Bank Sentral Dunia vs Coronavirus: Efeknya Terhadap Pasar

201

(Vibiznews-Column) Minggu lalu merupakan minggu yang tidak akan terlupakan di dalam sejarah keuangan dan ekonomi dunia, ketika mengamuknya coronavirus khususnya ke negara-negara Eropa dan memasuki Amerika Serikat telah membuat Dow Jones tersungkur 2,997 poin atau 12,9%. Begitu pula dengan indeks S&P 500, anjlok 12% dan menjadi hari terburuk sejak 1987.  Jatuhnya bursa saham Negara Paman Sam disebabkan penjualan yang dilakukan dengan sangat ekstrem hingga membuat perdagangan di Bursa Efek New York dihentikan selama 15 menit. Itu adalah ketiga kalinya perdagangan dihentikan dalam seminggu terakhir.

Minggu lalu juga tercatat sebagai minggu dengan volatilitas pasar yang paling tinggi dimana indeks volatilitas yang mengukur volatilitas pasar saham – VIX index –  mencapai dua kali lipat pada bulan Maret dan pada hari Senin tanggal 16 Maret melonjak 43% mencapai rekor ketinggian diatas 80, menjadi 86,69. Angka ini merupakan rekor terburuk sejak 24 Oktober 2008. Sebagai perbandingan, pada waktu krisis keuangan dan hutang Uni Eropa beberapa tahun yang lalu, VIX index hanya naik sampai 30.0. Pada waktu itu saja pasar sudah heboh.

Volatilitas pasar yang demikian tinggi disebabkan oleh kepanikan pasar karena perkembangan dari merebaknya wabah coronavirus  telah menyerbu masuk ke negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Perkembangan Coronavirus Yang Mendunia

Coronavirus sejauh ini telah merenggut lebih dari 16.000 orang, dan menularkan kepada lebih dari 380.000 orang di 195 negara di dunia.

Di Eropa Presiden Perancis Emmanuel Macron berkata:”Kita sedang dalam perang”, ketika dia mempresentasikan larangan-larangan baru. Perancis ditutup sejak minggu lalu. Aktifitas yang non-esensial dilarang.

Jerman menutup bar, bioskop dan museum. Sementara Kanselir Jerman Angela Merkel sendiri terkena isolasi sendiri setalah seorang dokter yang mengadakan kontak dengan dia terbukti positif COVID-19.

Spanyol memberlakukan sistem kesehatan pribadi.

Itali yang menjadi pusat wabah di Eropa terus mencatat ratusan kematian dalam seharinya, sampai 627 orang sehari, dengan jumlah kematian sudah melebihi Cina, diatas 6000 orang.

Beberapa negara juga menutup perbatasan mereka, dengan Uni Eropa merekomendasikan larangan masuk dan keuar dari Uni Eropa. Langkah-langkah ini telah mengakibatkan dampak ekonomi yang besar dimana maskapai-maskapai penerbangan meminta bantuan pemerintah dan pabrik-pabrik mobil banyak yang tutup.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berbalik arah dari kebijakan “herd-immunity”nya, bergerak maju termasuk menutup sekolah-sekolah. Inggris baru saja mengumumkan akan memberlakukan “lockdown” penuh mulai hari Selasa dengan publik Inggris hanya diijinkan untuk meninggalkan rumah untuk membeli makanan, obat atau melakukan pekerjaan-pekerjaan penting. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson memberikan instruksi agar setiap orang Inggris diam di rumah.

Di Amerika Serikat kasus telah mencapai lebih dari 43.000 orang dan menduduki ranking ke 3 sesudah Cina dan Itali. Keyakinan para trader dan investor kelihatannya bergerak dari “buruk” menjadi “lebih buruk” pada awal minggu perdagangan yang baru dengan pada akhir minggu lalu, perdagangan AS yang non-essential mulai ditutup ditengah pandemik coronavirus. Pusat perbelanjaan utama ditutup, sekolah-sekolah publik ditutup. Colorado menutup semua arena skinya dan beberapa negara bagian telah memerintahkan menutup bar dan restoran. Maskapai penerbangan AS sedang berada dalam bahaya keuangan dengan menurunnya trafik penumpang. Semua ini menyusul pergerakan pada minggu lalu yang menutup semua event olahraga di Amerika Serikat. Center for Disease Control AS telah memperingati orang Amerika untuk berdiam di rumah dan merekomendasikan agar perkumpulan dari 50 atau lebih orang dibatalkan untuk paling tidak dua bulan kedepan.

Gubernur New York Andrew Cuomo telah memerintahkan menutup seluruh wilayah New York atau lockdown mulai efektif Minggu Malam (22/3/2020) pukul 20.00. 
Sementara Gubernur California Gavin Newsom juga telah lebih dahulu mengumumkan lockdown dan meminta kepada 40 juta penduduk California untuk tinggal di rumah sejak Kamis (19/3/2020).

