Monthly Review Palm Oil November 2019 : “Up To Two Years High”

343

(Vibiznews  – Commodity )  –  Harga  minyak sawit selama 5 minggu terakhir mengalami kenaikan dimulai dari akhir Oktober sampai di akhir Nopember trennya terus naik  sampai ke tertinggi  dua tahun di RM 2,760 pada hari Senin 25/11/19.

Selama dua tahun terakhir sebenarnya harga minyak sawit mengalami penurunan dan mencapai  terendah di bulan Juli 2019 di RM1.937 perton terendah sejak Agustus 2015, dimulai di akhir Oktober  tren harga minyak sawit mengalami kenaikan. Kenaikan harga di bulan Nopember terjadi  sebesar 42% dari terendah di bulan Juli.

Faktor  Kenaikan Harga Minyak Sawit Mencapai  Rekor Dua Tahun Tertinggi :

  1. Permintaan Bio Diesel.

Pemerintah Indonesia adalah negara yang menggerakkan penggunaan biodiesel, sehingga permintaan biodiesel meningkat di negara-negara sekitar.

Harga CPO meningkat pada saat ini karena momentum yang baik ketika pemerintah dari  the Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), negara-negara produsen minyak sawit, memerintahkan untuk penggunaan biodiesel sehingga penggunaan minyak sawit meningkat.

Pemerintah Indonesia akan menggunakan B30 untuk tahun 2020 sehingga permintaan akan naik menjadi  8.5 juta ton tahun depan, sementara di tahun 2019 ini penggunaan B20 sudah dimulai.

  1. Permintaan negara lain

Ekspor minyak sawit naik 16.4 % menjadi 1.6 juta ton, rebound dari  18.8% penurunan pada bulan September. Kenaikan ini terjadi karena ekspor minyak sawit ke Cina meningkat, minyak sawit  sebagai substitusi dari minyak kedelai yang produksinya turun.  Pembelian meningkat ke Cina karena sebagai persediaan untuk Tahun Baru Imlek.

Permintaan juga meningkat pada akhir tahun dari Cina dan Uni Eropa, karena pembeli mau meningkatkan pembelian sebelum Indonesia dan Malaysia meningkatkan pajak ekspor setelah harga minyak sawit meningkat di atas RM2,250 per ton.

  1. Produksi minyak sawit menurun

Produksi Malaysia turun 1.80 juta ton di bulan Oktober, turun 8 % dari setahun lalu. Turunnya produksi karena cuaca kering dan kabut sehingga produktivitas turun.

Cuaca kering dan  berkurangnya penggunaan dari pupuk membuat penghematan biaya, akan berpengaruh terhadap produksi pada tahun ini bagi produsen besar seperti Indonesia dan Malaysia dan akan merupakan faktor yang akan berlanjut pada tahun yang akan datang.

Yang menjadi masalah adalah tekanan dari NGO melarang penanaman sawit. Ini akan membuat berkurangnya penanaman sawit yang baru yang terjadi pada saat harga masih rendah. Produksi Indonesia tahun ini diperkirakan akan berubah sedikit dari output tahun yang akan datang sedangkan Malaysia  akan berkembang.

  1. Persediaan minyak sawit Oktober turun 4.1% menjadi 2.3 juta ton, persediaan terendah tahun ini setelah di bulan Agustus 2.25 juta ton sesuai data pada hari Senin 18 Nopember dari MPOB karena pengurangan pupuk, kekeringan, kebakaran dan melemahnya produksi di daerah baru tahun ini.

5. Inovasi pembuatan biojet

Malaysia mengatakan bahwa akan memulai produksi biojet fuel dipadu minyak sawit sampai lima tahun ke depan dan  sedang membicarakan potensi ini dengan beberapa partner untuk membangun pabrik ini.

Indonesia sebagai  produsen terbesar juga melihat peluang ini sebagai pasar baru untuk minyak sawit, Indonesia melalui Presiden Jokowi di bulan Agustus meminta kepada menteri-menterinya untuk mempelajari lebih lanjut kemungkinan mencampur minyak sawit untuk biojet fuel. 

Faktor  Penurunan yang menghentikan kenaikan harga minyak sawit :

  • Melemahnya kurs Ringgit terhadap dolar membuat harga minyak sawit juga terhenti kenaikannya pada tanggal 27 Nopember lalu.
  • Turunnya harga produk saingan seperti minyak kedelai, minyak bunga matahari dan minyak nabati lainnya,  supaya laku maka minyak sawitpun harganya ikut turun.
  • Penurunan Impor India

Di 10 bulan pertama 2019, India membeli 4.1 juta ton minyak sawit dari Malaysia, Malaysian Palm Oil Board (MPOB).

Para importer dari India melarang impor minyak sawit dari Malaysia, karena protes terhadap pidato PM Malaysia di PBB  mengenai keterlibatan India di konflik Kashmir.

Impor India dari Malaysia turun 219,956 ton di bulan Oktober dari 310,648 ton di bulan September, dan 550,452 ton di bulan Agustus.

Pedagang India melakukan kontrak pembelian sebesar 700,000 ton CPO untuk  pengiriman Desember dan juga membeli jumlah – jumlah kecil untuk pengiriman Januari kata pedagang di Kuala Lumpur.

Impor minyak sawit India untuk empat bulan ke depan akan turun  karena tingginya harga minyak sawit dan akan diganti ke minyak nabati saingannya seperti minyak kedelai atau minyak bunga matahari. Namun harga minyak sawit menjadi lebih murah ketika ringgit Malaysia melemah sehingga mengurangi kerugian. Ringgit Malaysia sempat turun 0.1% terhadap dolar sehingga harga minyak sawit Malaysia menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri.

Kesimpulan :

Dari hasil review harga minyak sawit dan faktor –faktor penggerak harga maka harga minyak sawit akan bisa terus naik sampai akhir tahun dan berlanjut di tahun 2020 karena peningkatan penggunaan biodiesel.

Loni T / Analyst Vibiz Research Centre – Vibiz Consulting Group

Editor : Asido

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here