Rekomendasi Forex GBP/USD Minggu Ini (10-14 Februari 2020)

488

(Vibiznews-Forex) Minggu setelah Brexit adalah peperangan antara hubungan Uni Eropa dengan Inggris post-Brexit dan data makro ekonomi yang bagus, mengurangi kemungkinan akan pemangkasan tingkat bunga.

Perdana Menteri Boris Johnson mempresentasikan visinya mengenai hubungan Uni Eropa – Inggris dan di dalam pidatonya yang menentang Uni Eropa, Johnson mengatakan bahwa dia ingin bebas dari peraturan Brusel. Sebaliknya, Michel Barnier, kepala negosiasi Uni Eropa, mengatakan bahwa untuk mencapai akses pasar yang mudah, Inggris harus menyesuaikan diri dengan Uni Eropa.

Jika kedua belah pihak gagal mencapai kesepakatan, Inggris akan mundur balik lagi ke peraturan dari World Trade Organization begitu periode transisi berakhir pada akhir tahun. Negosiasi resminya baru dimulai pada bulan Maret, namun poundsterling sudah lebih dahulu jatuh, dan GBP/USD menyentuh level terendah sejak bulan Desember.

Sebaliknya, Sterling naik sebagai respon terhadap PMI bulan Januari yang kuat. Angka Markit yang melihat kedepan ini menunjukkan bahwa sektor konstruksi Inggris terkontraksi dengan kecepatan yang lebih lambat, manufaktur berhenti menciut dan sektor jasa bertumbuh lebih cepat, di angka 53.9 dibandingkan dengan laporan awalnya di 52.9. Ini membuat poundsterling bergerak naik.

GBP/USD juga bergerak di dalam respon terhadap wabah virus corona, yang mendominasi berita. Penyakit ini telah menular ke puluhan ribu orang dan sudah ratusan yang meninggal, kebanyakan di Cina.

Dolar AS cenderung turun bersamaan dengan imbal hasil obligasi sementara kabar-kabar buruk yang terdengar dimana-mana, namun berbalik naik ketika sentimen membaik. Dolar AS juga bergerak naik sebagai respon terhadap data yang bagus. ISM Manufacturing PMI memberikan kejutan dengan kembali bertumbuh, menyentuh 50.9. Laporan pekerjaan sektor swasta dari ADP melampaui yang diperkirakan dengan penambahan 291.000 posisi.

Non-Farm Payrolls mengatasi dari yang diperkirakan dengan penambahan 225.000 pekerjaan di bulan Januari, diatas dari perkiraan awal. Upah naik hanya 0.2% per bulan namun memberikan kejutan dengan 3.1% secara tahunan.

Minggu ini, menjelang pembicaraan resmi para pejabat di bulan Maret, Inggris dan Uni Eropa akan terus memberikan informasi ke media sikap mereka yang terbaru. Setiap posisi yang lebih keras akan menekan sterling sedangkan kesediaan untuk berkompromi akan mendorong poundsterling naik.

Kalender ekonomi Inggris minggu ini akan mempublikasikan GDP kuartalan yang ke empat. Setelah kembali bertumbuh dengan +0.4% di kuartal ketiga, para ekonom memiliki harapan akan naik menjadi 1% di kuartal ke empat. Selain itu ada Penjualan Ritel yang diperkirakan akan mengalami kebangkitan di dalam belanja bulan Januari. Apabila angka yang keluar sebaliknya turun, hal ini akan memukul poundsterling.

Di Amerika Serikat, virus corona dan angka konsumen menjadi perhatian. Investor ingin agar wabah penyakit pernafasan ini mereda, namun situasi kemungkinan akan menjadi semakin buruk sebelum akhirnya membaik.

Dolar AS kemungkinan akan melekat kepada imbal hasil obligasi, yang akan naik dan turun dengan sentimen global. Treasury akan diburu investor pada saat terjadi masalah. Namun, korelasinya bisa berubah, apabila dolar AS kembali ke status “safe-haven” yang klasik.

Laporan Consumer Price Index diperkirakan akan menunjukkan penurunan di dalam angka CPI inti tahunan dari 2.3% menjdai 2.2% pada bulan Januari, meningkatkan kemungkinan Federal Reserve untuk memangkas tingkat bunga nantinya pada tahun ini. Setiap deviasi dari angka yang kritikal ini akan menggoncang dolar AS. Sementara Penjualan Ritel untuk bulan Januari diperkirakan akan menunjukkan peningkatan yang substansial.

Grafik harian dari pasangan matauang ini menunjukkan momentum penurunan dengan “support” terdekat menunggu 1.2820 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2775 dan kemudian 1.2705. Sedangkan “resistance” terdekat menunggu di 1.2950 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.3010 dan kemudian 1.3075.

Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner  Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here