Indonesia Cetak Surplus Perdagangan Februari Ditopang Peningkatan Ekspor

747

(Vibiznews – Economy & Business) Indonesia berhasil mencetak surplus neraca perdagangan pada Februari 2020 sebesar 2,34 miliar dolar AS, dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencatat defisit 0,64 miliar dolar AS. Surplus tersebut terjadi seiring meningkatnya ekspor namun impor turun secara signifikan, demikian rilis Badan Pusat Statistik Indonesia pada Senin (16/03).

Indonesia mencatat total ekspor $ 13,94 miliar pada Februari, naik 11 persen tahun-ke-tahun (yoy), sementara total impor turun 5,11 persen yoy menjadi $ 11,6 miliar karena merosotnya impor dari Tiongkok.

Kenaikan ekspor didukung eleh Ekspor nonmigas Februari 2020 mencapai US$13,12 miliar, naik 2,38 persen dibanding Januari 2020. Demikian juga dibanding ekspor nonmigas Februari 2019, naik 14,64 persen.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Februari 2020 mencapai US$27,57 miliar atau meningkat 4,10 persen dibanding periode yang sama tahun 2019, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$25,94 miliar atau meningkat 7,45 persen.

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Februari 2020 terhadap Januari 2020 terjadi pada logam mulia, perhiasan/permata sebesar US$263,9 juta (44,17 persen), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada besi dan baja sebesar US$211,3 juta (25,73 persen).

Sementara itu, penurunan impor negara itu terjadi di antara semua jenis produk, yaitu barang-barang konsumsi, bahan baku dan barang modal, di tengah penurunan pengiriman dari Tiongkok setelah terjadinya wabah COVID-19.

Impor nonmigas Februari 2020 mencapai US$9,85 miliar atau turun 19,77 persen dibanding Januari 2020 dan jika dibandingkan Februari 2019 juga turun 7,40 persen.

Impor migas Februari 2020 mencapai US$1,75 miliar atau turun 12,05 persen dibanding Januari 2020, namun jika dibandingkan Februari 2019 naik 10,33 persen.

Penurunan impor nonmigas terbesar Februari 2020 dibanding Januari 2020 adalah golongan mesin dan perlengkapan elektrik sebesar US$485,9 juta (28,14 persen), sedangkan peningkatan terbesar adalah golongan gula dan kembang gula sebesar US$214,6 juta (557,40 persen).

Asido Situmorang, Senior Analyst, Vibiz Research Center, Vibiz Consulting

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here