Outlook Emas 2020 – Seberapa Tinggi Harga Emas Bisa Naik?

2711

(Vibiznews – Column) Akhir tahun 2019 akan segera berlalu. Tahun 2020 sudah di depan mata. Dari dua Column mengenai emas yang berjudul: “Puncak Emas Tertinggi 2019, Akankah Terlewati Pada Tahun 2020? “ dan “Sentimen Bullish/Bearish Emas 2019 & Pengaruhnya Bagi Investasi Anda Pada  2020”, kita telah mempelajari pergerakan naik dan turun harga emas pada tahun 2019 dan sentimen apa yang ada dibelakang pergerakan naik dan turun harga emas tersebut. Bagaimana dengan tahun 2020? Apa yang akan terjadi pada tahun 2020 yang bisa mempengaruhi harga emas?

2019

Emas mengakhiri tahun 2019 dengan keuntungan sebesar dua digit dan kemungkinan akan mempertahankan arah naik ini. Emas berada disekitar 5,6% dibawah puncak harga pada bulan September sebelum mengalami kenaikan yang signifikan pada hari Jumat minggu lalu, memegang keuntungan tahunan sebesar 16,5% dari puncak 21% selama 12 bulan.  Harga emas sebelum kenaikan pada hari Jumat minggu lalu,  sedang berkonsolidasi dengan para trader menunggu picuan fundamental yang baru untuk menyalakan pergerakan emas yang besar berikutnya.

Tahun 2019 yang sudah akan segera berlalu, akan diingat untuk eskalasi perang dagang AS-Cina, ketakutan akan resesi yang “persistence”, dan yang terlebih penting lagi adalah berbaliknya Federal Reserve AS menjadi sangat “dovish”.

Federal Reserve AS telah menaikkan tingkat bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Desember 2018 dan mengatakan akan membuat dua kali kenaikan lagi pada tahun 2019. Namun bank sentral AS ini membalikkan arahnya pada kuartal pertama 2019 dan memberikan konfirmasi akan penghentian kenaikan tingkat bunga selanjutnya.

Emas hanya naik 0.76% di kuartal pertama, dengan penghentian kenaikan tingkat bunga telah diperhitungkan dalam harga di kuartal terakhir dari tahun 2018, namun selanjutnya mendapatkan pembelian yang kuat dan naik 9 persen selama periode April sampai Juni dengan pasar terus menaikkan taruhan akan dipangkasnya tingkat bunga.

Dan benar the Fed memangkas tingkat bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Juli – pemotongan tingkat bunga yang pertama sejak 2008 sejak 2008 – dan mengumumkan pengurangan tingkat bunga seperempat poin di bulan September dan Oktober. Sebagai akibatnya, emas turun 4.48% di kuartal ketiga.

Selain dari sikap the Fed yang berbalik “dovish”, metal berharga juga mendapatkan dorongan naik dari permintaan “safe-haven” karena perang dagang AS-Cina yang menghasilkan ketakutan akan resesi di dalam dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia.

Sepanjang tahun, pendulum dari berita-berita sehubungan degan perdagangan terus berayun antara dua kubu dengan beberapa kali menyangka berita-berita yang positip beberapa kali. Ketidak pastian dan volatilitas pasar memberikan dukungan yang positip bagi emas.

Sementara itu, kurva imbal hasil, yang telah mengalami inversi pada bulan Desember 2018, terus membuat pembicaraan mengenai resesi tetap hidup sepanjang tahun. Kadang-kadang perlambatan ekonomi Jerman juga menarik perhatian para trader emas.

2020

Bagaimana pengaruh sentimen pasar yang menyebabkan terjadinya pergerakan “bullish” dan “bearish” tersebut pada tahun 2020? Akankah rekor tertinggi emas pada tahun 2019 ini terlewati pada tahun 2020? Bagaimanakah kita menyiapkan diri agar jangan sampai keuntungan dari emas lewat begitu saja di depan mata kita?

Bank Sentral Utama Dunia

Seberapa jauh harga emas bisa naik? Untuk mengukur seberapa jauh harga emas bisa naik pada tahun 2020, kita perlu memperhatikan rencana kebijakan moneter para bank sentral utama dunia.

a. Federal Reserve AS Yang “Dovish”

Pada awal bulan Desember ini, bank sentral AS telah memberikan signal untuk menghentikan pemangkasan tingkat suku bunga AS pada tahun 2020 yang akan datang. Sebagai akibatnya, sebagian pengamat  kuatir bahwa tahun depan ternyata akan menjadi tahun yang sulit bagi harga emas untuk naik tinggi. Dengan tingkat bunga yang tidak lagi diturunkan, maka tekanan turun terhadap dolar AS terhenti. Dolar AS yang cenderung naik akan menekan harga emas pada gilirannya nanti.

