Kemana EUR/USD, GBP/USD, USD/JPY Bergerak Di Tahun 2020 Paska Serangan AS & Pembalasan Iran?

1337

(Vibiznews-Column) Tahun baru dimulai dengan kejutan yang besar.  Dolar AS yang “safe-haven” mengalami kenaikan karena ketakutan akan memanasnya perang di Timur Tengah sehubungan dengan terbunuhnya jendral Iran Qassem Suleimani. Meskipun beberapa hari kemudian “greenback” mengalami penurunan kembali, namun penurunannya kemungkinan hanyalah suatu koreksi karena para trader melakukan aksi ambil untung dan selain itu  ketegangan di Timur Tengah masih tetap tinggi. Teheran telah mengumumkan akan meninggalkan semua batasan yang dibuat sejak kesepakatan nuklir dan bersumpah untuk membalas kematian Suleimani. Instalasi minyak Saudi dan tanker-tanker yang lewat Selat Hormuz kemungkinan akan menghadapi resiko.

Presiden AS Donald Trump telah mengancam Iran dengan “serangan yang tidak proporsional” dan para trader EUR/USD berhati-hati akan pergerakan selanjutnya. Dolar AS yang “safe-haven” tetap di dalam permintaan sementara harga minyak naik tinggi. Harga minyak yang naik tinggi dan perang terbuka bisa memukul ekonomi global.

Trump juga mengancam Irak dengan sanksi-sanksi, setelah parlemen dari negara yang tercabik dengan perang itu meloloskan undang-undang yang meminta keluarnya pasukan Amerika Serikat dari teritorinya. Pembunuhan terhadap Suleimani terjadi di bandara udara Baghdad dimana jendral tersebut dilaporkan sedang dalam perjalanannya untuk bertemu dengan Perdana Menteri Irak.

Untuk melihat kemana EUR/USD, GBP/USD, USD/JPY Bergerak Di Tahun 2020, kita perlu melihat beberapa faktor kunci yang menjadi penggerak pasar forex pada tahun 2020 yaitu , geopolitik, perang dagang,  pertumbuhan ekonomi global, pemilihan presiden AS dan rencana dari bank sentral-bank sentral utama dunia.

Geopolitik

Ketegangan-ketegangan geopolitik terjadi di beberapa kawasan sepanjang tahun 2019. Kawasan teluk Arab memanas sejak bulan Mei hingga Oktober. Serangan dan penahanan terhadap kapal-kapal tanker, penembakan kapal nirawak AS oleh Iran, serangan atas kilang minyak Arab Saudi dan serang rudal ke kapal tanker Iran, membuat AS pada tanggal 20 Juni 2019 nyaris mengebom Iran sebelum dibatalkan beberapa saat sebelum serangan dieksekusi. Perang dingin di Timur Tengah bisa tiba-tiba memanas lagi apabila rejim di Iran dan Arab Saudi dengan sekutu-sekutunya merasa terancam. Jika rejim Iran atau sekutunya di Irak mendapatkan tekanan, salah satu cara untuk mengalihkan perhatian dari persoalan ekonomi adalah dengan menemukan musuh diluar. Hal ini terbukti dengan terbunuhnya jendral Iran Qassem Suleimani. Penyerangan Amerika Serikat atas Qassem Suleimani disebabkan karena sudah seminggu lamanya milisi-milisi Iran di Irak terus mengganggu dan mengadakan penyerangan atas kepentingan Amerika Serikat di Irak termasuk atas ke dutaan besar AS di Irak. Penyerangan AS yang mengakibatkan meninggalnya Qassem Suleimani merupakan kulminasi dari eskalasi selama delapan hari antara Iran dengan AS di Irak.

Perkembangan selanjutnya beberapa hari setelah penyerangan AS yang mengakibatkan meninggalnya Qassem Suleimani, kelihatannya keengganan terhadap resiko dipasar global paling tidak telah mereda sebentar setelah goncangan geopolitik pada minggu lalu yang terjadi ketika serangan drone AS membunuh jendral Iran terdepan di Baghdad Irak.

Hal ini disebabkan banyak trader dan investor menggambarkan Iran tidak akan membuat pembalasan besar terhadap AS dan basis militernya, dengan kesadaran bahwa gerakan sedemikian akan mengundang serangan balik yang masif dan menghancurkan dari AS sebagaimana yang diancam oleh Presiden Trump pada tweetnya diakhir minggu lalu.

