Benarkah Kesepakatan Perdagangan AS – Cina Fase Satu Menguntungkan?

368

(Vibiznews- Column) Wakil Perdana Menteri Cina Liu He mengatakan bahwa kesepakatan perdagangan AS-Cina fase 1 sebagai “win-win”. Berarti kesepakatan perdagangan ini sama-sama menguntungkan bagi kedua belah pihak. Apa saja keuntungan dari kesepakatan perdagangan ini bagi kedua belah pihak? Keuntungan bagi kedua belah pihak pastilah akan memberikan keuntungan juga bagi perdagangan global, sehingga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi global, benarkah?

Perang dagang AS-Cina berkembang membaik. Kesepakatan perdagangan AS-Cina fase satu telah membawa kepada kelegaan. Kesepakatan perdagangan yang telah lama ditunggu-tunggu, yang menuntut Cina mendorong pembelian barang-barang AS secara signifikan dan memperbaiki proteksi “intellectual property”, telah mengerem perang dagang yang telah berlangsung selama 18 bulan yang juga telah membuat disrupsi dalam rantai “supply” dan menggoncang pasar.

Kesepakatan ini juga telah membuat dibatalkannya penambahan tarif baru oleh AS (yang beresiko terjadinya eskalasi lebih jauh). Kesepakatan ini seharusnya disambut baik di Cina, dengan sedang melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina. Namun bukan di Cina saja, di Amerika Serikat, perusahaan-perusahaan juga telah menyatakan keprihatinannya mengenai konfrontasi perdagangan.

Dari perspektif manapun, setiap kesepakatan perdagangan adalah lebih baik daripada tidak ada kesepakatan samasekali. Hal ini seperti dengan kebijakan moneter: tingkat bunga yang rendah bisa saja tidak berhasil di dalam menaikkan tingkat inflasi, namun situasi akan menjadi lebih buruk jika kebijakan tingkat bunga lebih tinggi.

Angka GDP Cina yang dipublikasikan terakhir adalah pertumbuhan – 6.1% pada tahun 2019, tingkat pertumbuhan yang paling lambat sejak tahun 1990. Perang dagang memainkan peranan dalam hal terjadinya perlambatan ini. Ekspor Cina ke Amerika Serikat telah jatuh yang mengakibatkan kecepatan laju investasi di manufaktur menjadi sangat pelan pada tahun 2019, hanya naik 3.1%.

Riset terbaru oleh Federal Reserve Board 1 telah menemukan pengaruh yang negatif terhadap AS juga: “Industri manufaktur AS lebih terbuka terhadap kenaikan tarif. Efek positip dari proteksi terhadap impor terhapus oleh efek negatif dari meningkatnya biaya “input” dan pembalasan tarif.”

Hal ini tentu akan membuat setiap berkurangnya badai akan sangat disambut dengan baik. Analisa “counterfactual” yang membandingkan hasil yang didapatkan dengan skenario alternatif memberitahukan kita bahwa kita seharusnya bergembira dengan terjadinya kesepakatan dagang AS-Cina fase 1.

Baca: Dampak Kesepakatan Fase 1 AS-China Bagi Indonesia

Dampak Terhadap Amerika Serikat

Sektor Manufaktur AS Yang Malas Bergerak Bisa Bangkit Segera

Dengan kesepakatan perdagangan fase 1 antara AS-Cina tercapai, waktunya sudah matang untuk terjadi “rebound” di dalam manufaktur AS, dan data ISM bulan lalu bisa telah memberikan signal tersebut. Ketika level produksi turun dibawah level inventori, sebagaimana yang terjadi pada bulan Desember yang baru lalu, hal ini memberikan signal bahwa aktifitas pabrik akan segera berayun naik lebih tinggi.

Sementara ISM telah berada pada teritori yang terkontraksi selama lima bulan terakhir, perkembangan yang sangat penting terjadi pada bulan yang lalu, dimana level produksi turun dibawah level inventori. Hal ini jarang terjadi, dan apabila hal ini terjadi, selalu bersamaan dengan naiknya aktifitas faktori secara dramatis. Ini selalu merupakan siklus dinamis dari sektor manufaktur.

Untuk bulan Desember, ISM Manufacturing Index jatuh ke 47.2, level terburuk sejak bulan Juni 2009, ketika menyentuh 46.3. Ketika permintaan berkurang terhadap barang-barang, manufaktur memangkas produksi dan employment jatuh. Para produsen menghentikan perekrutan baru dan produksi diturunkan ke level yang mereka pandang sebagai level “subsistence”. Hal ini terjadi ketika jumlah produksi berada dibawah dari jumlah persediaan/stock. Kadang manufaktur bergerak terlalu jauh di dalam pemangkasan mereka.

Pada kuartal terakhir, produksi sedikit dibawah dari persediaan/inventory. Ini adalah fenomena yang terjadi hanya ketika ekonomi sedang berjuang untuk naik.

Ada empat kali kejadian sejak krisis yang terjadi pada tahun 1981-1982, ketika produksi berada dibawah persediaan, yaitu kuartal pertama 1991, kuartal kedua 2001, dan kuartal keempat 2008 sampai kuartal pertama 2009. Kuartal-kuartal ini adalah kuartal dimana menjadi dasar paling bawah didalam “manufacturing ISM survey”.

Faktanya terbukti dengan “Philadelphia Fed Manufacturing survey” pada bulan Januari mengalami “rebound” menjadi 17, dari 2.4 di bulan Desember. Ini bukan saja terlihat dari angka umum. Dari angka detil juga semua bergerak naik, baik order-order baru, pengapalan, maupun “employment”.