Hal ini terbukti dengan pergerakan “bearish” gelombang kedua yang terjadi setelah bulan September 2019.

Pergerakan Federal Reserve dari sikap “dovish” ke “netral” ini adalah negatif bagi emas. Kemungkinan pemangkasan tingkat bunga yang semakin kecil, mendorong dolar AS dan imbal hasil Treasury naik dan membuat emas turun.

Sekalipun bank sentral secara resmi telah mengumumkan akhir dari siklus pelonggara, pada kenyataannya, tidak mungkin bagi Federal Reserve AS untuk segera menaikkan tingkat suku bunga. Pada kenyataannya, Gubernur the Fed, Powell mengatakan bahwa rintangan untuk menaikkan tingkat bunga lebih besar daripada menurunkannya. Powell pada tanggal 11 Desember mengatakan bahwa  the Fed akan mengijinkan inflasi untuk terus memanas dan hanya akan mulai mempertimbangkan kenaikan tingkat suku bunga jika inflasi secara persisten tetap bertahan diatas target 2%. Sekalipun terjadi kenaikan inflasi, the Fed kemungkinan tidak akan tergesa-gesa untuk menaikkan tingkat bunga. Kemungkinan the Fed akan membiarkan inflasi naik sampai 3-4% sebelum mengambil langkah untuk mengatasinya.

Secara sederhananya, pada kenyataannya the Fed masih bersandar pada sikap agak “dovish” dan hal ini kemungkinan akan mendukung kenaikan harga metal kuning pada tahun 2020.

b. Bank Sentral Utama Dunia Lainnya

Bank sentral utama dunia lainnya seperti Bank of Japan (BoJ), European Central Bank (ECB), dan Swiss National Bank (SNB) sudah menjalankan kebijakan moneter tingkat bunga yang negatif dan kelihatannya telah kehabisan amunisinya.

Sebagai contoh, BoJ sedang menjalankan program Quantitative Easingnya untuk tahun ke tujuh berturut-turut dan sekarang sedang menguasai sebagian besar dari pasar ETF. Meskipun demikian, inflasi tetap bermil-mil jauhnya dari target 2 persen.

Jadi, ada pertumbuhan ketakutan di pasar bahwa bank-bank sentral utama dunia ini hanya akan bisa menjadi penonton apabila terjadi resesi pada tahun 2020. Apa yang paling bisa dilakukan adalah memangkas tingkat bunganya masuk ke teritori negatif yang lebih dalam lagi, membuat metal kuning yang tidak memberikan imbal hasil menjadi lebih menarik.

Sudah ada hutang dengan imbal hasil yang negatif dalam jumlah yang banyak diseluruh dunia, yang menciptakan latar belakang yang akan mendukung kenaikan harga emas.

Terlebih lagi, tingkat bunga juga mengarah kepenurunan di Australia dan Selandia Baru dan juga di negara-negara Asia Tenggara.

Lingkungan dengan tingkat bunga yang rendah di seluruh dunia seperti sekarang ini seharusnya masih akan menolong metal berharga. Apalagi kalau the Fed sampai menurunkan kembali tingkat bunganya, emas akan naik lebih tinggi lagi. Karena emas berfungsi sebagai matauang keras dan orang akan mulai mendevaluasi matauang kertas.

Pada saat bank-bank sentral dunia terus memberikan stimulus dan mendevaluasi matauang mereka, hal ini menguntungkan bagi emas. Sejumlah besar dari hutang yang memberikan imbal hasil yang negatif diseluruh dunia akan menciptakan latarbelakang yang baik bagi kenaikan harga emas.

Penghentian Pemangkasan Tingkat Suku Bunga Telah Diperhitungkan Dalam Harga

Pergerakan bullish gelombang kedua yang dimulai dari bulan Juni sampai dengan bulan September 2019 yang membawa naik harga emas sampai kepada rekor tertinggi selama 6 tahun di $1,556.20, yang disebabkan karena ekspektasi pasar yang memperkirakan bahwa the Fed bukan saja menghentikan kenaikan tingkat bunganya melainkan akan menurunkan tingkat bunganya. Ekspektasi pasar ini terbukti dengan the Fed melakukan tiga kali pemangkasan tingkat bunga dari awal Agustus sampai dengan bulan Oktober masing-masing sebanyak 0.25 basis poin.