Efek Negatif  Wabah Coronavirus Terhadap Pasar

Selain menyebabkan ambruknya harga-harga saham global di seluruh dunia, volatilitas pasar yang sedemikian tinggi telah menyebabkan analisa trading para ahli dan professional pasar berantakan. Komoditi keuangan bertingkah laku yang tidak seperti biasanya lagi. Emas yang merupakan assets “safe-haven” yang paling kuat ikut berperilaku anomali. Emas yang seharusnya naik karena diburu oleh para investor dan trader untuk mengamankan posisi mereka, malah turun. Harga emas pada hari Selasa tanggal 17 Maret diperdagangkan turun tajam di dalam kondisi pasar yang panik pada awal perdagangan sesi Amerika Serikat. Harga emas menyentuh kerendahan selama tiga bulan. Emas berjangka bulan April pada hari itu turun $44.30 per ons dan diperdagangkan di $1,472.00.

Seorang trader veteran berkomentar,”Berikan kami berita buruk dan kami akan bisa mengatasinya. Namun, berikan kami ketidakpastian yang ekstrim dan kepanikan dan dislokasi pasar, maka kami akan sangat sulit untuk bisa mengatasinya.”

Berubahnya perilaku dari emas sehingga tidak menarik lagi sebagai assets “safe-haven” disebabkan karena orang memburu dolar AS gila-gilaan dengan tidak terbendung sehingga dolar AS terbang tinggi mencapai rekor ketinggian. Indeks dolar AS naik dan menyentuh ketinggian tiga tahun yang baru dimana  indeks dolar AS, DXY diperdagangkan disekitar 103. Pasar dunia telah melihat konfirmasi bahwa dolar AS masih raja ketika keadaan benar-benar sulit. Hampir semua orang berusaha untuk memegang dolar AS sebagai tempat penyimpanan “safe-haven”.

Pada minggu lalu seolah-olah segala sesuatu sedang dijual – penjualan gila-gilaan. PHK yang masif yang disebabkan oleh karena lumpuhnya ekonomi negara maju memicu “exodus” besar-besaran dari saham. Para investor berebut menjual saham – kadang bertentangan dengan keinginan mereka sendiri – dan memburu dolar AS. Naiknya dolar AS membuat matauang utama dunia lainnya bertumbangan.

Pada tanggal 18 Maret, Poundsterling tumbang tanpa bisa dihentikan, jatuh bersamaan dengan permintaan akan dolar AS yang gila-gilaan, membuat matauang Inggris ini turun ke level terendah sejak tahun 1985 di 1.1440. Stress karena kurangnya persediaan dolar AS telah membuat GBP/USD turun ke level terendah selama 35 tahun, turun kesekitar 1.800 pips dalam waktu 10 hari, dan menimbulkan volatilitas yang sangat tinggi. Sementara itu dari Eropa, pada tanggal 19 Maret, EUR/USD jatuh ke bawah 1.07, ke level terendah sejak tahun 2017. Permintaan akan dolar AS tetap tinggi sementara euro masih berjuang setelah ECB mengumumkan program Quantitative Easing yang baru senilai €750 miliar.

Bank Sentral Dunia Menembakkan Senjata Berat

Kepanikan yang menyerbu pasar membuat para bank sentral utama dunia membuat pengumuman dan mengambil langkah-langkah penyelamatan.

Setelah memangkas tingkat suku bunga sebesar 50 basis poin beberapa minggu yang lalu, Federal Reserve AS mengumumkan tambahan pemotongan 100 basis poin pada hari Minggu sore tanggal 15 Maret yang membuat tingkat bunga Federal Reserve AS menjadi 0%-0.25%. The Fed juga memompa tambahan $700 miliar Quantitative Easing ke sistem keuangan AS dan membuka jalur “swap” dengan bank sentral utama lainnya, sebagai usaha untuk tetap menjaga likuiditas di pasar keuangan. The Fed membuat likuiditas “swaps” dolar dengan 5 banks sentral yaitu Bank of Canada, Bank of England, Bank of Japan, ECB dan Swiss National Bank. Selanjutnya bank sentral AS ini juga memperluas jalur “swap”nya ke 9 bank sentral lainnya, yang akan berlangsung paling sedikit selama 6 bulan.

Presiden Trump dan Kongres pada akhir minggu 15 Maret setuju untuk menambah bantuan bagi bisnis dan konsumen yang terdampak negatif oleh wabah coronavirus dengan ukuran sebesar paket stimulus pada tahun 2009.

Bank sentral dunia lainnya pada akhir minggu tanggal 15 Maret juga mengumumkan tindakan lebih jauh untuk mengecilkan dampak negatif terhadap ekonomi dari wabah coronavirus yang telah menciptakan kegoncangan di seluruh dunia.

Keputusan-keputusan dari bank-bank sentral utama dunia ini dimaksudkan untuk membantu para bank sentral untuk memenuhi permintaan terhadap dolar AS dari institusi keuangan dan perusahaan-perusahaan lokal yang sedang kalut ditengah krisis coronavirus. Sebagai tambahan, the Fed pada hari Selasa minggu lalu tanggal 17 Maret, mengumumkan akan membangkitkan kembali jalur tol yang digunakan dalam krisis keuangan pada tahun 2008. Melalui Federal Reserve New York, bank sentral AS ini akan mulai membeli obligasi-obligasi perusahaan untuk memberikan dana jangka pendek bagi bisnis.

