Buruknya Data Manufaktur China Semakin Lemahkan Harga Minyak di Asia

334

(Vibiznews-Commodity) – Harga minyak mentah  yang diperdagangkan pada sesi Asia hari Selasa (30/04) turun  di tengah ekspektasi kenaikan output dari Amerika Serikat dan produsen OPEC serta kekhawatiran penurunan permintaan setelah China melaporkan kinerja manufakturnya masih kontraksi.

Harga minyak mentah berjangka Brent atau harga acuan minyak internasional berada di $71,88 per barel  yang  turun 26 sen, atau 0,36 persen dari penutupan sesi Amerika beberapa saat lalu. Demikian juga harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 12 sen atau 0,19 persen berada di $63,38 per barel.

Baru saja kantor statistik China atau NBS umumkan data kinerja manufaktur turun secara tak terduga menjadi 50,1 pada bulan April 2019 dari level tertinggi lima bulan 50,5 pada Maret. Laporan tersebut menunjukkan bahwa output dan pesanan baru naik pada kecepatan yang lebih rendah, sementara level pembelian sedikit berubah dari bulan sebelumnya.  Data ini memberikan sentimen kekhawatiran pasar akan permintaan pasokan global.

Harga minyak melonjak sekitar 40 persen antara Januari dan April, terangkat oleh pemotongan pasokan yang dipimpin oleh produsen Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang didominasi Timur Tengah serta sanksi AS terhadap produsen Iran dan Venezuela.

Tetapi harga anjlok parah akhir pekan lalu setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka menekan OPEC dan pemimpin de-faktonya Arab Saudi untuk meningkatkan produksi guna memenuhi kekurangan pasokan yang disebabkan oleh pengetatan sanksi Iran.

Sebelumnya diberitakan produksi minyak Iran akan turun menjadi 1,9 juta barel per hari pada semester kedua 2019 dari 3,6 juta barel per hari pada kuartal ketiga 2018  karena sanksi AS diperketat.

Ada banyak pertimbangan investor dari ekspektasi lembaga-lembaga top dunia yang menyebutkan  output dari OPEC dan juga Amerika Serikat akan naik. Karena pernah diberitakan ekspor AS melebihi 3 juta barel per hari (bph) untuk pertama kalinya pada awal 2019 di tengah lonjakan produksi lebih dari 2 juta bph selama tahun lalu, ke rekor lebih dari 12 juta barel per hari.

Untuk perdagangan selanjutnya, analyst Vibiz Research Center memperkirakan harga minyak WTI selanjutnya akan menemui posisi  posisi support di 62.63 – 61.84.  Namun jika terjadi pergerakan sebaliknya akan mendaki  ke resisten 63.80 – 64.45.

 

Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting  
Editor: Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here