Selain memanasnya geopolitik di Timur Tengah, memburuknya hubungan AS dengan Korea Utara ditahun 2019 diabaikan oleh pasar selama ini, namun jika Korea Utara melakukan kembali uji coba nuklir dan rudalnya, maka dunia akan mendengarkan. Presiden AS Donald Trump boleh jadi akan mencoba menghindari krisis penuh dengan Korea Utara karena bisa membahayakan hasil pemilihan terhadap dirinya. Dia melihat détente dengan Korea Utara saat ini sebagai salah satu dari pencapaiannya sehingga tidak akan membiarkannya tersobek-sobek. Namun, Kim Jong Un juga sadar akan kalender politik ini dan bisa jadi akan menekan Amerika lebih keras pada tahun 2020 khususnya menjelang pemilu Presiden AS.

Di AsiaPasifik, benturan AS dengan Cina tidak hanya dalam bentuk perang dagang tetapi juga merambah ke bidang keamanan. Salah satu titik panas persaingan AS-Cina berlokasi di Laut Cina Selatan. Apalagi empat negara Asean yaitu Malaysia, Vietnam, Filipina dan Brunei terlibat di dalam sengketa klaim dengan Cina di perairan itu. Tarik menarik kepentingan AS dan Cina kerap mewarnai dinamika di Asean yang sewaktu-waktu bisa memanas lagi.

Perang Dagang

Setelah tercapainya kesepakatan perdagangan AS-Cina fase pertama, ketegangan perdagangan antara AS dengan Cina mereda. Di dalam kesepakatan perdagangan fase pertama, Amerika Serikat akan memangkas setengah dari penalti tarif 15% atas $300 miliar dari impor Cina yang dikenakan pada bulan September yang lalu dan telah membatalkan pengenaan tarif yang lebih besar, yang akan berlaku mulai dari bulan ini.

Terlebih lagi dengan Presiden AS Donald Trump mengirimkan tweet pada hari Jumat minggu lalu bahwa dia mengadakan pembicaraan yang sangat baik dengan Presiden Cina Xi mengenai kesepakatan perdagangan raksasa. Cina telah memulai pembelian berskala besar dari produk-produk agrikultur AS dan lebih banyak lagi. Penandatangan formal sedang diatur. Juga pembicaraan mengenai Korea Utara, dimana Amerika Serikat bekerjasama dengan Cina dan juga mengenai Hong Kong mengalami kemajuan. Kelihatannya pada bulan-bulan pertama 2020, tidak ada sesuatu yang baru yang akan meningkatkan ketegangan perdagangan. Hubungan AS-Cina kemungkinan akan terus berlanjut seperti akhir tahun 2019 pada bulan-bulan awal 2020.

Namun bulan-bulan selanjutnya tergantung pada implementasi dari kesepakatan tahap pertama. Cina telah berjanji untuk membeli barang-barang AS dalam skala yang luas. Banyak orang percaya bahwa kesepakatan dagang fase pertama banyak “window dressing”nya dan tidak merambah ke isu structural seperti pencurian properti intelektual, subsidi negara bagian dan dukungan untuk inisiatif industri. Namun, sepanjang implementasinya berjalan dengan mulus, tidak akan ada pergerakan baru di medan perang dagang dan pasar kemungkinan akan naik yang pada gilirannya akan menaikkan dolar AS.

Dengan akan adanya pemilihan Presiden AS pada bulan November 2020, Presiden AS sekarang ini Donald Trump memiliki alasan yang kuat untuk menggolkan kesepakatan yang komprehensif. Kalaupun bukan kesepakatan yang komprehensif, paling sedikit akan ada gencatan senjata menjelang pemilihan. Meskipun Cina juga akan mencoba menunda kesepakatan atau gencatan senjata dengan perhitungan Donald Trump gagal melanjutkan pemerintahannya ke termin kedua.

Pertumbuhan Ekonomi Global

Bagaimana dengan pertumbuhan ekonomi global? Apakah resesi merupakan ancaman yang serius pada tahun 2020 sebagaimana yang banyak digembar-gemborkan oleh sebagian analis? Ketakutan mengenai terjadinya resesi mencapai level tertingginya pada pertengahan 2019 ketika kurva imbal hasil berbentuk “inversi” untuk pertama kalinya sejak tahun 2018. Bentuk kurva yang “inversi” ini biasanya dipandang sebagai indikator dari akan datangnya resesi oleh banyak ekonom.