Kejatuhan harga metal kuning berharga dari ketinggian bulan September 2019 diatas $1,550 ke $1,440 pada bulan November menunjukkan bahwa pasar telah memperhitungkan di dalam harga rencana the Fed untuk menghentikan pemangkasan tingkat bunga ini.

Ekspansi Neraca The Fed

Neraca the Fed kemungkinan akan menyentuh rekor ketinggian diatas $4.516 triliun pada bulan Mei 2020 jika kecepatan dari ekspansi neraca the Fed yang sudah berlangsung selama 3,5 bulan ini berkelanjutan.

The Fed mulai membeli “treasury” pada pertengahan September untuk menenangkan pasar uang dan telah memperluas neracanya dengan lebih dari US$ 330 miliar sejak bulan September. Saat ini neraca Federal Reserve telah mencapai US$4.10 triliun.

Secara historis, program ekspansi neraca the Fed (QE1, QE2, dan QE3) telah membuat penawaran beli yang kuat atas metal kuning. Sebagai contoh, the Fed mulai memperluas neracanya pada tahun 2009, dimana neraca the Fed semula hanya dibawah $1triliun. Pada tahun 2014 telah meningkat menjadi $4,5 triliun.

Selama kurun waktu itu, emas naik dari $800 menjadi $1200, setelah mencapai puncaknya direkor ketinggian $1,921 pada bulan September 2011. Turunnya kembali harga emas dari rekor ketinggian menjadi $1200 terutama disebabkan karena “taper tantrum” yang dilakukan oleh the Fed yang merupakan kebalikan dari QE.

Permintaan Emas Fisik

Kunci yang besar untuk tahun 2020 adalah pemintaan emas fisik ritel di dalam bentuk batangan dan koin, khususnya pada semester kedua tahun 2020. Hal ini akan membayangi dibelakang pembelian emas di bursa. Jika kita melihat ke belakang pada tahun 2011 dan 2012 dimana terjadi kenaikan harga emas tertinggi, sesungguhnya hal itu terjadi digerakkan oleh investor ritel emas fisik. Mereka sedikit lambat di dalam mengakumulasikan pembelian emas fisik pada awalnya. Namun sekali mereka mendapatkan konfirmasi bahwa ekonomi global melambat dan the Fed terus bertahan untuk tidak menaikkan tingkat bunga atau bahkan menurunkan tingkat bunganya, investasi ritel emas fisik akan mulai naik. Selain dari investor ritel, pemintaan emas fisik juga ada dari bank-bank sentral di dunia. Permintaan emas fisik oleh bank-bank sentral di dunia kemungkinan tetap kuat pada tahun 2020. Sementara permintaan emas fisik dari India kemungkinan tidak begitu kuat, permintaan dari Cina diperkirakan akan membaik pada tahun 2020.

Pasar Saham AS Yang Sudah Terlalu “Bullish”

“Bullish” pasar saham AS yang sudah dimulai sejak bulan Maret 2009 mencetak rekor terlama. Besarnya “rally” saham AS menjadi bertambah tidak realistis dan bisa memaksa para investor untuk mendivesifikasi resiko investasinya ke emas. Dengan saham-saham Amerika Serikat khususnya, mencetak rekor ketinggian, banyak investor akan mulai mempertanyakan seberapa lama “bullish” saham ini akan bisa berlangsung? Kita pasti akan melihat lebih banyak permintaan akan emas yang berfungsi sebagai asuransi pada saat harga saham sudah melambung tinggi dalam waktu yang cukup lama, kalau-kalau tiba-tiba terjadi koreksi yang dalam dan cukup lama di pasar saham. Ini sudah mulai terlihat dengan kenaikan harga emas menjelang akhir tahun.

Walaupun hari Kamis, tanggal 26 Desember, hari perdagangan masih pendek, dengan pasar ditutup sekitar pukul 02:00 pm, hal ini tidak bisa menghentikan para trader terus memperdagangkan emas naik lebih tinggi. Selama dua hari terakhir kita melihat emas naik $25, termasuk keuntungan lebih dari $15 per ons pada hari kemarin, dengan emas sekarang diperdagangkan disekitar $1,510 per ons.

