Market Outlook, 18-22 November 2019

643

(Vibiznews – Editor’s Note) – Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau kembali tertekan aksi jual di minggu ketiganya oleh ketidakjelasan perkembangan nego dagang, sementara bursa kawasan Asia juga umumnya tergelincir dengan maju mundurnya kesepakatan pembicaraan dagang AS – China. Secara mingguan IHSG ditutup melemah 0.80% ke level 6,128.345. Untuk minggu berikutnya (18-22 November 2019), IHSG kemungkinan akan berupaya rebound karena sudah di area oversold-nya, dengan tetap mengacu kepada fundamental bursa kawasan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 6274 dan kemudian 6304, sedangkan support level di posisi 6062 dan kemudian 5997.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terpantau melemah di minggu keduanya walau sempat rebound di akhir pekan, sementara dollar global sempat rally lalu tergerus tajam, sehingga rupiah secara mingguan melemah terbatas 0.07% ke level Rp 14,073. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan menurun, atau bias positif terbatas bagi rupiah, dalam range antara resistance di level 14,135 dan 14,185, sementara support di level Rp13,967 dan Rp13,905.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data Crude Oil Inventories pada Rabu malam; disambung dengan rilis FOMC Meeting Minutes pada Kamis dini hari; berikutnya dengan data Flash Manufacturing PMI pada Jumat malam.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis data ECB Monetary Policy Meeting Accounts pada Kamis sore; diikuti dengan rilis pidato ECB President Lagarde serta Flash Manufacturing PMI Eropa pada Jumat sore.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis data Monetary Policy Meeting Minutes RBA – Australia pada Selasa pagi.

 

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar secara umum melemah oleh berita mendekatnya kesepakatan dalam negosiasi dagang AS – China yang menguatkan mata uang berbasis perdagangan seperti euro dan pound, dimana indeks dolar AS secara mingguan melemah ke 98.00. Sementara itu, pekan lalu euro terhadap dollar terpantau menguat terbatas ke 1.1053. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1140 dan kemudian 1.1180, sementara support pada 1.0941 dan 1.0879.

Pound sterling minggu lalu terlihat menguat ke level 1.2907 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.2977 dan kemudian 1.3014, sedangkan support pada 1.2769 dan 1.2656. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah ke level 108.75.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 109.50 dan 109.94, serta support pada 107.89 serta level 106.48. Sementara itu, Aussie dollar terpantau melemah tipis ke level 0.6820. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.6930 dan 0.6985, sementara support level di 0.6807 dan 0.6707.

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum variatif dan melemah di mingguannya oleh mundur majunya kesepakatan pembicaraan dagang antara AS – China serta juga tekanan dari bursa Hong Kong karena kekacauan politik. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau berakhir melemah ke level 23,303. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 23591 dan 24448, sementara support pada level 22425 dan lalu 21658. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melorot ke level 26,326. Minggu ini akan berada antara level resistance di 27900 dan 28303, sementara support di 26203 dan 25976.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau berakhir menguat dengan mencetak rekor oleh berita bahwa persepakatan dagang AS – China sudah semakin dekat sehingga Dow Jones membukukan gain 4 minggu berturut-turut. Indeks Dow Jones secara mingguan menguat ke level 28,004.89, mencetak rekor tertinggi barunya, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 28050 dan 28100, sementara support di level 27517 dan 26918. Index S&P 500 minggu lalu menguat mencetak rekor ke level 3,120.46, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 3150 dan 3220, sementara support pada level 3065 dan 2976.

Pasar Emas

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau menguat oleh maju mundurnya negosiasi perdagangan dan kemudian tergerus setelah ada berita harapan barunya, sehingga harga emas spot menguat tipis ke level $1,467.86 per troy ons. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistant di $1494 dan berikut $1518, serta support pada $1445 dan $1438.

Dinamika, atau bagi sebagian lainnya gejolak, dari pasar investasi sepertinya semakin fluktuatif saja belakangan ini. Semakin jelas bahwa koreksi pasar memang ada. Rebound atau reversal adalah bagian dari pergerakan pasar. Dalam situasi demikian ini, timing untuk masuk serta keluar pasar (market entry and exit) merupakan komponen kunci keberhasilan investasi. Terpeleset di sini maka keuntungan menjadi tipis atau bahkan kerugian membengkak. Anda, kalau boleh disarankan, perlu teman investasi. Tetaplah bersama kami, karena kami hadir demi sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here