Meskipun resolusi yang berkelanjutan dari pertikaian perdagangan AS-Cina kelihatannya tidak akan tercapai dalam waktu dekat dan dengan mudah, paling tidak, tidak akan terjadi eskalasi di dalam jangka pendek. Sementara itu dengan membaiknya lingkungan makro menjelang tahun baru 2020, termasuk kesepakatan perdagangan AS-Cina fase pertama, kepastian akan Brexit dan membaiknya data ekonomi, sebagai efek dari kebijakan moneter global berupa pelonggaran diseluruh dunia, pada tahun 2020, ekonomi AS kemungkinan akan kembali membukukan “performance” yang solid, khususnya digerakkan oleh belanja konsumen, dengan tingkat pertumbuhan bisa diatas 2.3%. Sementara pasar tenaga kerja kemungkinan tetap ada dalam bentuk yang kuat, dan tidak ada indikasi meningkatnya resiko inflasi. Tingkat inflasi kemungkinan tetap berfluktuasi antara 1.5% sampai 2.0%. Dolar AS kemungkinan akan tetap kuat pada tahun 2020, karena pertumbuhan ekonomi yang tetap baik di Amerika Serikat.

Di Eropa, lingkungan global yang tidak mendukung, telah membebani pertumbuhan ekspor di zona Euro dan mendorong turun pertumbuhan GDP Uni Eropa pada tahun 2019 dibawah level 2018. Namun dengan membaiknya lingkungan makro termasuk makro ekonomi global, pertumbuhan ekonomi Uni Eropa kemungkinan akan sedikit membaik pada tahun 2020, menjadi 1.2%.

Dengan dilonggarkannya kebijakan moneter diseluruh dunia, termasuk berbaliknya the Fed dan ECB dari semula bersikap “hawkish” menjadi bersikap “dovish”, pada tahun 2020 kemungkinan akan lebih stabil. Sebagai akibatnya resiko global akan terjadinya resesi pada tahun 2020 menurun. Dankske bank menurunkan resiko resesi global dari sebelumnya 30% menjadi 25%. Selain itu pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2020 juga diperkirakan akan meningkat. Kitco News memperkirakan pertumbuhan ekonomi global meningkat dari 3.1% di tahun 2019 menjadi 3.3% pada tahun 2020. IMF dan para ekonom lainnya juga memprediksi 2020 akan lebih baik daripada tahun 2019.

Pemilihan Presiden AS

Bangsa Amerika baru akan memilih Presiden lagi pada bulan November 2020, namun pergerakannya sudah dimulai dari sejak saat ini. Presiden AS Donald Trump dituduh telah mengotori rivalnya Joe Biden setahun sebelum berlangsungnya pemilihan. Tuduhan ini berlanjut kepada pemungutan suara di Kongres yang menghasilkan “impeachment” terhadap Presiden AS Donald Trump pada akhir tahun 2019. Pengadilan “impeachment” terhadap Donald Trump di Senat akan berlangsung pada awal tahun 2020, yang diperkirakan akan mengakhiri tuduhan terhadap Donald Trump. Presiden AS hanya bisa dilengserkan apabila 2/3 anggota Senat memutuskan untuk memberhentikannya. Sementara partai Demokrat hanya punya 47 kursi dari 100 kursi, diperlukan tidak kurang dari 20 senator dari partai Republik untuk bergabung dengan partai Demokrat, yang mana kemungkinannya sangat kecil.

Sementara para trader akan sangat tertarik kepada drama politik AS, pasar kemungkinan tetap stabil. Proses “impeachment” akan berakhir pada bulan Januari/Februari. Selanjutnya fokus akan berada pada pada partai Demokat, siapa yang akan tampil untuk menantang Presiden Trump?

Partai oposisi Demokrat terbagi dua, antara “sayap tengah” yang disukai pasar, dengan “sayap kiri”. Penantang top dari sayap tengah adalah Biden dan Pete Buttigieg. Sementara penantang top dari sayap kiri adalah Elizabeth Warren dan Bernie Sanders. Pada bulan Juni pemenangnya antara sayap kiri melawan sayap tengah akan jelas dan fokus akan beralih ke polling nasional. Jika Warren atau Sanders yang dinominasikan, pasar akan memilih Donald Trump. Namun, jika Buttigieg atau Biden yang menang, para investor kemungkinan akan memilih Demokrat. Pasar cenderung memilih Presiden yang paling ramah pasar dengan tidak ada rencana untuk perang dagang yang merugikan.

