Market Outlook, 19-23 August 2019

1186

(Vibiznews – Editor’s Note) – Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau fluktuatif, sempat tergerus lalu rebound hari terakhirnya oleh pidato RAPBN 2020 Jokowi yang ditanggapi positif, dan berakhir konsolidatif, sementara bursa kawasan Asia umumnya melemah oleh kekhawatiran datangnya resesi global. Secara mingguan IHSG ditutup menguat 0.07% terbatas ke level 6,286.657. Untuk minggu berikutnya (19-23 Agustus 2019), IHSG kemungkinan akan melanjutkan penguatannya walau masih di area konsolidasi, dengan tetap mengacu kepada fundamental bursa kawasan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 6404 dan kemudian 6468, sedangkan support level di posisi 6161 dan kemudian 6022.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu cukup fluktuatif dan rebound di hari terakhir, sehingga secara mingguan masih melemah 0.31% ke level Rp 14,235, di minggu keempatnya, sementara dollar di pasar global cenderung perkasa sepekan ini. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan akan berpotensi kembali turun dan berada dalam range antara resistance di level 14,332 dan 14,355, sementara support di level Rp14,175 dan Rp14,061.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data FOMC Meeting Minutes pada Kamis dini hari; disambung dengan rilis Flash Manufacturing PMI pada Kamis malam; berikutnya pidato Fed Chairman Jeremy Powell pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis data Public Sector Net Borrowing pada Rabu sore; diikuti dengan rilis German Flash Manufacturing PMI pada Kamis sore.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis data Monetary Policy Meeting Minutes dari RBA Australia pada Selasa pagi; dilanjutkan dengan pengumuman BI 7-Day Reverse Repo Rate pada Kamis siang yang diperkirakan bertahan di level 5.75%.

 

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar secara umum menguat oleh beberapa rilis data ekonomi Amerika yang kuat seperti retail sales serta oleh merosotnya euro karena pasar khawatir akan ada pemangkasan bunga, yang membuat dollar unggul 2 minggu tertinggi vs euro, dimana indeks dolar AS secara mingguan naik ke 98.20. Sementara itu, pekan lalu euro terhadap dollar terpantau melemah tajam ke 1.1090. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1229 dan kemudian 1.1281, sementara support pada 1.1027 dan 1.0922.

Pound sterling minggu lalu terlihat menguat ke level 1.2150 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.2215 dan kemudian 1.2389, sedangkan support pada 1.2015 dan 1.1980. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir menguat ke level 106.36.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 107.08 dan 109.32, serta support pada 105.05 serta level 104.56. Sementara itu, Aussie dollar terpantau melemah tipis ke level 0.6781. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.6869 dan 0.6917, sementara support level di 0.6676 dan 0.6666.

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum berakhir melemah oleh kekhawatiran pasar akan datangnya resesi global dengan sempat adanya inversi yields US Treasury. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau berakhir melemah ke level 20,418. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 20782 dan 21211, sementara support pada level 20110 dan lalu 19920. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir turun ke level 25,734. Minggu ini akan berada antara level resistance di 26313 dan 27043, sementara support di 24899 dan 24540.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau volatile dan berakhir melemah secara mingguan oleh pasar yang sempat terguncang dengan inversi yields US Treasury yang diprediksi bakal datangnya resesi. Indeks Dow Jones secara mingguan melemah ke level 25,886.01, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 26426 dan 27175, sementara support di level 25339 dan 25373. Index S&P 500 minggu lalu melemah ke level 2,888.68, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2943 dan 3013, sementara support pada level 2822 dan 2800.

Pasar Emas

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau melanjutkan keperkasaannya oleh meredupnya prospek ekonomi global dan tidak jelasnya arah perang dagang, sehingga harga emas spot menanjak ke level $1,513.54 per troy ons, walau beberapa kali digerus profit taking. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistant di $1534 dan berikut $1590, serta support pada $1456 dan $1400.

Isyu sejumlah kebijakan ekonomi moneter dan fiskal, seperti rencana pemangkasan suku bunga, paket stimulus ekonomi, perang tariff impor, dan lainnya menghangat didiskusikan belakangan ini. Bagi kebanyakan orang kadang hal ini sulit dimengerti. Ada kalanya isyu ini mendongkrak harga, adakalanya membanting harga asset investasi. Benar, hal itu dapat saja terjadi. Seringkali spekulasi pasar yang dominan memengaruhi pasar di sini, dan bukannya suatu bentuk ekspekasi yang rasional. Dalam hal ini, Vibiznews.com dapat menjadi konsultan investasi Anda. Ini telah terbukti pada berbagai situasi siklus ekonomi. Terima kasih telah setia bersama dengan kami yang adalah partner sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

Pada minggu ini juga mari kita deklarasikan bersama: “Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 Tahun. NKRI harga mati!” Salam Merdeka!

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here