Moody’s Kukuhkan Peringkat Indonesia pada Investment Grade; Dunia Internasional Tetap Optimis

270
Photo: Vibizmedia

(Vibiznews – Economy) – Lembaga pemeringkat global Moody’s Investor Service (Moody’s) kembali mengafirmasi peringkat sovereign credit rating Indonesia pada level Baa2/outlook stabil (Investment Grade) pada 10 Februari 2020.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyatakan, “Afirmasi rating Indonesia pada level Baa2 dengan outlook stabil oleh Moody’s mengonfirmasi optimisme stakeholders internasional terhadap prospek perekonomian Indonesia di tengah tantangan global maupun domestic,” ujarnya kepada media Senin malam (10/2).

“Prospek perekonomian yang tetap positif tersebut merupakan hasil dari sinergi bauran kebijakan yang selaras antara Bank Indonesia dan Pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong momentum pertumbuhan ekonomi. Ke depan, Bank Indonesia akan mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik dalam memanfaatkan ruang bauran kebijakan yang akomodatif untuk menjaga tetap terkendalinya inflasi dan stabilitas eksternal, serta turut mendukung momentum pertumbuhan ekonomi,” tambah Gubernur BI melalui rilis resminya.

Dalam siaran persnya, Moody’s menyatakan faktor kunci yang mendukung keputusan tersebut adalah pertumbuhan ekonomi yang kuat dan stabil serta rendahnya beban utang Pemerintah, yang dijaga melalui konsistensi disiplin fiskal dan penekanan pada stabilitas makroekonomi.

Di sisi lain, Moody’s juga menyebutkan sejumlah tantangan yang saat ini dihadapi antara lain penerimaan Pemerintah yang rendah, ketergantungan Pemerintah terhadap pendanaan eksternal, serta kerentanan struktur ekonomi terhadap siklus komoditas.

Moody’s berpandangan bahwa PDB yang mencapai lebih dari 1 triliun Dolar AS serta populasi penduduk mencapai lebih dari 260 juta jiwa, dengan kecepatan pertumbuhan populasi yang cukup pesat, mampu mendukung daya tahan ekonomi Indonesia dalam meredam tekanan. Meskipun berada dalam fase pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah, kinerja ekonomi Indonesia mampu terus melampaui sebagian besar negara pada peringkat Baa.

Moody’s menilai reformasi yang terus berlanjut mampu mengatasi secara gradual sejumlah tantangan seperti hambatan yang bersumber dari struktur ekonomi dan peraturan, sistem hukum dan peraturan yang perlu diperjelas, serta pasar keuangan domestik yang belum dalam.

Moody’s mencatat dalam beberapa tahun terakhir reformasi lebih difokuskan pada pembangunan infrastruktur, terutama konektivitas transportasi, dan deregulasi kebijakan untuk mendorong investasi. Pemerintah saat ini telah memperluas fokus reformasi dengan juga memberikan penekanan terhadap pengembangan sumber daya manusia, melalui kebijakan yang ditujukan untuk mengatasi gap dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Selain itu, terdapat pembaharuan fokus untuk memperbaiki kemudahan berusaha, melalui perubahan peraturan ketenagakerjaan dan perpajakan, serta penyederhanaan kebijakan dan prosedur.

Dari sisi fiskal, Indonesia dinilai mampu menjaga beban utang Pemerintah tetap rendah dan defisit transaksi berjalan tetap pada tingkat yang moderat didukung kerangka kebijakan yang berhati-hati dan penekanan pada upaya menjaga stabilitas makroekonomi. Disiplin fiskal dicerminkan oleh komitmen yang kuat untuk menjaga defisit fiskal di bawah batas yang ditentukan. Moody’s memprakirakan utang Pemerintah tetap stabil di kisaran 30% PDB dalam jangka pendek maupun menengah.

Pada sisi eksternal, Moody’s memprakirakan transaksi berjalan Indonesia tetap berada pada tingkat yang moderat dibandingkan negara peer peringkat Baa. Lebih lanjut, bantalan eksternal juga dinilai memadai untuk menjaga ketahanan ekonomi dari berbagai tekanan, yang dicerminkan oleh kecukupan cadangan devisa yang kuat.

Moody’s sebelumnya meningkatkan sovereign credit rating Indonesia menjadi Baa2 outlook stabil, dari Baa3 outlook positif (Investment Grade) pada 13 April 2018.

Analis Vibiz Research Center melihat afirmasi Moody’s ini semakin mengukuhkan dua pemeringkatan internasional sebelumnya dari Fitch dan JCR yang juga kembali menempatkan posisi Indonesia di Investment Grade. Bahkan JCR menaikkan peringkat Indonesia ke BBB+/outlook stabil (investment grade) yang merupakan rating tertinggi yang pernah diberikan untuk Sovereign Credit Rating Republik Indonesia di sepanjang sejarah.

Moody’s menekankan faktor-faktor utama yang membuat Indonesia layak berada pada peringkatnya adalah pertumbuhan ekonomi yang kuat dan stabil serta rendahnya beban utang Pemerintah. Ini sudah membandingkan pada negara peers dengan rating yang sama. Terlebih lagi mengingat semakin labilnya perkembangan ekonomi global dengan munculnya ancaman besar epidemi virus corona yang dapat menarik turun pertumbuhan sejumlah motor ekonomi dunia, terutama China.

Sekali lagi, kestabilan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir dipandang dunia internasional dan pasar global bukan sebagai kegagalan, tetapi sebagai keberhasilan. Resilient economy dari Indonesia nampaknya dinilai sebagai potensi prospek bila ekonomi global menjadi lebih stabil. Ini didukung oleh posisi bonus demografi Indonesia serta didorong oleh reformasi dengan fokus pembangunan infrastruktur dan SDM unggul di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Di sisi lain, mengenai sejumlah tantangan ekonomi, berupa penerimaan Pemerintah yang rendah, ketergantungan Pemerintah terhadap pendanaan eksternal, serta kerentanan struktur ekonomi terhadap siklus komoditas adalah tantangan-tantangan yang belum bisa langsung diatasi dalam jangka pendek. Yang dapat ditarik dari pandangan ini adalah kita harus memperkuat ekonomi domestik, meningkatkan rasio tax to GDP, serta mentransformasi agar struktur ekonomi jangan terlalu berbasis komoditas lagi tetapi bergeser ke sektor manufaktur, jasa, termasuk ekonomi kreatif dan digital.

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here