IMF Peringatkan Lagi Bahaya Perang Dagang; USD Sudah Overvalue 6-12%

402

(Vibiznews – Economy) – IMF atau Dana Moneter Internasional pada Rabu (17/07) menyatakan bahwa dolar AS dinilai terlalu tinggi (overvalued) sebesar 6% hingga 12%, berdasarkan fundamental ekonomi jangka pendek, sementara euro, yen Jepang dan yuan Tiongkok terlihat umumnya sejalan dengan fundamentalnya.

IMF kerap berbeda pandangan dengan Presiden AS Donald Trump mengenai penggunaan tarif untuk menyelesaikan ketidakseimbangan perdagangan, tetapi penilaian IMF kali ini bahwa dolar dinilai terlalu tinggi cenderung mendukung Trump yang sering menyebutkan bahwa kekuatan dolar telah menghambat ekspor AS, demikian rilis Reuters pada Kamis (18/07).

The Fund’s External Sector Report – laporan penilaian tahunan IMF terhadap mata uang dan surplus serta defisit eksternal pada sejumlah ekonomi utama – menunjukkan bahwa surplus neraca berjalan tetap berpusat di kawasan Eropa dan ekonomi maju lainnya seperti Singapura. Sementara itu, defisit neraca berjalan tetap terlihat di Amerika Serikat, Inggris, dan beberapa ekonomi pasar negara berkembang.

Laporan itu mengatakan posisi kreditor bersih (net creditor) telah meningkat lagi, dan sekarang berada di level puncaknya sekitar 20 persen dari PDB global, atau sekitar empat kali dari yang terlihat pada awal 1990-an. Posisi debitur bersih (net debtor) berada pada level yang sama.

IMF sebelumnya telah memperingatkan bahwa perang perdagangan AS-China dapat merugikan ekonomi global sekitar $ 455 miliar tahun depan. Dengan tindakan kebijakan perdagangan baru-baru ini semakin membebani arus perdagangan global, mengikis kepercayaan, dan mengganggu investasi. Tetapi sejauh ini mereka tidak melakukan apa pun untuk membalikkan ketidakseimbangan eksternal tersebut.

Menurut IMF, negara-negara harus bekerja sama untuk menghidupkan kembali upaya liberalisasi dan memperkuat sistem perdagangan multilateral berbasis aturan yang telah berlaku selama 75 tahun terakhir, ketimbang meributkan masalah tariff.

“Sangat penting bahwa semua negara untuk menghindari kebijakan yang mendistorsi perdagangan,” kata IMF Chief Economist Gita Gopinath kepada media. “Tarif yang lebih tinggi menyebabkan kenaikan harga untuk konsumen dan membebani perdagangan global, investasi dan pertumbuhan, termasuk mengikis kepercayaan dan mengganggu rantai pasokan global.”

Dia mengulangi perkiraan IMF bahwa tarif yang diterapkan dalam perang dagang AS-Tiongkok dapat mengurangi 0,5% dari pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2020, demikian dilansir dari Reuters (18/07).

 

Analis Vibiz Research Center melihat bahwa perang dagang yang berlanjut ketidakpastiannya ini telah dan akan semakin menekan perdagangan dan pertumbuhan ekonomi global. Indonesia tidak bisa menghindari dari dampak ini. Karenanya, untuk dapat bertahan dalam pertumbuhan ekonomi yang stabil di sekitar 5%-an itu sudah suatu kinerja ekonomi yang baik. Di sisi lain, overvalue dollar seperti yang disebut IMF, memberikan gambaran arah USD ke depannya. Ditambah lagi dengan peluang pemangkasan suku bunga the Fed di tahun ini –mungkin dalam 3 kali- akan cenderung menekan dollar di pasar uang global nantinya.

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here