Harga Minyak Sawit Turun Dari Harga Tertinggi Dua Puluh Bulan

444

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak sawit  turun dari harga tertinggi dua puluh bulannya karena menguatnya ringgit dan profit taking di akhir minggu.

Harga minyak sawit Januari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 0.9% menjadi 2,462 ringgit ($591.26) per ton, persentase penurunan terbesar sejak 14 Oktober.

Penurunan harga minyak sawit karena menguatnya ringgit dan profit taking menjelang akhir minggu.

Harga minyak sawit sempat mencapai ke 20 bulan tertingginya pada minggu lalu di 2,505 ringgit per ton, harga tertinggi sejak 2 Maret tahun lalu.

Kenaikan harga minyak sawit pada minggu lalu karena kekhawatiran cuaca kering yang tidak terduga dan peningkatan konsumsi biofuel dari Malaysia dan Indonesia.

Dorab Mistry mengatakan pada hari Jumat bahwa output dari minyak sawit di 2020 diperkirakan akan turun dibanding 2019, karena cuaca kering dan pengurangan pupuk.

Kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia akan mempengaruhi kualitas dari sawit dan produksi minyak sawit tahun ini.

Murahnya harga minyak nabati lainnya mendorong harga minyak sawit turun, Harga minyak sawit Januari di Dalian turun 0.4% pada hari Jumat. Harga minyak kedelai di CBOT naik 0.2%.

Para pembeli juga diperkirakan tidak beralih ke minyak nabati lain karena produksi minyak kedelai dan minyak bunga matahari akan menurun pada 2020.

Harga minyak sawit sempat ke tertinggi 20 bulan pada hari Kamis di 2,514 ringgit per ton tertiggi sejak Maret 2018. Dan ditutup pada 2,485 hari Kamis malam.

Produksi minyak sawit berkurang karena petani kecil menghentikan penggunaan pupuk sejak Agustus 2018, karena kekeringan merupakan faktor utama. Produksi September mengecewakan dan memuncak di bulan Oktober.

Perkiraan produksi minyak sawit Malaysia sampai pertengahan 2020  menurun 1 juta ton dibanding periode yang sama tahun ini, sementara produksi pada akhir 2020 akan tidak berubah, demikian juga yang terjadi di Indonesia karena penghentian pupuk dan cuaca kering maka produksi sampai pertengahan 2020 akan turun 1 juta ton.

Sebelumnya diperkirakan Malaysia dan Indonesia di 2019 produksinya akan meningkat menjadi 20.3 juta ton dan 43 juta ton. Persediaan di Malaysia diperkirakan sebesar 2.5 juta ton di akhir tahun dan dibanding 2.5 juta ton di September.

Hasil survey dari 11 ekonom mengatakan ekspor  minyak sawit September turun 0.1% dari tahun lalu, melemah 0.8% dari bulan lalu.  Import di bulan September diperkirakan naik 1.1% dari tahun lalu recover dari turunnya 12.5% pada bulan sebelumnya. Trade surplus makin melebar menjadi 14.4 milyar ringgit ($3.46 milyar) di bulan September dan di Bulan Agustus sebesar 10.9 milyar ringgit.

RAM rating memperkirakan ekspor Malaysia akan turun 0.6% di bulan September ( di Agustus turun 0.8% )  akibat India membatasi impor minyak sawit dari Malaysia. Terjadi surplus perdagangan sebesar RM 15.3 milyar di akhir bulan.

India adalah yang terbesar dari 8 negara,sebagai tujuan ekspor Malaysia. Ekspor ke India naik 7.1% dari Januari sampai Agustus,  secara keseluruhan penurunan hanya 0.4%.

Ekspor minyak sawit ke India hampir 70%  selama 8 bulan di 2019, dengan kontribusi 11%.

Loni T / Analyst Vibiz Research Centre – Vibiz Consulting Group

Editor : Asido

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here