhir Februari lalu. Sejak pertama kali kemunculannya, BCA sudah berhasil menjaring sebanyak 4.000 nasabah dengan total calon nasabah yang sudah apply sebanyak 12.000.

Sementara itu, di bank besar lainnya, misal BNI, dikabarkan juga mengalami pertumbuhan transaksi belanja e-commerce yang signifikan melalui kartu kredit, dengan komposisi transaksi digital sekitar 25%.

Analis Vibiz Research center melihat bahwa perkembangan transaksi digital di Indoensia pastinya akan semakin bertumbuh pesat, baik melalui fintech, e-commerce, maupun transportasi online. Mengacu kepada prediksi McKinsey, pertumbuhan e-commerce di Indonesia bakal meningkat delapan kali lipat, dari total pembelanjaan online 8 miliar dolar AS (Rp112 triliun) pada 2017, menjadi 65 miliar dolar AS pada 2020.

Itu sebabnya digital banking bagi industri perbankan dalam negeri adalah keharusan. Sekalipun dalam periode transisi ini masih banyak, diakui oleh para bankir, transaksi offline yang berjalan. Namun demikian, menghadapi disrupsi digital ini, bank harus cepat menyesuaikan diri, sekaligus menangkap peluang yang terbuka di pasar. Kerjasama dengan fintech, ketimbang persaingan langsung, dapat dipertimbangkan. Sejumlah bank besar di dunia saat ini cenderung mengakuisisi kelompok startup fintech dalam strategi bisnisnya.

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting
Editor: Asido

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here