Prospek Resesi Global dan Investor Menahan Likuiditas oleh Covid-19 – Market Outlook by Alfred Pakasi, 6-10 April 2020

739

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi global pada minggu lalu masih diwarnai dengan kekhawatiran investor atas prospek resesi ekonomi global karena wabah Covid-19 serta mencerna paket-paket stimulus masif yang digelontorkan berbagai negara. Untuk korban virus, berita resmi terakhirnya, sudah lebih dari 59 ribu orang meninggal dan 1.1 juta orang terinfeksi di dunia, dan menyebar ke 205 negara dan teritori. Pasar saham dunia masih volatile, tetapi IHSG melanjutkan rebound-nya. Investor global memilih antara likuiditas terutama USD atau kembali ke bursa saham, sehingga US dollar balik menguat dan indeks saham berfluktuasi turun naik.

Minggu berikutnya, isyu campuran antara pandemi Covid-19, bargain hunting, dan program stimulus akan mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Market Review and Outlook 6-10 April 2020.

Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau menguat kembali di minggu keduanya, berlawanan arah dengan bursa regional, dengan masuknya dana-dana asing oleh program stimulus dalam negeri dari pemerintah dan otoritas moneter. Sementara itu, bursa kawasan Asia umumnya kembali melemah. Secara mingguan IHSG ditutup menguat 1.71% ke level 4,623.429. Membukukan kenaikan 12.43% dalam 2 minggu terakhir. Untuk minggu berikutnya (6-10 April 2020), IHSG kemungkinan masih berpeluang melanjutkan kekuatannya walau pasar masih akan fluktuatif. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 4937 dan kemudian 5364, sedangkan support level di posisi 4311 dan kemudian 3911.

Ada info baik dari pasar modal Indonesia ini, dimana aktivitas IPO saham di Indonesia tercatat yang tertinggi di Asia Tenggara pada kuartal I-2020, dengan 18 perusahaan telah melangsungkan IPO.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terpantau masih melemah namun di akhir minggu bergerak rebound kuat oleh masuknya kembali dana-dana asing, sementara dollar global juga dalam fase penguatannya, sehingga rupiah secara mingguannya melemah -1.77% ke level Rp 16,425. Namun penguatan akhir pekan menjadikan rupiah kembali tercatat sebagai mata uang terkuat di kawasan Asia terhadap USD di ujung minggu. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan sempat turun, atau bias positif bagi rupiah dalam pasar yang fluktuatif, dalam range antara resistance di level Rp16,570 dan Rp16,640, sementara support di level Rp16.060 dan Rp15,925.

Untuk membantu rakyat dalam rangka menghadapi pandemi COVID-19, Pemerintah RI telah mengeluarkan kebijakan menyediakan dana tambahan APBN 2020 senilai Rp405.1 Triliun, yang terdiri dari:

  • Rp75 T untuk bidang kesehatan,
  • Rp110 T untuk perlindungan sosial,
  • 70.1 T untuk insentif perpajakan dan stimulus KUR,
  • Rp150 T untuk pemulihan ekonomi nasional.

Sedangkan dari sisi kebijakan moneternya dalam memitigasi dampak COVID-19, BI telah mengeluarkan bauran kebijakan, di antaranya:

  • Menurunkan suku bunga BI7DDR pada Februari dan Maret sebesar total 50bps,
  • Meningkatkan intensitas triple interventiondi pasar spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder,
  • Menurunkan GWM (Giro Wajib Minimum) Valas dan GWM Rupiah, dll.

BI juga menyatakan nilai tukar Rupiah saat ini sudah memadai level-nya, dan diyakini nilai tukar Rupiah akan bergerak stabil dan akan menguat ke sekitar Rp15.000/USD pada akhir tahun ini. Sementara itu, rencana pembelian SBN oleh BI di pasar perdana berfungsi sebagai “The Last Resort”.

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar secara umum menguat sebagai aset safe haven maupun pilihan likuiditas di tengah prospek suramnya resesi ekonomi global, dimana indeks dolar AS secara mingguan berakhir menguat ke 100.58. Sementara itu, pekan lalu euro terhadap dollar terpantau melemah tajam ke 1.0809. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1148 dan kemudian 1.1238, sementara support pada 1.0637 dan 1.0571.

Pound sterling minggu lalu terlihat melemah ke level 1.2262 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.2486 dan kemudian 1.2978, sedangkan support pada 1.1466 dan 1.1409. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir menguat ke level 108.46.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 111.72 dan 112.22, serta support pada 106.91 serta level 105.14. Sementara itu, Aussie dollar terpantau melemah ke level 0.5996. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.6215 dan 0.6328, sementara support level di 0.5701 dan 0.5507.

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum masih melemah di tengah kekhawatiran pasar atas arah perekonomian global selanjutnya serta harga minyak bumi yang fluktuatif. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau berakhir melemah ke level 17,820. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 19564 dan 20347, sementara support pada level 17197 dan 16358. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melemah terbatas ke level 23,236. Minggu ini akan berada antara level resistance di 23791 dan 24184, sementara support di 21139 dan 20304.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau melemah dalam minggu yang volatile dengan bertambahnya korban jiwa di AS karena virus corona dan data tenaga kerja yang merosot ke posisi tahun 2009 lalu. Indeks Dow Jones secara mingguan melemah ke level 21,052.53, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 22595 dan 23190, sementara support di level 19649 dan 18213. Index S&P 500 minggu lalu melemah ke level 2,488.65, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 2641 dan 2711, sementara support pada level 2344 dan 2191.

Pasar Emas

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau fluktuatif antara sebagai safe haven karena naiknya korban jiwa Covid-19, data tenaga kerja AS yang mengkhawatirkan, namun tertahan dengan penguatan US dollar, sehingga harga emas spot terkoreksi 0,25% ke level $1,616.20 per troy ons. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistant di $1647 dan berikut $1703, serta support pada $1566 dan $1451.

Pasar investasi memang kerap bergerak tak terduga dan sebagian orang akan menyebutnya sebagai “anomaly”, atau juga “over reactive”. Namun demikian, kalau Anda rajin ikuti ulasan market outlook ini harusnya Anda akan sependapat bahwa banyak prediksi pergerakan pasar yang ternyata akurat di situasi aktualnya. Bisa jadi, Anda sudah tersenyum menikmati sejumlah profit investasi selama ini. Syukurlah bila demikian. Bagi Anda yang belum menikmati trading profit yang diharapkan, masih ada banyak kesempatan di depannya. Bersamalah kami terus, karena seperti Anda tahu, kami hadir demi sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!  Juga disampaikan, bagi pembaca yang menjalaninya pada minggu ini: Selamat hari Jumat Agung! Stay home, stay healthy.

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here