IHSG Pada Penutupan Hari Terakhir Perdagangan Tahun 2019 Turun 0.47 Persen

662
Vibizmedia Photo

(Vibiznews – IDX Stocks) – IHSG ditutup turun 0.47% atau 29.77 poin ke level 6299.53 demikian juga dengan indeks LQ45 ditutup melemah 0.81% atau 8.24 poin ke level 1014.47. Ada delapan sektor yang ditutup pada perdagangan akhir tahun di zona merah dipimpin sektor pertambangan yang turun 1.07% sementara yang naik hanya dua sektor yaitu sektor agribisnis yang naik 0.23% dan sektor aneka industri yang melemah 0.07 persen.

Di pasar utama Asia, indeks Nikkei 225 Jepang ditutup turun 0.76% atau 181.10 poin ke level 23656.61 sementara indeks Hang Seng ditutup naik 0.33% atau 93.97 poin ke level 28319.39 dan indeks Shanghai SSEC juga melonjak 1.16% atau 34.98 poin ke level 3040.02.

Dari catatan perdanganan terlihat ada 195 saham yang ditutup naik dan lebih banyak di zona merah yaitu 234 saham dan yang stagnan sebanyak 152 saham. Jumlah saham yang dipindahtangankan pada sepanjang perdagangan hari ini ada 16.58 miliar saham dengan nilai Rp.11.44 triliun.

Rupiah di pasar spot ditutup menguat 0.19% ke level Rp.13925 per dolar AS pada akhir perdagangan hari Senin demikian juga dengan kurs tengah dari Bank Indonesia berada di Rp.13945 per dolar AS. Di Asia rupiah kompak menguat bersama mayoritas mata uang negara Asia lainnya dengan baht memimpin penguatan terbesar yaitu 0.47 persen.

Harga emas hari ini naik ke level tertinggi dalam lebih dua bulan terakhir. Kemerosotan dolar dan serangan militer Amerika Serikat di Timur Tengah mendoron investor pindah ke aset safe haven. Di pasar spot berada di USD 1512.65 per ons troi, naik 0.14% dari penututupan kemarin. Sebelumnya harga emas sempat menyentuh posisi tertinggi sejak 25 Oktober di USD 1515.80. Harga emas sudah naik hampir 18% pada tahun ini dan berada di jalur kenaikan tertinggi sejak 2010 terutama karena perang tarif AS-China selama 17 bulan dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Perdagangan Saham Tahun 2019 Ditutup dengan Menyongsong Optimisme Tahun 2020. Dengan optimisme akan perkembangan Pasar Modal Indonesia lebih baik pada tahun 2020 yang akan datang, Perdagangan Saham tahun 2019 ditutup oleh Menteri Perdagangan Republik Indonesia (RI) Agus Suparmanto yang mewakili Presiden RI, di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini, Senin (30/12). Tahun 2019 merupakan tahun yang penuh dinamika dan memiliki sejumlah tantangan, sehingga memberi dampak terhadap kinerja Perusahaan Tercatat di BEI maupun terhadap pergerakan IHSG di sepanjang tahun 2019. Kendati demikian, BEI kembali berhasil mencatatkan sejumlah pencapaian yang membanggakan bagi kemajuan Pasar Modal Indonesia.

Hal tersebut tercermin dari peningkatan jumlah investor saham yang meningkat 30 persen menjadi 1,1 juta investor saham berdasarkan Single Investor Identification (SID). Sampai saat ini jumlah total investor di Pasar Modal meliputi investor saham, reksa dana, dan surat utang telah mencapai 2,48 juta investor (SID) atau naik lebih dari 50% dari tahun 2018 yakni sebanyak 1,62 juta investor. Selain itu, sepanjang tahun 2019 terdapat 55 Perusahaan Tercatat saham baru, dan merupakan aktivitas pencatatan saham baru (IPO saham) tertinggi di antara bursa-bursa di kawasan Asia Tenggara dan peringkat 7 di dunia. Atas pencapaian tersebut, total jumlah Perusahaan Tercatat saham di BEI di penghujung tahun 2019 mencapai 668 perusahaan. Selanjutnya, aktivitas pencatatan efek di BEI di tahun 2019 juga diikuti oleh 14 pencatatan Exchange Traded Fund (ETF) baru, 2 Efek Beragun Aset (EBA), 2 Obligasi Korporasi Baru (diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat yang baru pertama kali mencatatkan efeknya di bursa), 2 Dana Investasi Real Estate Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (DIRE-KIK) dan 1 Dana Investasi Infrastruktur Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (DINFRA). Dengan demikian, terdapat 76 pencatatan efek baru di BEI sepanjang tahun 2019, atau melebihi dari target 75 pencatatan efek baru yang direncanakan.

Aktivitas perdagangan BEI di tahun 2019 juga mengalami peningkatan yang tercermin dari kenaikan rata-rata frekuensi perdagangan yang tumbuh 21 persen menjadi 469 ribu kali per hari dan menjadikan likuiditas perdagangan saham BEI lebih tinggi diantara Bursa-bursa lainnya di kawasan Asia Tenggara. Pada periode yang sama, Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) turut meningkat 7% menjadi Rp9,1 triliun dibandingkan tahun 2018 yang sebesar Rp8,5 triliun.

Pencapaian BEI lainnya pada tahun 2019 yakni memberikan dukungan insentif untuk meningkatkan likuiditas transaksi ETF di pasar sekunder, peluncuran indeks baru sebagai acuan investasi yakni IDX Value 30 & Growth 30, dan terakhir BEI telah mengimplementasikan protokol perdagangan berstandar global yakni FIX 5, ITCH & OUCH pada 2 Desember 2019.

Seremonial Penutupan Perdagangan Saham BEI Tahun 2019 ini turut dihadiri oleh Menteri Keuangan RI beserta Jajaran Menteri Kabinet Indonesia Maju, Wakil Ketua dan Anggota Dewan Komisioner OJK, Ketua dan Pimpinan Komisi XI DPR RI, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan, Gubernur DKI Jakarta, Komisaris dan Direksi SRO, serta pelaku industri jasa keuangan.

Selasti Panjaitan/Vibiznews
Editor : Asido Situmorang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here