Market Outlook, 25-29 November 2019

381

(Vibiznews – Editor’s Note) – Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau masih tertekan aksi jual di minggu keempatnya dengan ketidakpastian pada perkembangan nego dagang, sementara bursa kawasan Asia juga umumnya mixed juga mencerna beragamnya berita kesepakatan pembicaraan dagang AS – China. Secara mingguan IHSG ditutup melemah 0.46% ke level 6,100.242. Untuk minggu berikutnya (25-29 November 2019), IHSG masih mungkin tertekan tetapi ada peluang rebound kembali bila mendekati di area support-nya, dengan tetap mengacu kepada fundamental bursa kawasan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 6274 dan kemudian 6304, sedangkan support level di posisi 6062 dan kemudian 5997.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terpantau melemah di minggu ketiganya walau sempat rebound di 2 hari terakhir, sementara dollar global secara bertahap menanjak, sehingga rupiah secara mingguan melemah terbatas 0.06% ke level Rp 14,085. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan bisa menurun, atau bias positif secara terbatas bagi rupiah, dalam range antara resistance di level 14,135 dan 14,185, sementara support di level Rp14,015 dan Rp13,967.

Untuk indikator ekonomi global, pada pekan mendatang ini akan diwarnai sejumlah data ekonomi penting. Secara umum sejumlah agenda rilis data ekonomi global yang kiranya perlu diperhatikan investor minggu ini, adalah:

  • Dari kawasan Amerika: berupa rilis data CB Consumer Confidence pada Selasa malam; disambung dengan rilis Chicago PMI dan Prelim GDP q/q pada Rabu malam; berikutnya pasar libur karena merayakan Thanksgiving Day.
  • Dari kawasan Eropa dan Inggris: berupa rilis data German Ifo Business Climate pada Senin sore; diikuti dengan rilis CPI Flash Estimate y/y Eropa pada Jumat sore.
  • Dari kawasan Asia Australia: berupa rilis data Manufacturing PMI China pada Sabtu pagi.

 

 

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar secara umum beranjak menguat di antara berita ketidakpastian kapan kesepakatan negosiasi dagang AS – China akan terlaksana, dimana indeks dolar AS secara mingguan menguat terbatas ke 98.27. Sementara itu, pekan lalu euro terhadap dollar terpantau melemah terbatas ke 1.1023. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1140 dan kemudian 1.1180, sementara support pada 1.0941 dan 1.0879.

Pound sterling minggu lalu terlihat melemah ke level 1.2831 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.2986 dan kemudian 1.3014, sedangkan support pada 1.2769 dan 1.2656. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah tipis ke level 108.65.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 109.50 dan 109.94, serta support pada 107.89 serta level 106.48. Sementara itu, Aussie dollar terpantau melemah tipis ke level 0.6787. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.6836 dan 0.6930, sementara support level di 0.6768 dan 0.6707.

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum mixed sembari pasar mencerna ketidakpastian dalam perkembangan pembicaraan dagang antara AS – China. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau berakhir melemah tipis ke level 23,112. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 23591 dan 24448, sementara support pada level 22425 dan lalu 21658. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir menanjak tipis ke level 26,525. Minggu ini akan berada antara level resistance di 27900 dan 28303, sementara support di 26203 dan 25976.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau berakhir melemah walau terbatas oleh kecemasan pasar terhadap ketidakjelasan persepakatan dagang AS – China. Indeks Dow Jones secara mingguan melemah ke level 27,873.61, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 28090 dan 28130, sementara support di level 27517 dan 26918. Index S&P 500 minggu lalu melemah ke level 3,110.29, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 3127 dan 3150, sementara support pada level 3065 dan 2976.

Pasar Emas

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau terkoreksi oleh penguatan dollar dan bagusnya data manufaktur AS yang mengurangi permintaan terhadap emas, sehingga harga emas spot melemah tipis ke level $1,462.11 per troy ons. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistant di $1494 dan berikut $1518, serta support pada $1445 dan $1438.

Pasar yang terus bergejolak belakangan ini dan sepertinya tidak jelas arahnya membuat hangat diskusi di antara kalangan investor. “Pasar mau ke mana?” begitu yang sering jadi topik hangat diskusi. Memang benar hanya si pasar sendiri yang tahu arah pergerakan pasar. Namun demikian, perilaku pasar dapat dipelajari juga, bukan? Bagi mereka yang telah lama berpengalaman merasakan denyut naik turunnya pasar, biasanya akan cukup bijak untuk melihat pasar dari sudut “bird-eye view”. Vibiznews.com pastinya punya kapabilitas itu sebagai media spesialisasi investasi yang berpengalaman. Mari bersama kami memanfaatkan gerak pasar dan jadilah investor yang ‘profitable’. Tetaplah bersama kami, Anda akan terbantu dalam pengambilan keputusan investasi Anda. Terima kasih pembaca karena telah setia bersama kami, partner sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here