Kebijakan Bank Sentral

Bank Sentral AS, Federal Reserve

The Fed terakhir memangkas tingkat suku bunganya pada bulan Oktober dan selanjutnya mempertahankan tingkat suku bunganya sampai pada pertemuan kebijakan moneter bulan Desember. The Fed juga mengatakan bahwa kebijakan moneter mereka saat ini sudah tepat bagi orang-orang Amerika untuk melanjutkan belanja dan untuk pasar perumahan. The Fed mengatakan bahwa mereka tidak merencanakan untuk memangkas tingkat bunga lagi ke depannya kecuali ada perubahan yang material di dalam outlook ekonomi. Powell mengatakan bahwa rintangan untuk menaikkan tingkat bunga adalah lebih besar daripada memangkasnya, sehingga perusahaan-perusahaan dengan hutang-hutang tidak perlu kuatir pada tahun 2020, sekalipun semua bisa berubah nantinya.

Para ekonom mengatakan bahwa the Fed merasa cukup dengan tiga kali pemangkasan tingkat suku bunganya yang telah dilakukannya saat ini, namun kedepannya the Fed kemungkinan masih bisa bersikap lebih “dovish” lagi.

Standard  Chartered memandang the Fed akan berusaha untuk tetap mempertahankan tingkat bunganya pada tahun 2020. Namun, ekonomi global bisa jadi mulai melambat lagi pada periode akhir tahun 2020 yang berarti berpotensi terjadi pemangkasan tingkat bunga kembali. Dolar AS bisa mulai melemah karenanya, walaupun tidak dramatis. Imbal hasil “treasury” juga kemungkinan akan turun pada paruh ke dua tahun 2020. CME FedWatch Tool terakhir menunjukkan bahwa pasar tingkat bunga memperhitungkan probabilita tingkat bunga the Fed tidak berubah sampai Desember 2020 adalah 51.5%, sementara probabilita the Fed akan menurunkan tingkat suku bunganya adalah 34,6% dan probabilita the Fed akan menaikkan tingkat bunganya adalah 11.6%. Probabilita the Fed akan memangkas tingkat bunganya lagi dimungkinkan dengan adanya kemungkinan perlambatan ekonomi pada kuartal kedua 2020 dan tekanan politik menjelang pemilihan presiden AS pada kuartal kedua 2020. Selain menurunkan tingkat bunga, alat kebijakan moneter yang bisa dipakai oleh the Fed untuk mengatasi perlambatan pertumbuhan adalah program pembelian assets. The Fed mulai membeli “treasury” pada pertengahan September untuk menenangkan pasar uang dan telah memperluas neracanya dengan lebih dari US$ 330 miliar sejak bulan September. Saat ini neraca Federal Reserve telah mencapai US$4.10 triliun. Neraca Federal Reserve akan bisa menyentuh rekor ketinggian diatas $4.516 triliun pada bulan Mei 2020 jika kecepatan ekspansi yang cepat selama leibh dari 3,5 bulan terakhir berkelanjutan. Sementara itu, apabila pertumbuhan ekonomi global meningkat,  dan sekalipun terjadi kenaikan inflasi, the Fed kemungkinan tidak akan tergesa-gesa untuk menaikkan tingkat bunga. Kemungkinan the Fed akan membiarkan inflasi naik sampai 3-4% sebelum mengambil langkah untuk mengatasinya.

Bank Sentral Eropa, European Central Bank (ECB)