Pada hari Jumat, tanggal 27 Desember, emas melanjutkan kenaikannya dan diperdagangkan terakhir pada $1,516.10 per ons, naik 2.4% pada minggu lalu.

kenaikan harga emas beberapa hari belakangan ini adalah karena para trader emas memposisikan pertahanan menjelang liburan Natal selain adanya permintaan yang terpendam untuk metal kuning berharga.

Dengan mempertimbangkan saham-saham AS telah naik ke rekor ketinggian sepanjang masa selama beberapa minggu terakhir, para analis percaya bahwa kenaikan harga emas disebabkan langkah protektif mengantisipasi jatuhnya harga saham pada permulaan tahun baru 2020.

Sebagian trader sedang mempersiapkan perdagangan di tahun 2020 dan memandang ini adalah waktu yang baik untuk membeli emas sebagai lindung nilai atas taruhan mereka setelah naiknya indeks saham dengan kuat belakangan ini. Setelah tahun yang kuat di tahun 2019 dimana setiap “assets class” naik dua digit, mungkin ini adalah waktunya berhati-hati dan melakukan semacam pertahanan dan melindungi resiko pada saat masuk ke tahun 2020.

Emas berhasil mengejutkan para trader sekali lagi pada tahun ini dengan harga mengalami rally bersamaan dengan pasar saham yang mencetak ketinggian pada minggu lalu. Para analis melihat rally ini akan masih berlanjut dengan lebih banyak keuntungan selama minggu pertama dari tahun yang baru.

Kemungkinan Badai Menerpa Harga Emas

a. Optimisme Kemajuan Perang Dagang AS-Cina

Setelah tercapainya kesepakatan perdagangan AS-Cina fase pertama, ketegangan perdagangan antara AS dengan Cina mereda. Di dalam kesepakatan perdagangan fase pertama, Amerika Serikat akan memangkas setengah dari penalti tarif 15% atas $300 miliar dari impor Cina yang dikenakan pada bulan September yang lalu dan telah membatalkan pengenaan tarif yang lebih besar, yang akan berlaku mulai dari bulan ini.

Agen-agen berita sedang melaporkan bahwa negosiator perdagangan Cina, Liu He akan memimpin delegasi perdagangan Cina ke Washington pada hari Sabtu yang akan datang, kemungkinan akan menandatangani persetujuan perdagangan fase pertama.

Kelihatannya pada bulan-bulan pertama 2020, tidak ada sesuatu yang baru yang akan meningkatkan ketegangan perdagangan. Hubungan AS-Cina kemungkinan akan terus berlanjut seperti akhir tahun 2019 pada bulan-bulan awal 2020.

Namun bulan-bulan selanjutnya tergantung pada implementasi dari kesepakatan tahap pertama. Cina telah berjanji untuk membeli barang-barang AS dalam skala yang luas. Banyak orang percaya bahwa kesepakatan dagang fase pertama banyak “window dressing”nya dan tidak merambah ke isu struktural seperti pencurian properti intelektual, subsidi negara bagian dan dukungan untuk inisiatif industri. Isu yang sesungguhnya dari perang dagang antara AS dan Cina khususnya masih jauh dari terselesaikan dan hal ini akan terus menambah ketidakpastian di pasar keuangan dan akan baik pengaruhnya bagi kenaikan harga emas.

b. Meningkatnya Pertumbuhan Ekonomi Global

IMF dan para peramal lainnya memperkirakan 2020 akan menjadi tahun yang lebih baik daripada tahun 2019. Pasar juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan mengalami “rebound” pada tahun 2020. Tembaga, yang berkorelasi erat dengan prospek pertumbuhan global telah naik 13 persen sejak turun ke dasar di $2,47 pada awal September. Imbal hasil obligasi, indikator yang baik dari optimisme juga telah meningkat diseluruh dunia.

Selain itu, belakangan ini data makro ekonomi yang dirilis juga memberikan indikasi bahwa penurunan ekonomi global sedang menuju akhir, namun tidak ada tanda-tanda pemulihan yang menarik perhatian. Lebih jauh lagi, antusiasme dari para investor seringkali terlalu besar dan cenderung untuk berlari terlalu kedepan.

Dan yang tidak bisa dilupakan selain optimisme kemajuan perdagangan masih penuh dengan “window dressing” dan banyak hal-hal struktural yang belum terselesaikan, adalah Brexit yang keras masih mengancam dan juga pemilihan Presiden AS bisa menggoyang pasar saham, sehingga membawa naik harga emas. Melihat ke Inggris, walaupun Boris Johnson saat ini menguasai mayoritas untuk menggolkan Brexit, para investor masih tidak tahu pengaruh dari meninggalkan Uni Eropa terhadap ekonomi Inggris. Di era yang penuh dengan ketidakpastian ini, emas bisa mengalami “rally” jangka panjang yang berkelanjutan.

