Industri Pengolahan Indonesia Tetap Ekspansif Sejak Awal 2018, Rilis PMI BI

314

(Vibiznews – Economy) – Kinerja manufaktur atau industri pengolahan Indonesia pada triwulan IV 2019 masih berada pada fase ekspansi, meskipun melambat dibandingkan dengan kinerja pada triwulan sebelumnya. Hal ini terindikasi dari Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia sebesar 51,50% pada triwulan IV 2019, lebih rendah dari 52,04% pada triwulan III 2019, demikian rilis resmi BI pada hari ini, Senin (13/01).

“Ekspansi kinerja industri pengolahan terjadi pada sebagian besar subsektor, dengan ekspansi tertinggi pada industri semen dan barang galian nonlogam yang didorong oleh ekspansi volume produksi dan pesanan barang input,” catatan dari Departemen Komunikasi BI.

Sumber: BI

Selanjutnya, untuk triwulan I 2020, ekspansi industri pengolahan diprakirakan akan lebih tinggi. Hal tersebut terindikasi dari PMI Bank Indonesia pada triwulan I 2020 yang diprakirakan meningkat menjadi 52,73%.

BI mencatat bahwa ekspansi kegiatan usaha diprakirakan terjadi pada sebagian besar subsektor, dengan ekspansi tertinggi terjadi pada industri semen dan barang galian nonlogam, diikuti dengan peningkatan kinerja pada industri barang kayu dan hasil hutan lainnya, serta industri makanan, minuman dan tembakau.

Kemudian, berdasarkan komponen pembentuk PMI-BI, ekspansi yang terjadi pada triwulan IV-2019 ditunjang oleh ekspansi pada berbagai komponen seperti volume produksi (53,42%), volume pesanan (53,27%) dan volume persediaan barang jadi (52,56%) meskipun indeks ketiganya cenderung lebih rendah daripada triwulan sebelumnya. Di sisi lain, terdapat dua komponen yang mengalami kontraksi yaitu kecepatan penerimaan barang input (49,71%) dan penggunaan jumlah tenaga kerja (47,23%).

Analis Vibiz Research Center melihat bahwa secara umum manufaktur di Indonesia masih konsisten ekspansif, yaitu dengan PMI di atas 50%, terutama sejak triwulan I 2018. Angkanya berkisar di 51 dan 52. Pelambatan pada triwulan IV 2019, syukurnya, diprakirakan akan rebound pada triwulan I 2020, untuk tren ekspansi terjaga di 2 tahun terakhir. Ini penting bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia mengingat masalah de-industrialisasi termasuk salah satu yang sempat mengganggu kinerja ekonomi selain isyu defisit neraca perdagangan.

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here