Penasehat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan bahwa kesepakatan perdagangan fase satu ini akan menambah ke pertumbuhan domestik bruto (GDP) AS sebesar 0.5% pada tahun 2020 dan 2021

Baca: Ketahanan Indonesia Menghadapi Perang Dagang China dan USA

Efek Langsung & Tidak Langsung Terhadap Cina

Efek langsung dari Kesepakatan Perdagangan bisa meningkatkan keyakinan investor

Sejak permulaan 2020, sentimen pasar telah beralih menjadi lebih baik. Purchasing Manager Index (PMI)  manufaktur menunjukkan pemulihan yang moderat pada sektor manufaktur Cina, penjualan rumah baru telah stabil dan para pengembang telah bergegas menerbitkan obligasi lagi.

Efek tidak langsung adalah Lingkungan Perdagangan Yang Stabil & Kompetisi Yang Fair Di Cina

Kesepakatan perdagangan fase 1 antara Cina dengan AS, dalam jangka panjang akan membantu menciptakan lingkungan perdagangan yang stabil dan memberikan peluang berkompetisi melawan model perkembangan yang digerakkan oleh negara.

Menurut Wakil Perdana Menteri Cina, Liu He, kesepakatan ini menciptakan kondisi yang bagus untuk semua partisipan pasar berada dalam kompetisi yang “fair” dan menghancurkan monopoli.

Menurut Liu, yang adalah penasehat ekonomi yang paling dipercayai oleh Presiden Xi Jinping, berkata jaminan untuk memperbaiki perlindungan terhadap hak properti intelektual, tidak hanya merupakan konsesi terhadap apa yang dituntut oleh AS, namun juga merupakan langkah yang perlu untuk mendorong inovasi tehnologi di Cina.

Kepuasan pemerintah Cina dengan ditandatanganinya kesepakatan perdagangan fase 1 bisa terbaca dari pernyataan Liu He. Setelah penandatanganan, kepada reporter di Washington Liu He menjelaskan dengan singkat bahwa konsesi yang dibuat oleh Cina kepada Amerika Serikat akan tersedia bagi partner dagang Cina yang lainnya juga. Berarti kesepakatan perdagangan ini menjadi model yang akan diterapkan terhadap partner dagang Cina dari negara-negara lainnya selain Amerika Serikat. Dengan demikian ini bukanlah kesepakatan “bilateral” yang khusus hanya dilakukan karena Cina terdesak oleh perang dagang yang diluncurkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Baca:Tahun 2020 Resesi atau Keseimbangan Baru?

Dampak Terhadap Perekonomian Dunia

World Economic Forum 2020 Di Davos

Wakil Perdana Menteri Han Zheng mengatakan kepada World Economic Forum bahwa kesepakatan perdagangan Cina dengan Amerika Serikat tidak akan memukul negara-negara tujuan ekspor Cina lainnya sebagaimana yang dikeluhkan oleh pemerintah-pemerintah dari negara-negara lain yang tidak ikutan di dalam kesepakatan tersebut. Han mengatakan bahwa komitmen untuk membeli lebih banyak barang-barang dari Amerika Serikat adalah sesuai dengan peraturan World Trade Organization (WTO) dan tidak akan mengurangi impor dari negara lain. Hans juga menjamin untuk mengurangi rintangan terhadap investor asing dengan jalan mempermudah kerjasama dengan ekonomi global. Hans berkata kepada para pendengar di Davos, “Kesepakatan dagang fase satu adalah bagus, baik bagi Amerika Serikat, maupun terhadap Cina dan bahkan terhadap dunia. “ Dari sudut lainnya, Hans berkata,”Cina akan membuka pintu lebih lebar, walaupun menghadapi semacam proteksionisme dari sebagian negara, determinasi untuk membuka pintu lebar-lebear tidak akan bergeming.

Resiko Resesi & Pertumbuhan Ekonomi Global

Dankske bank menurunkan resiko resesi global dari sebelumnya 30% menjadi 25%. Selain itu pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2020 juga diperkirakan akan meningkat. Kitco News memperkirakan pertumbuhan ekonomi global meningkat dari 3.1% di tahun 2019 menjadi 3.3% pada tahun 2020. IMF dan para ekonom lainnya juga memprediksi 2020 akan lebih baik daripada tahun 2019.

Dana Moneter Internasional atau IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu. Dalam keterangannya hari Senin tanggal 20 Januari 2020, IMF memperkirakan pertumbuhan global mencapai 3,3 persen pada tahun 2020 atau lebih tinggi ketimbang tahun lalu sebesar 2,9 persen.

IMF memperkirakan pertumbuhan global akan berakselerasi menjadi 3,4 persen pada 2021. Salah satunya karena perjanjian dagang AS-Cina fase satu dan kebijakan moneter yang akomodatif. IMF meningkatkan prospek pertumbuhan Cina dengan latar belakang perjanjian dagang fase satu dengan AS yang ditandatangani pada 15 Januari. Pertumbuhan ekonomi Cina diprediksi naik 0,2 poin menjadi 6 persen tahun ini. Kesepakatan perdagangan AS-Cina akan mengurangi pelemahan dalam siklus jangka pendek.

Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner  Vibiz Consulting

Editor: Asido

Table Talk: Geopolitic Impact & How to grab profit on Market with Autopilot. Soho Capital Building 19th Floor. Jl. Letjen S Parman, Rabu, 29 Januari 2020 . Pk 16:00-17:00. Daftar: 081213520034 (Nama, email, HP, Company). Gratis: 1 buku Forex online Trading – Tren Investasi Masa Kini (Best Seller)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here