Di Eropa, bank sentral Eropa, ECB sedang berada pada posisi yang sulit. Sebagian analis dan ekonom mengatakan bahwa Eropa memerlukan pelonggaran lebih jauh, namun yang lain mengatakan tingkat bunga yang negatif telah membuat problem bagi bank-bank Eropa. Beberapa pengamat mengatakan bahwa benua Eropa harus bergantung kepada kebijakan fiskal. Pemulihan ekonomi Cina mungkin bisa membantu sebagian dari ekonomi Eropa yang bergantung kepada ekspor. Namun, keluarnya Uni Eropa akan berpengaruh negatif terhadap kemampuan Uni Eropa untuk membelanjakan uang untuk mendorong pertumbuhan. Survey-survey dari media menunjukkan bahwa ECB tidak akan mengubah tingkat bunganya atau program pembelian assetnya. Namun apabila ekonomi memburuk bisa jadi ECB akan menurunkan tingkat bunganya 30 basis poin dari sekarang minus 0.5% menjadi minus 0.8% pada akhir tahun 2020 atau meningkatkan pembelian assets dari 20 miliar euro sebulan menjadi 30 miliar. Sekalipun rintangan terhadap pemangkasan tingkat bunga lebih tinggi daripada sebaliknya karena efek negatif yang sudah dirasakan sebegitu lama dari tingkat bunga yang negatif. ECB cenderung untuk bersandar kepada kebijakan fiskal. Kemungkinan Presiden ECB, Christine Lagarde akan menghabiskan kebanyakan waktunya memohon pemerintah Uni Eropa untuk membuat stimulus melalui peningkatan belanja fiskal. Lagarde kemungkinan juga akan mendorong sistem keuangan yang lebih bersatu dimana para pejabat bisa menerbitkan surat hutang bagi Uni Eropa secara keseluruhan.

Bagaimana Pengaruhnya Terhadap Pergerakan EUR/USD, GBP/USD & USD/JPY?

EUR/USD

Musim pengetatan dipasar Eropa telah berlangsung selama dua tahun dan sementara ini belum berakhir, musim pelonggaran kelihatannya semakin mungkin terjadi pada tahun 2020. Sejak menyentuh 1.2537 pada bulan Januari 2018, pasangan matauang EUR/USD telah berada pada spiral jual yang membawanya ke kerendahan bertahun-tahun di 1.0878 yang baru saja terjadi dua bulan yang lalu. Level ini tidak bisa dianggap sebagai level rendah yang sementara apabila mempertimbangkan pemulihan harga yant terjadi. Fokus kali ini bukanlah pada angka tehnikal melainkan pada politik. Katalisator untuk kejatuhan EUR/USD selama dua tahun terakhir adalah kebijakan luarnegeri dari Amerika Serikat, setelah Donald Trump menjadi Presiden. Di dalam dua tahun terakhir, penurunan bulanan terbesar terjadi pada bulan Maret 2018, ketika perang dagang dimulai. Waktu itu, Trump mengumumkan tarif baja dan aluminium atas impor dari seluruh negara dan memukul Cina dengan bea masuk ronde pertama. Perundingan perdagangan segera dimulai setelahnya dan telah terus diperpanjang sampai dua tahun berlalu, dan baru pada bulan Desember ini kedua negara dengan perekonomian terbesar di dunia mengumumkan fase pertama dari kesepakatan perdagangan telah disetujui bersama.

Perlu dicatat, bahwa perang dagang Trump bukan saja dengan Cina, walaupun hubungan mereka berdua mengisi paling banyak berita-berita perang dagang. Trump menyebarkan perangnya mendunia dan sementara peperangan ini masih jauh dari selesai, beberapa tanda-tanda positip telah muncul belakangan ini bahwa perang dagang kemungkinan akan berakhir. Pada bulan Desember ini saja, diumumkan bahwa Kongres AS telah menyetujui kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dengan Mexico dan Kanada (USMCA). Perang dagang dianggap sebagai salah satu katalisator utama dibelakang penurunan ekonomi global. Sekali lagi, sementara ini belum berakhir, akhirnya nampaknya ada cahaya pada akhir dari terowongan.

Zona Euro mengakhiri tahun 2019 dengan indikator ekonomi menunjukkan bahwa penurunan ekonomi terus berlanjut. Sementara di Amerika Serikat, kelihatannya sedikit lebih baik, dengan berkurangnya ketakutan akan resesi. GDP di zona Euro bertumbuh setahun 1.2% sementara GDP AS dilaporkan bertumbuh 2.1%.

Markit Flash US Composite Output Index menyentuh 52.2 di bulan Desember, naik dalam ketinggian selama 5 bulan dari 52.0 di bulan November, menunjukkan kenaikan tercepat di dalam produksi sejak bulan Juli. Sementara Markit Flash zona Euro PMI Composite Output Index pada periode yang sama muncul di 50.6, tidak berubah dari bulan sebelumnya. Laporan resmi mengatakan bahwa ekonomi zona Euro gagal untuk memanfaatkan momentum pada bulan Desember dengan produksi meningkat dengan kecepatan yang paling lemah sejak tahun 2013.

