Harga Minyak Sawit Turun Dari Tertinggi Dua Tahun

557

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak sawit turun dari tertinggi dua tahunnya. Dibawah ini dijelaskan faktor-faktor kenaikan harga minyak sawit selama ini, dan perkiraan bahwa harga minyak sawit masih bisa terus meningkat

Harga minyak sawit di Bursa Malaysia Derivatif turun 20 ringgit (0.76% ) menjadi 2,604 ringgit

CPO mengalami tren turun selama dua tahun terakhir dan mencapai terendah di bulan Juli 2019 di RM1,937 per ton terendah sejak Agustus 2015.  Beberapa bulan terakhir  harga CPO meningkat dan naik ke tertinggi dua tahun di RM2,600 per ton.

Kenaikan harga CPO didorong oleh penurunan dari persediaan dan permintaan biodiesel yang meningkat. Dengan penerapan pajak ekspor di bulan Januari akan mendorong meningkatnya ekspor pada saat ini.

Dari hasil  analisa  harga CPO akan naik antara RM 2,400  sampai RM 2,600 di bulan Nopember.

Persediaan minyak sawit Malaysia  turun 4 % dari bulan lalu dan 5% dari tahun lalu menjadi 2.35 juta ton pada akhir bulan lalu.  Hasil ini masih 5% dibawah CGS – CIMB  research  perkiraan persediaan 2.48 juta ton dan 7 % dan 8% lebih rendah dari laporan Reuters dan Bloomber sebesar 2.52 juta ton dan 2.54 juta ton.

Ini juga pertama kalinya persediaan bulanan turun di bulan Oktober sejak 2011. Turunnya persediaan diluar perkiraan adalah karena turunnya produksi pada periode ini. Produksi CPO di bulan Oktober 1.8 juta ton turu 2.5 % dari bulan lalu dan 8.6% dari tahun lalu. Malaysia, , produksi CPO turun Di Peninsular 12.2% menjadi 887.000 ton, Sabah  turun 6.4% menjadi 476,000 ton, dan Sarawak turun 2.9% menjadi 432,900 ton.

Perkiraan produksi CPO untuk tahun ini rebound menjadi 20 juta ton dari 19.5 juta di tahun 2018. Dari perkiraan research persediaan akan turun lebih lanjut dan akan membuat harga CPO naik jika permintaan produk minyak sawit menguat.

Menurut perkiraan pada 2020 persediaan minyak sawit akan turun secara berkala dari tahun lalu karena meningkatnya ekspor dan meningkatnya konsumsi dari produk minyak sawit, sehingga para petani sangat diuntungkan

Sejak 2016 produksi minyak sawit dari Malaysia dan Indonesia sudah recover, akibat dari curah hujan yang baik dan program penanaman baru dan pemerintah Malaysia memberikan subsidi untuk mengganti tanaman lama yang kurang produktif dan mengalami kesulitan untuk panen.

Setelah tanaman baru ditanam memerlukan waktu tiga tahun sampai tanaman baru tersebut berbuah. Setelah tiga tahun tanaman yang tidak produktif  bisa digantikan maka mulai produksi dari tanaman baru.

USDA mengatakan bahwa diskon harga antara minyak sawit dan minyak kedelai makin melebar, pendapatan dari konsumen di daerah kedua pasar sangat rendah sehingga minyak sawit lebih menarik karena mahalnya minyak nabati lain.

Walaupun India meningkatkan tarif bea masuk impor untuk minyak nabati,  untuk mengatasi hal ini  baik Malaysia dan Indonesia telah mengurangi pajak ekspor dari minyak sawit.

Karena larangan dari Uni Eropa dalam pembelian minyak sawit sehingga mengurangi 3.5 juta ton permintaan  Uni Eropa, sehingga minyak sawit bersaing di dunia dengan minyak kedelai dan minyak nabati lain. Ketatnya persaingan di pasar akan mengurangi permintaan untuk minyak kedelai .

Analisa tehnikal untuk minyak sawit support pertama di 2,501 ringgit dan berikut ke 2,391 ringgit sedangkan resistant pertama di 2,664 ringgit dan berikut ke 2,724 ringgit.

Loni T / Analyst Vibiz Research Centre – Vibiz Consulting Group

Editor : Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here