Harga Minyak Turun Terkena Sentimen Bearish

471

(Vibiznews – Commodity) Harga minyak tergelincir pada Senin (17/06) terkena sentimen bearish seperti tanda-tanda perlambatan ekonomi akibat perselisihan perdagangan global yang belum mereda, juga pelemahan permintaan yang mengalahkan sentimen kekhawatiran pasokan yang dipicu oleh serangan terhadap kapal tanker minyak di Teluk Oman pekan lalu.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 35 sen, atau 0,67%, menjadi $ 52,16, setelah menguat sebesar 0,4% pada sesi sebelumnya.

Harga minyak mentah berjangka Brent turun 36 sen, atau 0,58%, menjadi $ 61,65 per barel, setelah naik 1,1% pada hari Jumat.

Pertumbuhan produksi industri China jatuh ke level terendah dalam 17 tahun di tengah ketegangan perdagangan dengan AS. Pasar minyak mencerna kekhawatiran permintaan karena India menerapkan tarif pembalasan pada sejumlah barang AS kemarin.

Juga melemahnya harga adalah prospek redup untuk pertumbuhan permintaan minyak pada 2019 yang diproyeksikan oleh Badan Energi Internasional (IEA) pada hari Jumat, mengutip prospek yang memburuk untuk perdagangan global.

Perkiraan pertumbuhan permintaan 2019 direvisi ke bawah oleh EIA dari 100.000 barel menjadi 1,2 juta barel per hari (bpd) tetapi mengatakan gambaran itu akan membaik memasuki tahun 2020 berkat paket stimulus dan pertumbuhan di negara-negara berkembang.

Meskipun bahaya konfrontasi langsung atas serangan tanker pekan lalu – yang disalahkan Amerika Serikat terhadap Iran tetapi Teheran membantah – tampaknya mereda, ketegangan atas rute strategis tetap tinggi. Seperlima dari minyak dunia melewati Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri A.S. Mike Pompeo pada hari Minggu mengatakan bahwa Washington tidak ingin berperang dengan Iran tetapi akan mengambil setiap tindakan yang diperlukan, termasuk diplomasi, untuk menjamin navigasi yang aman di Timur Tengah.

Harga dapat menerima beberapa dukungan dari komentar Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih pada akhir pekan bahwa OPEC mungkin akan bertemu pada minggu pertama bulan Juli dan bahwa ia berharap akan mencapai kesepakatan mengenai perpanjangan pembatasan produksi minyak.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak plus Rusia dan produsen lainnya, memiliki kesepakatan untuk memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari mulai 1 Januari. Pakta itu berakhir bulan ini dan kelompok itu bertemu dalam beberapa minggu mendatang untuk memutuskan langkah selanjutnya.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan harga minyak mentah berpotensi lemah dengan adanya sentimen bearish kekuatiran perlambatan ekonomi dan pelemahan permintaan. Perang dagang yang masih terus berlangsung juga dapat menekan harga minyak. Harga minyak diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $ 51,70-$ 51,20, dan jika harga naik akan bergerak dalam kisaran Resistance $ 52,70-$ 53,20.

Asido Situmorang, Senior Analyst, Vibiz Research Center, Vibiz Consulting

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here