Di Amerika Serikat, level “employment” tetap sehat sepanjang tahun 2019, sementara menurut Markit, pertumbuhan “employment” Uni Eropa melambat ke kerendahan selama lima tahun.

Gubernur Fed Jerome Powell kelihatannya jauh lebih percaya diri daripada rekannya Lagarde. Lagarde menggunakan kata-kata yang meyakinkan di dalam pernyataannya, namun kondisi makro ekonomi masih memburuk, jadi sukar untuk mempercayai kata-katanya. Pastinya, Lagarde adalah seorang politikus, bukan seorang ekonom.

Data-data terbaru yang dirilis menunjukkan bahwa paling tidak, di Amerika Serikat kekuatiran mengenani resesi telah mereda. Sebaliknya di Uni Eropa belum terlihat.

Pasangan matauang EUR/USD mengakhiri tahun kedua dengan kerugian berturut-turut. Setelah memulai awal tahun dengan 1.1460, diakhiri dengan kerendahan tahunan di 1.0978. Tren “bearish” ini masih tetap berlangsung menurut grafik tehnikal bulanan, dengan tidak ada tanda-tanda kelelahan. Secara basis mingguan, EUR/USD adalah netral dengan tidak ada arah yang jelas sejak pertengahan bulan Oktober.

Pada perdagangan selanjutnya, beberapa hari setelah meninggalnya Qassem  Suleimani, sentimen pasar menjadi sedikit lebih tenang karena tidak ada ancaman yang baru dari Amerika Serikat maupun dari Iran. Ini terbukti dari sedikit membaiknya sentimen resiko global, yang membantu imbal hasil obligasi treasury AS untuk naik pada hari Senin. Nada yang positip disekitar imbal hasil obligasi AS memperpanjang sebagian dukungan terhadap dolar AS dan pada gilirannya menjadi salah satu faktor yang membawa turun pasangan matauang  EUR/USD.

Sekalipun Iran menembakkan rudal terhadap dua basis militer Amerika di Irak. Reaksi yang semula “risk-off” segera berbalik menjadi normal kembali. EUR/USD berhasil membalikkan kerugian awalnya.

Teheran mengklaim 80 jiwa mati terbunuh namun juga menambahkan mereka tidak tertarik untuk mengadakan perang terbuka. Pentagon belum melaporkan mengenai adanya korban jiwa di dalam respon Iran atas terbunuhnya Qassem Suleimani, jendral top Iran.

Kelihatannya kedua belah pihak tidak tertarik dengan eskalasi lebih jauh – Presiden Donald Trump menghadapi pemilihan Presiden dan ekonomi Iran sedang berada dalam keadaan yang berbahaya. Namun, setiap kesalahan perhitungan bisa saja memicu memburuknya suasana dengan segera.

Secara jangka pendek, “support” terdekat menunggu di 1.1101 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.1042 dan kemudian 1.1000. Sedangkan “resistance” terdekat menunggu di 1.1200 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.1240 dan kemudian 1.1284.

Secara jangka panjang, level 1.1000 menjadi “support” psikologis yang solid yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.0880 sebelum menuju 1.0720 dan berakhir pada kerendahan 2017 di 1.0340. Sementara level 1.1265 menjadi “support” terdekat yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.1320 dan kemudian 1.1510.

GBP/USD

Pasangan matauang GBP/USD memperoleh sebagian daya tarik positip selama bagian awal dari 2019 namun kemudian mencatat kerugian yang besar selama enam bulan berikutnya dan jatuh ke level dibawah dari batas kunci psikologis di 1.20 pada awal bulan September. Pasangan matauang ini kemudian mengalami “rally” hampir 12%, menyentuh level tertingginya sejak bulan Mei 2018 selama separuh terakhir dari bulan Desember sebagai reaksi terhadap kemenangan mutlak bagi Partai Konservatif yang berkuasa sekarang di dalam pemilihan Parlemen Inggris yang paling penting pada tanggal 12 Desember. Hasilnya diharapkan akan memecahkan kemandekan jangka panjang dan memberikan jalan yang jelas untuk meratifikasi Persetujuan Penarikan sebelum tenggat waktu 31 Januari 2020.

