Review Pasar Karet : Harga Karet Anjlok Dari Harga Tertinggi 10 Bulan

1775

(Vibiznews – Commodity) – Setelah pada minggu lalu harga karet naik ke tertinggi 10 bulan, maka dua hari pertama pada minggu ini harga karet turun anjlok kembali  pada hari Senin  dan Selasa.

Pada hari Senin 20 Januari  2020 harga karet Juni di TOCOM turun 4.8 yen atau 2.3% menjadi 201.4 yen ($1.83) per kg setelah turun ke terendah sejak 10 Januari di 200.8 yen, karena profit taking berlangsung penutupan posisi sebelum libur Tahun Baru Imlek

Pada hari Selasa 21 Januari 2020 Harga karet di TOCOM Juni  turun 8.4 yen atau 4.2% menjadi 193.0 yen ($1.76) per kg, penurunan harian terbesar sejak Maret 2018. Sempat menyentuh harga terendah sejak 23 Desember di 192,2 yen pada sesi sebelumnya

Pada hari Jumat lalu 18 Januari 2020  Harga karet Juni di TOCOM naik 6.4 yen ($0.0582) menjadi 207.8 yen per kg.

Faktor-faktor kenaikan harga pada minggu lalu 12 Januari – 18 Januari :

  1. WABAH JAMUR :

Di Indonesia  382,000 ha dari 3 juta ha area perkebunan karet  terjangkit wabah jamur sejak 1 Oktober menurut  the International Tripartite Rubber Council. Termasuk di Malaysia dan di Thailand wabah jamur bernama  Pestalotiopsis

Pohon karet yang terjangkit penyakit tidak bisa melakukan fotosintesis sehingga produksi  getah karet  sedikit  sehingga diperkirakan 10% dari produksi karet diperkirakan akan rusak.

Efek dari jamur harga karet meningkat. Wabah tersebut masih bisa dihindari..

Hubungan dengan perang dagang antara AS – Cina yang dimulai sejak pertengahan 2018, perang dagang ini membuat pertumbuhan ekonomi Cina melambat dan mempengaruhi  penjualan mobil baru. Cina adalah konsumen dari 40%  persediaan karet global, untuk industri ban mobil.

Karena melemahnya permintaan karet membuat harga karet  di Tokyo turun ke terendah 27 bulan di 152.9 yen pada akhir Nopember 2018. Di Thailand harga karet alam sempat mencapai 44 baht ($1.45) par kg, lebih rendah dari perkiraan biaya produksi sebesar 50 baht.

Karena rendahnya harga petani di musim gugur 2018 menolak untuk mengurusi kebun karetnya dan lebih memilih untuk mengerjakan kebun kelapa sawit.  Keadaan ini berubah sejak musim panas 2019 ketika jamur mulai menyebar  sehingga mengurangi produksi.

Tanpa adanya perang dagang maka masalah-masalah ini tidak akan terjadi.

Persediaan dari karet alam akan tergantung apakah wabah jamur ini akan merusak tanaman sampai bulan April apakah masih menyebar. Seharusnya pohon karet  ini sudah diganti dengan pohon karet yang baru.

Pohon karet memerlukan  enam sampai tujuh tahun untuk dapat menghasilkan getah karet secara komersial.

Jika pohon yang terjangkit jamur digantikan maka 10% dari produksi karet global akan berakhir sampai pertengahan akhir semester 2020. Ini akan merupakan  berita buruk bagi industri mobil perkiraan pasar kendaraan bermotor aman meningkatkan rata-rata 1.6% per tahun dari 2010-2026, walaupun penjualan dari mobil yang baru turun karena melemahnya ekonomi, tapi perkembangan dari kendaraan bermotor akan terus berkembang dalam jangka menengah  dan masa depan.

  1. Negara Produsen
  • MALAYSIA

Persediaan karet alam  sebesar 216,414 ton di Nopember 2019 dibanding dengan 189,085 ton di Oktober 2019. Produksi karet naik 1.6% di Nopember tahun lalu menjadi  53,019 ton dibanding tahun lalu pada periode yang sama.

Ekspor karet  Malaysia turun 6.2% menjadi 47,888 ton dari 50,600 ton di Oktober.

  • IVORY COAST

Produksi dari Ivory Coast naik pada kuartal  terakhir 2019 sebesar 780,000 ton dan diperkirakan akan mencapai 850,000 ton tahun ini setelah tanaman baru mulai berproduksi.

Ivory Coast adalah eksportir terbesar karet di Afrika dan negara produsen ke tujuh dunia.  Tanaman baru membawa keuntungan bagi petani yang beralih dari kakao ke karet yang dapat memberikan keuntungan yang stabil bagi petani. Produksi diperkirakan akan terus meningkat dan mencapai  950,000 ton di 2021.

Permintaan karet Ivory Coast  baik dari Cina, Thailand, Malaysia, Europe, dan Amerika .

  • THAILAND

Di Nopember volume ekspor latex sebesar 102,000 ton, turun 8.4% dari tahun lalu dan penurunan 1.3% dari bulan lalu. Ekspor terdiri dari ke Cina  41,600 ton naik 4.34% dari bulan lalu namun turun 12.32% dari tahun lalu.

Ekspor karet terus turun pada bulan-bulan  terakhir.

Ekspor tobacco sheet sebesar 37,700 ton, penurunan sebesar 13.6% dari tahun lalu, namun masih meningkat 1.8% dari bulan lalu. Ekspor ke Cina 10,800 ton kenaikan 34.2% dari tahun lalu dan  kenaikan 54.5% dari bulan lalu.

Kesimpulan :

  • Baru saja pasar bergairah dengan kenaikan tertinggi 10 bulan pada minggu lalu, petani juga senang untuk bertani kembali memproduksi karet  tantangan kembali terjadi dengan adanya wabah virus baru di Cina yang akan membuat kegiatan ekonomi Cina terhenti  sehingga pertumbuhan ekonomi  bisa turun, membuat  permintaan karet  Cina berkurang, apalagi Cina adalah importir terbesar dari  karet
  • Harus ada inovasi baru untuk karet alam supaya permintaan tetap meningkat bisa untuk menggantikan plastik, penemuan-penemuan baru musti dilakukan supaya permintaan karet meningkat kembali.
  • Potensi pasar untuk karet alam tetap berlanjut karena potensi ekonomi negara-negara berkembang yang bertumbuh baik,  membuat permintaan ban terus berlanjut terutama untuk  kendaraan –kendaraan angkutan.

Loni  T / Analyst Vibiz Research  Centre –  Vibiz Consulting Group

Editor : Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here