Ekonomi global bisa jadi mulai melambat lagi pada periode akhir tahun 2020 yang berarti berpotensi terjadi pemangkasan tingkat bunga kembali. Dolar AS bisa mulai melemah karenanya, walaupun tidak dramatis. Imbal hasil “treasury” juga kemungkinan akan turun pada paruh ke dua tahun 2020. Probabilita the Fed akan memangkas tingkat bunganya lagi juga dimungkinkan dengan adanya kemungkinan perlambatan ekonomi pada kuartal kedua 2020 dan tekanan politik menjelang pemilihan presiden AS pada kuartal kedua 2020.

Di dalam semuanya badai yang mengancam, kemungkinannya masih lebih akan mendukung kenaikan harga emas. Penurunan yang disebabkan karena optimisme perdagangan, pertumbuhan ekonomi global yang membaik, jikalaupun terjadi, kemungkinan akan singkat saja waktunya.

Keuntungan Tehnikal Jangka Panjang

Emas masih menikmati keuntungan tehnikal jangka panjang. Memasuki permulaan kuartal terakhir 2019 kita melihat harga emas mengalami tren turun dari ketinggian tahunan di $1,556.20 yang dicapai pada bulan September. Para trader emas tidak perlu berkecil hati, karena meskipun pada waktu itu postur tehnikal dalam jangka pendek yang terbaik sekalipun adalah netral pada saat dilihat dari grafik harian, namun secara jangka panjang berdasarkan grafik mingguan dan bulanan, masih menunjukkan tren naik sejak kerendahan harga emas di tahun 2015 (berdasarkan grafik bulanan) dan kerendahan di tahun 2018 (grafik mingguan) dan pada tahun ini mencapai ketinggian selama enam tahun. Sejak tahun 2015, harga emas telah mengalami “tren” naik, sekalipun di tengah kondisi yang “chopy”. Grafik emas mingguan dan bulanan pada saat ini masih “bullish” secara tehnikal keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa outlook emas pada tahun depan 2020 masih dalam tren “sideways” menuju ke naik lebih tinggi pada minggu-minggu dan bulan-bulan yang akan datang bahkan lebih lama lagi. Apalagi dengan berbaliknya tren harga emas beberapa hari terakhir menjelang akhir tahun ini dimana pada hari Kamis, tanggal 26 Desember, ditengah hari perdagangan yang  pendek, dengan pasar ditutup sekitar pukul 02:00 pm, hal ini tidak bisa menghentikan para trader terus memperdagangkan emas naik lebih tinggi. Selama dua hari terakhir sampai pada hari Kamis, kita melihat emas naik $25, termasuk keuntungan lebih dari $15 per ons pada hari Selasa, dengan emas pada hari Kamis diperdagangkan disekitar $1,510 per ons.  Dan pada hari Jumat, tanggal 27 Desember, emas melanjutkan kenaikannya dan diperdagangkan terakhir pada $1,516.10 per ons, naik 2.4% pada minggu lalu. Pembalikan arah tiba-tiba ini telah mengubah grafik harian emas yang semula “bearish” menjadi “bullish” menjelang memasuki hari yang baru pada tahun yang baru 2020. Emas berhasil mengejutkan para trader sekali lagi pada tahun ini dengan harga mengalami rally bersamaan dengan pasar saham yang mencetak ketinggian pada minggu lalu. Para analis melihat rally ini akan masih berlanjut dengan lebih banyak keuntungan selama minggu pertama dari tahun yang baru. Harga Emas Nampaknya Siap Memulai Tahun Yang Baru Dengan Kejutan.

Sejauh Mana Harga Emas Akan Bisa Naik Pada Tahun 2020?

Para analis memperkirakan harga emas akan naik pada tahun 2020.

Suki Cooper, analis metal berharga dari Standard Chartered, melihat harga emas rata-rata berada pada $1,510 per ons pada kuartal pertama 2020, kemudian naik ke rata-rata $1,570 pada kuartal keempat tahun 2020. Harga emas rata-rata setahun adalah di $1,536.

Kevin Grady, veteran pasar emas selama 30 tahun dan presiden dari Phoenix Futures and Options LLC, melihat potensi emas untuk menantang level $1,550 lagi. Dan apabila penggerak naiknya bukan “event” yang cuma satu kali, melainkan situasi jangka panjang, emas bisa naik berkelanjutan sampai sekitar $1,600.

