Terhentinya Rally Kenaikan Harga Minyak Sawit

807

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak sawit kembali turun karena jenuh setelah mencapai 19 bulan tertingginya pada awal pasar hari Kamis, karena penguatan ringgit terhenti dan aksi beli  berkurang

Harga minyak sawit Januari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun 0.4% menjadi 2,485 ringgit ($595) per ton mengakhiri rally  enam sesi berturut-turut.

Penguatan kurs ringgit 0.2% terhadap dolar hari Kamis membuat harga minyak sawit lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

Harga minyak sawit terus rally sampai diatas 2,500 ringgit perton Trading hari Kamis sangat volatile dari terendah di 2,470 ringgit sampai ke tertinggi di 2,514 ringgit sebelum ditutup turun 11 ringgit ke 2,485 ringgit per ton.

Kenaikan harga minyak sawit berjangka dimulai dari pertengahan Oktober dari 2,214 perton naik 13% sampai 2,496 per ton hari Kamis tertinggi 18 bulan.

Kenaikan harga minyak sawit 13% menjadi RM2,496 per ton pada waktu dua minggu ini karena terjadi aksi beli ketika mendengar bahwa persediaan minyak sawit akan turun.

Harga minyak sawit rally karena konsumsi Indonesia dan Malaysia akan meningkat karena penggunaan biofuel sehingga persediaan berkurang

Kenaikan harga minyak sawit pada kuartal keempat ini merupakan surprise karena pada kuartal ke empat biasanya produksi minyak sawit paling banyak di Indonesia dan juga kenaikan pajak impor India mengurangi permintaan terhadap minyak sawit.

Salah satu faktor rally kenaikan harga CPO karena “panic buying” karena kekhawatiran bahwa persediaan di 2020 akan turun.

Faktor kedua  kekhawatiran bahwa perkembangan persediaan akan melambat, pasar minyak sawit masih akan sangat potensial karena konsumen akan menyimpan untuk persediaan Tahun Baru Cina pada 26-27 Januari. Ekspor Indonesia akan menurun karena pemakaian minyak sawit untuk konsumsi biodiesel dalam negeri.

Faktor ketiga Pasar juga melihat akan ada kenaikan harga karena Indonesia mengatakan akan menggunakan 9.6 juta  kl biodiesel di 2020 untuk memenuhi B30, sehingga ada kenaikan 45%  dari 2019. Jika program ini sukses Indonesia akan menaikkan penggunaan minyak sawit sampai 2.6 juta ton di 2020.

Faktor ke empat Ada juga kenaikan dari ekspor minyak sawit Malaysia ke Cina sebesar 36 % dari bulan lalu menjadi 243,738 ton pada 25 hari pertama di bulan Oktober. Kenaikan ini menurut perkiraan SGS Malaysia akibat kenaikan harga minyak kedelai sehingga Cina hanya mengijinkan impor 10 juta ton kedelai AS di bulan Oktober dan perkiraan turunnya penggilingan kedelai di Cina sampai kuartal ke empat di 2019, akibatnya dilakukan impor minyak nabati lainnya termasuk minyak sawit.

Harga minyak sawit Januari di Dalian ditutup naik 0.4% pada hari Kamis, sedangkan harga minyak kedelai turun 0.4%. Harga minyak kedelai di CBOT naik 0.5%.

Analisa tehnikal untuk minyak sawit support pertama di 2,400 ringgit dan berikut ke 2,380 ringgit sedangkan resistant pertama di 2,520 ringgit dan berikut ke 2,540 ringgit.

Loni T / Analyst Vibiz  Research Centre – Vibiz Consulting Group

Editor : Asido

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here