Goldman: Rupiah Peluang Investasi Menarik di 2020, Didukung Stabilitas Ekonomi Makro

164
Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Economy) – Goldman Sachs melihat adanya “peluang menarik cukup besar” untuk mata uang rupiah Indonesia pada tahun 2020, demikian menurut seorang strategist investment bank tersebut.

“Jika investor ingin memilih, Anda tahu tentang yield dalam aset Indonesia yang memiliki ekonomi makro yang relatif stabil dalam lingkungan pertumbuhan global. Menurut kami pikir ini adalah ruang permainan yang cukup menarik,” kata Zach Pandl, co-head of global foreign exchange, rates, and emerging markets strategy di Goldman Sachs, sebagaimana dilansir dari CNBC belum lama ini (10/12).

Di domestik, Indonesia dapat disebut sebagai “cerita tentang stabilitas,” Pandl mengatakannya kepada “Squawk Box” CNBC. “Ada stabilitas pertumbuhan. Ada tata kelola pemerintahan yang bagus di Indonesia, serta ada bank sentral yang berusaha menjaga mata uangnya relatif stabil. “

Sebagai diketahui, Bank Indonesia (BI) telah mengurangi reverse repo rate sebesar 100 bp sepanjang tahun 2019, setelah kenaikan 175 bp pada tahun 2018 karena bank sentral berusaha untuk menjaga rupiah di tengah perang dagang AS-China yang meningkat.

Rupiah, yang yang menguat di level Rp13.985/USD pada Jumat pagi hari ini (13/12), tercatat telah naik lebih dari 3,3% sepanjang tahun 2019 ini.

Pandl menyatakan, “Lingkungan global terlihat sedikit lebih baik,” karena situasi perdagangan AS-China tampaknya menuju ke arah yang benar.

“Hal itu membuat kami merasa nyaman bergerak sedikit keluar dari spektrum risiko ke beberapa mata uang (pasar negara berkembang) yang telah kami hindari sejak tahun sebelumnya,” kata Pandl.

Dia menjelaskan bahwa rupiah Indonesia dapat dipilih karena tidak terlalu jauh dari spektrum risiko sementara juga merupakan mata mata uang dengan yield tinggi yang dapat didanai dengan mata uang dengan yield lebih rendah.

Hal tersebut bahkan belum memperhitungkan potensi pergerakan peringkat untuk Indonesia, yang bisa menjadi faktor bullish tambahan, menurut strategist Goldman ini.

“Ini tidak kita diskonto-kan, namun kita masih berpikir untuk long (beli) buat (asset) Indonesia, dengan didanai mata uang yield rendah seperti Taiwan dollar atau euro. Ini akan bisa memberikan peluang return 10% atau sedikit lebih tinggi untuk tahun depan, “kata Pandl.

Analis Vibiz Research Center melihat indikasi penguatan rupiah ke depannya makin nyata terutama pada 2 minggu terakhir yang menguat signifikan sebesar 1,04%, atau 3,35% untuk ytd-nya. Stabilitas ekonomi makro Indonesia bagaimanapun jelas diakui oleh banyak investor global di tengah tren pelambatan pertumbuhan ekonomi dunia yang banyak dikhawatirkan akan meuju resesi pada tahun depan. Nampaknya, Rupiah siap perkasa di kawasan Asia ini.

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here