Beberapa bank utama dunia, melihat emas bisa mencapai $1,600. ABN AMRO memperkirakan emas akan naik pada awal tahun, kemudian akan naik lebih tinggi lagi pada saat ekonomi melambat pada semester kedua tahun 2020. Sementara Dutch Bank memperkirakan harga rata emas pada tahun 2020 ada di sekitar $1,500 dengan harga emas naik dari $1,400 pada bulan Maret sampai ke $1,600 pada bulan Desember. Commerzbank melihat emas bisa menyentuh $1,550 pada kuartal keempat tahun 2020 dengan the Fed memangkas tingkat bunga pada kuartal kedua.

TD Securities mengatakan mereka memperkirakan the Fed akan menurunkan tingkat bunganya dua kali pada tahun 2020, walaupun emas kemungkinan bisa berhenti naik untuk sementara karena the Fed tidak lagi menurunkan tingkat bunganya pada awal tahun 2020. Namun pada akhirnya harga emas bisa mencapai $1,650 pada tahun 2020. Sementara Goldman Sachs mentargetkan harga emas berada pada level $1,600 per ons pada tahun 2020.

Aberdeen Standard Investment mengatakan emas bisa diperdagangkan diantara $1,600 – $1,700 pada tahun 2020. Naiknya harga emas ada di depan mata dengan metal berharga berada pada era yang baru dari tingkat bunga yang rendah dan ketidakpastian pasar, sekalipun optimisme investor telah membaik dengan ketakutan akan resesi berkurang pada beberapa bulan terakhir dari tahun 2019. Steve Dunn, kepada produk yang diperdagangkan dibursa dari Aberdeen Standard Investment di dalam interviewnya dengan Kitco News, mengatakan bahwa harga emas bisa terdorong naik sampai ke $1,700 per ons pada akhir tahun 2020 yang akan datang, karena masih ada cukup banyak ketidakpastian geopolitik yang menarik permintaan akan emas yang “safe-haven”.

Phil Flynn, analis pasar senior di Price Futures Group, mengatakan bahwa the Fed kelihatannya fokus untuk mempertahankan tingkat bunga tetap rendah, dengan demikian mengijinkan inflasi untuk bertumbuh. Pada kenyataannya the Fed sedang mengirimkan signal bahwa mereka akan mengijinkan inflasi memanas sehingga apabila target inflasi sebesar 2% telah tercapai, mereka masih akan mengijinkan untuk tingkat inflasi naik ke 3% bahkan sampai 4% sebelum mengambil tindakan untuk mengeremnya. Naiknya inflasi akan memicu pembelian emas sebagai lindung nilai terhadap kenaikan harga-harga barang. Sementara tingkat bunga yang dibiarkan tetap rendah oleh the Fed juga membantu menaikkan harga emas, karena dengan menahan diri dari  membeli USD akan mengurangi apa yang dinamakan dengan “opportunity cost”, yang berupa hilangnya penghasilan bunga, dengan memegang asset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas. Flynn memperkirakan harga emas rata-rata bergerak disekitar $1,550 pada tahun 2020. Dia memandang tahun 2020 merupakan tahun yang sangat positip bagi emas, mungkin tidak meledak, tetap kita ada di situasi dimana emas bisa berlari naik sampai ke $1,600, atau $1,700 bahkan sampai ke $1,800 pada tahun yang baru 2020.

Dengan deimikian rentang harga emas bisa bergerak dari kerendahan pada bulan April di $1,265 sampai ke ketinggian yang ditargetkan melalui berbagai macam metode prediksi harga emas tertinggi di $1,850. Untuk pergerakan naik harga emas harus menghadapi terlebih dahulu “resistance” di ketinggian bulan September 2019 di $1,557 dan berikutnya adalah “resistance” yang solid secara psikologis di $1,600. Sedangkan pergerakan turun harga emas harus menghadapi terlebih dahulu “support” di kerendahan bulan November di $1,445, kemudian adalah “support” yang solid secara psikologis di $1,400 dan $1,300 sebelum akhirnya mencapai $1,265.

Akhir kata, kami mengucapakan selamat tahun baru 2020 kepada semua pembaca Vibiz yang setia. Selamat berinvestasi. Selamat menikmati keuntungan dari kenaikan harga emas di tahun 2020. Sukses selalu. Salam Vibiz.

Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner  Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here