Di Tengah Wabah Virus, Investor Properti Menunggu “Timing”

545

(Vibiznews – Property) – Isyu wabah virus corona telah membuat kegoncangan di pasar seluruh dunia, baik sektor finansial maupun sektor real. Pasar saham dunia bergejolak, tergerus tajam dengan volatilitas tinggi. Berita resmi terakhirnya (14/3), hampir 5500 orang sudah meninggal dan 145 ribu lebih orang terinfeksi di dunia, dan menyebar ke 145 negara.

Demikian pula penyebaran virus ini ikut memengaruhi dinamika pasar properti dalam negeri, meskipun diperkirakan dampaknya mungkin bukan dalam jangka panjang atau menengah. Dari kalangan pelaku broker properti ada terbetik bahwa saat ini kalangan investor masih cenderung menahan diri untuk membeli properti sekunder.

Hal yang dapat dimengerti, para investor tentunya mencari “timing” yang tepat untuk melakukan aksi investasinya. Banyak yang memilih “wait and see” sembari melihat perkembangan pasar.

Mungkin, saat ini di Indonesia belum terlalu terlihat dampaknya. Tetapi kalau seperti di negeri tetangga kita, Singapura, dampak virus corona ini sangat terasa. Penjualan properti langsung tertekan, karena banyak pembeli properti di sana adalah orang asing dan banyak dominasi dari daratan China.

Merosotnya harga saham, seperti terlihat dari IHSG di tahun ini yang sudah turun 22% (per 13/3), kembali ke level hampir 4 tahun lalu, di satu sisi memberi peluang bagi investor yang memiliki portfolio di pasar modal. Dana investasinya bisa saja dialokasikan ke saham-saham yang berfundamental baik, dengan prinsip “buy low”, atau istilahnya “bargain hunting”.

Walaupun ada juga, sebagian investor, yang hari-hari ini memilih keluar dari pasar modal dulu karena pasar sangat bergejolak. Sulit ditebak ke mana arahnya di tengah penyebaran cepat wabah COVID-19 ini.

Dampaknya memang dana investasi untuk properti cenderung tertahan. Setidaknya sambil menunggu timing yang lebih baik.

Pergerakan yang tertahan tidak berarti berlaku bagi semua segmen. Dari beberapa survei, ada indikasi kenaikan permintaan ruang perkantoran pada tahun 2019. Di samping itu, untuk area residensial dekat transit transportasi publik dilaporkan tetap ramai peminat, dari sisi pengembang maupun konsumennya.

Industri properti dalam negeri tetap berprospek. Banyak pelaku pasar memprakirakan suatu geliat yang lebih kuat akan dimulai pada semester II tahun 2020 ini. Pada saat itu juga, diharapkan, wabah virus corona sudah lebih teratasi.

Investor yang baik tentunya perlu jeli menentukan timing yang tepat.

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting Group

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here