Prediksi BI Akan Tetap Pertahankan Suku Bunga Acuan

538

(Vibiznews – Banking & Insurance) – Bank Indonesia (BI) akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) mulai besok, Rabu (19/6). Dalam rapat tersebut, BI akan kembali menetapkan kebijakan suku bunga acuan untuk periode Juni 2019.

Kira-kira apa keputusan RDG tentang penetapan suku bunga acuan?

Jika dilihat dari tren penurunan suku bunga acuan beberapa negara, pelaku pasar mengharapkan BI akan mengambil kebijakan serupa. Namun, apa pendapat Ekonom Center of Reform on Economicx (Core) Piter Abdullah? Beliau mengatakan: “ Kondisi Indonesia berbeda dengan negara-negara lain. Pergerakan suku bunga BI beberapa tahun terakhir sangat bergantung pada pergerakan kurs ketimbang inflasi.”

Ia memandang, kondisi nilai tukar rupiah belakangan belum cukup stabil untuk BI menurunkan suku bunga acuannya. Sejak Mei, kurs rupiah terbilang cukup fluktuatif dan cenderung melemah. Hari ini nilai tukar kembali berada di level Rp 14.330 per dollar Amerika Serikat (AS).

Selain itu, Piter juga memproyeksi bank sentral AS, The Federal Reserve, belum akan memangkas suku bunganya dalam keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Kamis (20/6) dini hari mendatang. Piter meyakini, BI tak akan menurunkan suku bunga acuan jika The Fed tak melakukan hal yang sama, sebab mengandung risiko yang lebih besar karena interest rate swap differential akan menyempit dan aliran modal bisa terganggu sehingga kurs rupiah rentan melemah.

Lalu apa langkah yang akan diambil Bank Indonesia dalam hal ini.

Nampaknya Bank Indonesia (BI) belum akan menurunkan suku bunga tahun ini, meskipun ada ruang untuk menurunkan suku bunga mengingat inflasi cukup rendah. Apa dasarnya?

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan ke depan bank sentral masih perlu memperhatikan pasar keuangan global yang masih diliputi ketidakpastian. Terutama karena masih terjadinya perang dagang antara Amerika dan China, Brexit dan kondisi geopolitik lainnya.

“Dan di triwulan II-2019 defisit transaksi berjalan biasanya lebih tinggi. Itu alasan kenapa kami masih mempertahankan suku bunga,” ungkap Perry di depan anggota DPR-RI, Senin (17/6).

Meskipun begitu, Perry tetap berharap kondisi semester II akan semakin membaik, ketidakpastian pasar keuangan global mereda, defisit transaksi berjalan bisa menurun dan arus modal asing akan terus masuk. Sehingga stabilitas eksternal tetap terjaga dan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

 

Belinda Kosasih/ Partner of Banking Business Services/Vibiz Consulting

Editor : Asido Situmorang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here