Ide Beberapa Ekonom Dunia Menghindari Bencana Ekonomi Covid-19; Pemerintah RI Sudah Searah

521
Presiden Joko Widodo. FOTO: BIRO PERS SETPRES

(Vibiznews – Economy) – Akibat pandemi virus corona perekonomian banyak negara telah terpukul dengan cara yang mengejutkan. Pasar saham tergerus tajam, lalu diikuti dengan dampak yang lebih seismik – gelombang penutupan bisnis, membuat jutaan pekerja dalam risiko pengangguran hari ini.

Mengutip media NPR (National Public Radio) pada 24/3, disebutkan bahwa momen seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kita berjuang melawan penularan wabah yang mematikan dan penurunan ekonomi yang tiba-tiba secara bersamaan. Baik aspek kesehatan maupun kesejahteraan materi dalam risiko saat ini. Itu membuat pencarian solusi menjadi lebih menantang. Tidak ada buku pedoman dari kemerosotan ekonomi masa lalu yang dapat diandalkan – karena hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

NPR telah meminta kepada beberapa ekonom terkemuka dunia untuk berbagi ide-ide mereka. Berikut adalah cuplikan yang diedit dari pendapat mereka.

Megan Greene, seorang ekonom global dan senior fellow di Harvard Kennedy School. Dia mengatakan prioritasnya haruslah untuk membatasi kerugian bagi pekerja yang paling rentan – yaitu mereka yang bekerja secara per jam dan pemilik usaha kecil.

  • Mendukung program pembagian kerja (work-sharing).
  • Work-sharing telah sangat sukses digunakan di Jerman dan Belanda saat dalam menghadapi kemerosotan ekonomi. Ketimbang memberhentikan karyawan, pengusaha memilih mengurangi jam kerja mereka. Kalau di AS, para pekerja itu kemudian dapat menerima kredit pajak dari pemerintah atau mengklaim asuransi pengangguran pengganti sebagian dari upah yang hilang.
  • Pembagian kerja mengurangi beban penggajian untuk UKM sehingga mereka dapat tetap bertahan sampai krisis mereda. Dan ketika pemulihan dimulai, perusahaan-perusahaan itu dapat pulih dengan cepat, ketimbang merekrut dan melatih lagi pekerja baru.

Penny Goldberg, profesor ekonomi di Universitas Yale dan mantan chief economist dari World Bank Group. Dia mengatakan prioritas kebijakan ekonomi harus untuk mengatasi krisis perawatan kesehatan (health care crisis).

  • Arahkan sumber daya secara besar-besaran ke sektor perawatan kesehatan. Ambil langkah-langkah untuk meningkatkan pasokan masker, sanitizer, alkohol, respirator, dan ventilator.
  • Bertindak cepat. Kita harus memandang situasi saat ini sebagai perang, bukan hanya krisis ekonomi. Pastikan menghapus aneka biaya untuk perawatan kesehatan. Setiap orang yang membutuhkan perawatan medis harus mendapatkannya, terlepas dari kemampuan bayar mereka.
  • Larang pengusiran orang yang tidak bisa membayar sewa; larang penyitaan; tunda pengajuan kebangkrutan.
  • Hindari PHK, berapa pun biayanya. Sedapat mungkin, usahakan beralih ke pekerjaan paruh waktu atau kurangi jam kerja. Jika perusahaan tidak memiliki uang tunai untuk menggaji karyawan, tidak usah bayar, tetapi jangan PHK. Mempertahankan pekerjaan seseorang (meskipun hanya ilusi pekerjaan) akan memberikan dukungan psikologis dan sinyal bahwa kita bisa hadapi ini bersama-sama. Kalau tidak, risiko kita bukan hanya resesi, tetapi kekacauan sipil.
  • Masa yang luar biasa ini membutuhkan tindakan yang luar biasa.
  • Selain itu, pemerintah perlu memberi ketenangan bahwa akan membangkitkan kembali ekonomi pasca krisis. Setelah krisis, stimulus fiskal yang agresif adalah keharusan.

Jeffrey Sachs, profesor pembangunan berkelanjutan di Universitas Columbia. Menurutnya ekonomi tidak akan mulai pulih sampai tersedianya langkah-langkah kesehatan masyarakat yang kritis. Dia menyampaikan beberapa pendapat.

  • Lockdown untuk memutus transmisi virus, selama beberapa minggu dan kemudian dikurangi. Tingkatkan pengujian dan penelusuran kapasitas untuk keluar dari fase lockdown. Memilah-milah sektor kesehatan sesuai gelombang penyakit yang terjadi.
  • Dana darurat dan cepat dari pemerintah untuk wilayah dan kota yang menyediakan pembiayaan untuk sektor kesehatan dan dukungan sosial dari penguncian (pekerja kesehatan dan sosial, peralatan proteksi, area isolasi, dll.).
  • Perluasan kompensasi pengangguran dan kredit pajak untuk mempertahankan pekerja dalam daftar gaji. Sebagian besarnya ini dapat dibiayai dengan utang.

Gita Gopinath, chief economist dari IMF. Dia mengatakan bantuan harus diberikan kepada para pekerja yang paling langsung terkena dampak dari langkah pengendalian wabah.

  • Prioritaskan mereka yang paling membutuhkan dukungan.
  • Pekerja di sektor restoran, transportasi, dan perhotelan adalah yang termasuk paling terpukul oleh kebutuhan social distancing. Setiap hari, bertambah banyak pekerja yang diberhentikan atau mendapat cuti yang tidak dibayar. Para pekerja ini membutuhkan dukungan pendapatan untuk memberi makan keluarga mereka, dan pemerintah perlu mengirim dana ke mereka agar mereka dapat bertahan dalam situasi ini.

Demikian sebagian pendapat yang dilansir dari NPR (24/3).

 

Sejalan Kebijakan Stimulus Pemerintah

Analis Vibiz Research melihat saran atau ide terkini para ekonom kelas dunia ini terutama banyak terfokus untuk menyelamatkan sektor perawatan kesehatan (health care), membantu sektor-sektor ekonomi yang paling terdampak Covid-19, termasuk kelompok segmen UKM, serta mencegah terjadinya PHK massal.

Membandingkan sebagian besar saran tersebut, dapat dikatakan bahwa sejumlah langkah pemerintah di bawah Presiden Jokowi yang sudah diambil nampaknya telah cukup searah atau sejalan. Melalui program stimulus pemerintah Jilid I dan II, ditambah paket-paket stimulus dari BI dan OJK yang dikoordinasikan secara paralel, cukup jelas bahwa sektor kesehatan, sektor ekonomi terdampak, segmen UKM, sampai pekerja harian –termasuk pengemudi on-line- telah diperhitungkan dalam kebijakan-kebijakan Pemerintah. Termasuk juga, yang terakhir, rencana skema recovery bond untuk mencegah PHK besar-besaran di dunia usaha swasta.

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here