Optimisme terbukti menguntungkan bagi Sterling dan mengangkat pasangan matauang ini ke level melewati batas 1.3500, meskipun momentumnya ternyata agak singkat ditengah ketakutan akan Brexit yang tanpa kesepakatan. Pasangan matauang ini membalikkan rally kelegaan selesainya pemilihan setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memberikan signal tenggat waktu Brexit yang keras. Johnson bersiap berusaha melewati legislasi, yang akan memerlukan kesepakatan perdagangan didalam beberapa bulan dan membuatnya menjadi illegal bagi pemerintah untuk memperpanjang periode transisi Brexit melampaui akhir dari 2020. Perlu dicatat bahwa Inggris akan meninggalkan Uni Eropa pada tanggal 31 Januari namun akan tetap di pasar bersatu dan “customs union” sampai tanggal 31 Desember, 2020. Aturan sekarang ini mengijinkan periode transisi Brexit untuk diperpanjang dengan persetujuan bersama sampai lewat dari dua tahun sampai pertengahan musim panas berikutnya. Amandemen dari Johnson akan mencegah perpanjangan yang sedemikian, menyiapkan tenggat waktu yang ketat untuk pembicaraan yang kompleks.

Dengan skala isu yang harus diselesaikan, para pejabat Uni Eropa telah memperingati bahwa meratifikasi kesepakatan perdagangan dalam setahun hampir tidak mungkin. Perkembangan terbaru telah membangkitkan keprihatinan bahwa Inggris akan berakhir dengan keluar secara paksa dari Uni Eropa dengan mengikuti peraturan perdagangan dari WTO kecuali Johnson berhasil mengamankan persetujuan pada akhir tahun depan. Kejatuhan lebih lanjut dari Poundsterling memaksa kepercayaan pasar bahwa Brexit masih jauh dari selesai dan akan terus memainkan peranan kunci di dalam mempengaruhi sentimen sekitar Sterling selama 12 bulan berikutnya.

Dari data ekonomi Inggris yang masuk, memberikan indikasi bahwa ekonomi Inggris sedang melambat dan jika kelesuan belakangan ini berlanjut atau bahkan mendalam lebih lanjut, hal ini akan memberikan panggung bagi spekulasi pemangkasan tingkat bunga dan bisa memberikan tekanan tambahan atas Poundsterling. Di dalam pernyataan kebijakan bulan Desembernya, BoE menurunkan perkiraan pertumbuhan kuartalan pada tiga bulan terakhir dari tahun 2019 menjadi 0.1% dari sebelumnya 0.2% namun mengharapkan pertumbuhan ekonomi meningkat pada awal 2020.

Sedikit melemahnya dolar AS kemungkinan membatasi penurunan lebih jauh dari dolar AS. Dengan dilatarbelakangi pemangkasan tingkat bunga dari bank sentral utama dunia, dan resolusi terhadap perang dagang AS-Cina yang tetap mendukung rally di dalam pasar saham global belakangan ini dan pada akhirnya membebani dolar AS yang dianggap sebagai berstatus “safe-haven”. Di pihak lain, indikator terdepan menunjukkan perlambatan lebih jauh dan bisa memicu Federal Reserve untuk memberikan dukungan bagi ekonomi dengan memangkas tingkat bunga lebih jauh. The Fed, namun, telah meredakan keprihatinan bahwa ekonomi bisa jatuh dan memberikan indikasi akan perhentian yang tak terbatas pada pertemuan kebijakan pada tanggal 11 Desember.

Rally Poundsterling setelah pemilihan umum di Inggris telah lenyap ditengah munculnya ketakutan yang baru akan Brexit yang keras. Spekulasi bahwa BoE kemungkinan terpaksa menurunkan tingkat suku bunganya pada tahun 2020, memberikan tekanan tambahan terhadap Pounsterling. Meskipun demikian Poundsterling masih bisa mendapatkan kelegaan dari sedikit melemahnya dolar AS.

Tahun baru dimulai dengan kejutan yang besar – dan suatu perubahan, dimana Brexit tergeser dari kursi penggerak harga. Dolar AS kehilangan sebagian dari keuntungannya sehubungan dengan terbunuhnya jendral Iran Qassem Suleimani dengan para trader melakukan aksi ambil untung.

GBP/USD diperdagangkan diatas 1.31 sementara berita-berita ketegangan Timur Tengah mendominasi dengan “greenback” turun dari ketinggiannya. Angka PMI Jasa Inggris yang final mengatasi dari yang diperkirakan dengan 50 poin.