Setelah pasar tutup pada hari Rabu 18 Maret, the Federal Reserve masih menambah lebih banyak likuiditas jangka pendek ke sistem keuangan Amerika Serikat. Pemerintah Amerika Serikat juga mengusulkan paket bantuan keuangan bagi pebisnis dan penduduk Amerika, suatu rencana stimulus bernilai $1,2 triliun – termasuk memberikan cek senilai $1000 atau lebih kepada setiap orang Amerika.

European Central Bank tidak ketinggalan dibelakang. Pada akhir hari Kamis 19 Maret, Lagarde dan kawan-kawan mengumumkan paket darurat, senilai €750 miliar untuk membeli saham-saham sektor publik dan swasta, yang diberi nama,”pandemic emergency purchase support” (PEPP).

Andrew Bailey, Gubernur Bank of England memangkas tingkat suku bunga menjadi 0.10% – level yang terendah di dalam sejarah 300 tahun dari bank sentral Inggris ini. Dia juga mengumumkan program Quantitative Easing yang baru senilai £200. Chancellor of the Exchequer Inggris mengeluarkan rencana-rencana baru tiap hari.

Sementara Jerman yang selama ini lebih banyak mendiskusikan langkah-langkah yang konservatif saja, pada hari Kamis tanggal 19 Maret, berkata bahwa Jerman akan melakukan apa saja yang diperlukan, untuk membatasi dampak negatif dari wabah coronavirus. Jerman dilaporkan berencana membuat “Solidarity Fund” sampai 40 miliar euro, untuk mendukung usaha kecil dan pribadi, memberikan dana talangan bagi usaha kecil dan para pekerja yang terkena dampak negatif dari krisis yang sedang berlangsung.

Pada hari Senin tanggal 23 Maret kemarin, Federal Reserve membuat pengumuman darurat yang ketiga di dalam beberapa minggu ini.

Federal Reserve mengumumkan program quantitative easing terbuka tanpa batas. Bank sentral AS ini mengatakan akan membeli surat berharga Treasury dan surat berharga yang dijamin “mortgage” agen dalam jumlah sebanyak yang diperlukan untuk mendukung pasar berfungsi dengan mulus dan mendukung tersalurkannya kebijakan moneter dengan efektif sehingga mengembangkan ekonomi dan kondisi keuangan.

Federal Reserve mengatakan di dalam pernyataannya,”Pandemik coronavirus sedang menyebabkan kesukaran yang besar di seluruh AS dan dunia. Sementara masih ada ketidak pastian yang besar, jelas ekonomi kita akan menghadapi disrupsi yang keras. Usaha yang agresif harus diambil diseluruh sektor swasta dan publik untuk membatasi kerugian terhadap pekerjaan dan penghasilan dan mempromosikan pemulihan yang cepat begitu disrupsi mereda.”

Efek Kebijakan Bank Sentral Dunia Terhadap Pasar

Kebijakan dari the Fed yang diumumkan pada hari Senin kemarin malam memberikan kepastian likuiditas di pasar keuangan untuk kedepannya dan mengurangi volatilitas yang selama ini berlangsung. Pengumuman dari the Fed kemarin malam langsung berdampak positip terhadap pasar dengan saham-saham Amerika Serikat mengalami kenaikan meskipun pada perdagangan akhir mengalami tekanan kembali.

Dolar AS langsung melemah dengan berita ini, sementara saham bangkit di Eropa maupun di Amerika Serikat oleh karena berita ini, menuju warna hijau, meskipun Senat Amerika Serikat yang dikuasai Demokrat karena banyaknya anggota dari Republik yang terkena coronavirus tidak bisa hadir, menolak undang-undang stimulus yang dibawa oleh Republikan.

Pengumuman langkah-langkah baru the Fed kemarin Senin telah membalikkan arah pasar. S&P500 futures yang sebelumnya sempat menyentuh kerendahan harian sebesar 2182 poin, setelah dimulai perdagangan sesi Eropa Senin kemarin, dengan cepat, hanya dalam hitungan menit, mengalami “rebound”, bangkit lebih dari 5%, mencapai level +3%.

Pasar emas kelihatannya akhirnya bereaksi terhadap likuiditas dari bank sentral yang masif setelah Federal Reserve membuat pengumuman darurat yang ketiga di dalam beberapa minggu ini.

Harga emas yang seminggu lalu terus mengalami tekanan, naik lebih dari 2% sebagai reaksi terhadap tindakan darurat terbaru dari Federal Reserve ini untuk mendukung ekonomi AS. Emas berjangka bulan April terakhir diperdagangkan pada $1,523.50 per ons, naik 2.62% dan sampai saat ini terus naik mencapai $1,577.60.

GBP/USD telah naik dari kerendahannya di bawah 1.1500 ke sekitar 1.1650 setelah the Fed mengumumkan pembelian obligasi tanpa batas.

Pasangan matauang EUR/USD diperdagangkan pada ketinggian harian di 1.0770 menjelang pembukaan perdagangan sesi Amerika Serikat, setelah pengumuman dari Federal Reserve AS.

Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner  Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here