Pengaruh Perang Dagang AS-Cina Terhadap USD & Saham

1030

(Vibiznews-Forex) pertikaian perdagangan antara AS dengan Cina, yang diasumsikan berlangsung sampai hari Minggu lalu dimana sedang dinegosiasikan resolusinya, meledak menjadi event penggerak pasar yang utama ketika Presiden AS Donald Trump mengancam untuk meningkatkan tarif atas banyak barang impor Cina menjadi 25%.

Trump menuduh Cina melanggar komitmen dengan mengubah perkataan yang telah disepakati untuk dituangkan di dalam perjanjian bersama.

Cina bereaksi dengan menunda perjalanan delegasi ke Washington, namun Wakil Perdana Menteri Liu He dan teamnya terbang ke ibu kota dari Amerika untuk negosiasi yang baru pada hari Kamis.

Menurut Reuters dan sumber dari AS, Cina dengan sistematik mengedit 150 halaman draft perjanjian perdagangan, mengubah permintaan kunci AS yang telah dikomitkan Cina untuk mengubah peraturannya untuk mendorong perjanjian.

Trump cenderung untuk menghentikan pembicaraan, sementara  Lui He tiba dengan diasumsikan membawa sesuatu untuk didiskusikan, mengetahui kekecewaan dari pemerintah Trump. Pada hari Rabu, Presiden Trump mengumumkan melalui tweeter bahwa representative perdagangan Cina sedang datang ke Amerika Serikat untuk membuat kesepakatan.

Sementara konklusi dari pergulatan perdagangan setahun lamanya masih belum ketahuan hasilnya, reaksi dari pasar saham dan matauang cukup berbeda.

Saham jatuh tajam pada hari Senin, pulih kembali, terpukul pada hari Selasanya dan kebanyakan datar pada hari Rabu dengan berita yang memberikan harapan dari Washington.

Matauang sebaliknya nampaknya hampir tidak sadar adanya delegasi perdagangan Cina di Washington untuk pembicaraan yang akan menggerakkan ekonomi global apapun hasilnya.

Bagi pasar saham, hasil dari pembicaraan perdagangan itu adalah dua, kesepakatan adalah baik dan perang dagang adalah tidak baik.

Bagi matauang pengaruhnya tidak langsung. Bagi USD, perang dagang akan mengurangi GDP, hal ini akan merusak sejumlah besar dari perusahaan AS dan ini adalah negatif bagi ekonomi AS dan khususnya dolar AS.

Namun pengaruh ekonomi adalah relatif karena diukur melalui dolar AS, yang adalah berlawanan dengan ekonomi dari para tetangganya. AS berkembang 3.2% pada kuartal pertama, jauh dibandingkan dengan Eropa dan Jepang. Federal Reserve dengan tingkat bunga utamanya 2.5% adalah jauh lebih baik secara posisi untuk mendukung ekonomi apabila diperlukan, dibandingkan dengan ECB atau BoJ. Ekonomi AS, dengan pasar internal yang luas juga kurang tergantung dengan ekspor dibandingkan dengan negara industri utama lainnya.

Selain itu juga ada hal yang khusus di pasar matauang, perdagangan “safe-haven”. Ketka ada kekacauan pada ekonomi global, para trader dan investor matauang berbalik ke USD dan ekonomi Amerika. Contoh yang menonjol adalah naiknya dolar AS pada saat krisis keuangan satu dekade yang lalu.

Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner  Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here