“Greenback” yang “safe-haven” yang sebelumnya mengalami kenaikan karena ketakutan akan memanasnya perang mengalami penurunan. Penurunan dolar AS saat itu kelihatannya hanyalah suatu koreksi, karena ketegangan tetap tinggi.

Pada perkembangan selanjutnya, GBP/USD turun kebawah dari 1.3150 membalikkan keuntungan yang diperoleh pada awalnya. Parlemen kembali mengadakan konvensi setelah liburan selesai dan siap untuk mengajukan undang-undang dari Perdana Menteri Boris Johnson. Sementara ketegangan Timur Tengah telah berkurang.

Keprihatinan bahwa Inggris akan segera keluar dari Uni Eropa dengan keras menjelang konvensi dari parlemen Inggris berkontribusi menambah tekanan terhadap pasangan matauang GBP/USD.

Secara jangka pendek, “support” terdekat menunggu di 1.3100 yang apabila berhasil ditembus akan lanjut ke 1.3050 dan kemudian menghadapi batas psikologis 1.3000. Sedangkan “resistance” terdekat menunggu di 1.3200 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.3250 dan kemudian 1.3285.

Secara jangka panjang, pasangan matauang ini telah menunjukkan ketangguhannya dibawah batas kunci psikologis 1.20. Sebelum mencapai level bawah ini, GBP/USD akan berhadapan dengan “support” terdekat di 1.2800 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2500 dan kemudian 1.2160.  Pergerakan naik pasangan matauang ini akan berhadapan dengan “resistance” terdekat di 1.3400  yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.3750 dan kemudian 1.4377.

USD/JPY

Bank of Japan kemungkinan tidak melakukan pergerakan apa-apa, namun kemungkinan akan memberikan peringatan-peringatan akan melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan. Hal ini kemungkinan akan bisa menjaga Yen Jepang dari terevaluasi – paling tidak sepanjang pasar mempercayainya.

Sementara BoJ kemungkinan akan berdiam diri ditepi, tindakan-tindakan dari pemerintah kemungkinan bisa menggerakkan Yen Jepang. Perdana Menteri Shinzo Abe mengumumkan paket stimulus berikutnya pada akhir tahun 2019 dan implementasinya pada tahun 2020 kemungkinan bisa mendorong naik perekonomian Jepang dan mungkin bahkan bisa sampai menaikkan inflasi. Hal ini bisa tanpa disengaja malah menguatkan Yen Jepang.

Dan jika pertumbuhan ekonomi tetap tipis, Abe – yang memiliki kuasa yang signifikan – bisa mengeluarkan rencana yang lain. Jepang telah menjadi pionir di dalam Quantitative Easing dan bisa jadi sekali lagi memperkenalkan kebijakan baru di dalam moneter dan fiskal sehingga sekali lagi menjadi yang terdepan di dalam inovasi ekonomi pada tahun 2020.

Menganalisa politik AS pada tahun 2020 merupakan hal yang penting. Pasar memilih Demokrat yang moderat atau Trump dibandingkan dengan kandidat dari sayap kiri. Hubungan AS-Cina kemungkinan akan tetap menjadi agenda utama pada awal tahun dengan implementasi dari kesepakatan fase pertama dan tarif tetap menjadi penggerak pasar utama.

Federal Reserve akan melakukan yang terbaik yang dapat mereka lakukan untuk tidak merubah tingkat bunga dan jika pertumbuhan ekonomi terus berlanjut pada kecepatan seperti saat ini, tidak perlu ada tekanan politik untuk melakukannya. Namun mempertimbangkan kembali Quantitative Easing tidak bisa diabaikan dengan hutang perusahaan bisa berubah menjadi hal yang mengkuatirkan.

Yen Jepang masih tetap merupakan pilihan “safe-haven” dengan kekuatiran akan pertumbuhan ekonomi global yang tidak bisa pulih sepenuhnya dan potensi geopolitik yang sewaktu-waktu bisa memanas.

Menguatnya baik Yen Jepang dan dolar AS pada tahun 2019 membuat pasangan matauang ini menjadi tidak banyak bergerak. Pasangan matauang ini hanya bergerak kurang dari 8 yen per dolar AS sejak bulan Januari, yang paling kecil dalam lima dekade menurut Bloomberg. Para trader yang mencari volatilitas di USD/JPY pada tahun 2020 kemungkinan bisa mengalami kekecewaan karena pasangan matauang ini kemungkinan tetap mandek di dalam rentang 101 -111.

Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner  Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here