Kebijakan Moneter Longgar dan Tensi Dagang Baru? — Market Outlook, 4-8 May 2020 by Alfred Pakasi

857

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi global pada minggu lalu diwarnai dengan kembalinya permintaan risk asset, komitmen kebijakan moneter longgar bank sentral global, harapan baru pengobatan virus dari Gilead Science – AS, serta di akhir pekan diramaikan pernyataan Trump bahwa asal virus corona dari laboratorium di Wuhan China yang memicu potensi naiknya tensi dagang kembali antara AS dan China. Untuk korban virus, berita resmi terakhirnya, sudah sekitar 3.4 juta orang terinfeksi di dunia dan lebih dari 239 ribu orang meninggal, dan menyebar ke 212 negara dan teritori. Pasar saham dunia terpantau fluktuatif, dollar AS dan emas terkoreksi dengan berkurangnya permintaan safe haven, sementara Rupiah kembali tercatat sebagai mata uang terkuat se-Asia di minggu keempatnya.

Minggu berikutnya, isyu antara kemungkinan naiknya tensi dagang lanjutan AS-China, preferensi risiko investor, kebijakan moneter bank sentral dunia, dan pergerakan harga minyak dunia akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Market Review and Outlook 4-8 May 2020.

===

Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau menguat khususnya di hari terakhir pasar, Kamis, sampai 3.3% oleh masuknya lagi dana investor asing ke pasar modal dan pasar uang. Sementara itu, bursa kawasan Asia umumnya juga bias menguat. Secara mingguan IHSG ditutup rebound tajam 2.67% ke level 4,716.403. Untuk minggu berikutnya (4-8 Mei 2020), IHSG kemungkinan masih berpeluang menguat, dengan agak ditahan profit taking di awal minggu. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 4975 dan kemudian 5364, sedangkan support level di posisi 4441 dan kemudian 4317.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terpantau dalam tren penguatan terutama di hari terakhir pasar di tengah mengalirnya capital inflow, sampai di bawah level Rp15,000, sementara dollar global dalam tren melemah, sehingga rupiah secara mingguannya menguat tajam 3.41% ke level Rp 14,875. Rupiah kembali lagi tercatat sebagai mata uang terkuat di kawasan Asia terhadap USD di akhir minggu, bahkan selama 4 minggu berturut-turut. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan turun, atau bias positif bagi rupiah dalam pergerakan yang agak konsolidatif, dalam range antara resistance di level Rp15,610 dan Rp15,825, sementara support di level Rp14.610 dan Rp14,095.

Dalam rangka mitigasi dampak penyebaran COVID-19, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, pada pekan lalu menyampaikan beberapa hal terkait perkembangan terkini perekonomian dan kebijakan yang ditempuh BI, antara lain:

  • Inflasi disebutkan terkendali dan rendah. Inflasi bulan April 2020 diprakirakan sekitar 0,18% (mtm) atau 2,78% (yoy).
  • Nilai tukar Rupiah bergerak stabil dan cenderung menguat ke arah Rp15.000/USD di akhir tahun. (Bahkan sekarang sudah di bawah Rp15.000/USD).
  • Keikustertaan BI dalam pembeliaan SBN di pasar Perdana. Dari jumlah dimenangkan pada pelaksanaan lelang SBN sebesar Rp16,6 trilun, maka Rp2,3 trilun untuk BI, sisanya Rp14,3 triliun dimenangkan pasar.
  • Implementasi kebijakan quantitative easing yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia adalah sebesar Rp503,8 triliun.

 

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar secara umum melemah oleh berkurangnya permintaan aset safe haven di tengah pernyataan the Fed yang akan menambah kebijakan moneter longgarnya, dimana indeks dolar AS secara mingguan berakhir melemah ke 99.08. Sementara itu, pekan lalu euro terhadap dollar terpantau menguat ke 1.0981. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1148 dan kemudian 1.1238, sementara support pada 1.0726 dan 1.0637.

Pound sterling minggu lalu terlihat menguat ke level 1.2492 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.2648 dan kemudian 1.2978, sedangkan support pada 1.2247 dan 1.2164. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah ke level 106.91.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 108.10 dan 109.39, serta support pada 106.36 serta level 105.14. Sementara itu, Aussie dollar terpantau menguat ke level 0.6418. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.6571 dan 0.6686, sementara support level di 0.6252 dan 0.5979.

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum cenderung menguat oleh berita positif pengobatan terhadap virus corona Wuhan dan penambahan kebijakan moneter longgar bank sentral global. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau berakhir menguat terbatas ke level 19,619. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 20347 dan 21720, sementara support pada level 17646 dan 17197. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir menguat ke level 24,643. Minggu ini akan berada antara level resistance di 24667 dan 26805, sementara support di 22756 dan 21139.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau sempat menanjak lalu tergelincir di akhir pekan oleh kekhawatiran pasar atas akan adanya kenaikan tensi dagang lagi antara AS dan China. Indeks Dow Jones secara mingguan melemah terbatas ke level 23,723.69, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 24765 dan 25020, sementara support di level 22942 dan 22634. Index S&P 500 minggu lalu melemah tipis ke level 2,830.71, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 3083 dan 3137, sementara support pada level 2721 dan 2447.

Pasar Emas

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau fluktuatif dengan tekanan melemah oleh kembalinya preferensi risk asset, tetapi di akhir pekan rebound oleh ancaman akan ada tariff baru bagi China, sehingga harga emas spot secara mingguan terkoreksi 1.68% ke level $1,700.41 per troy ons. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistant di $1748 dan berikut $1755, serta support pada $1661 dan $1597.

 

Dinamika pasar terus bergerak secara aktif, naik turun di pasar investasi. Dari ancaman resesi ekonomi global, fluktuatifnya harga berjangka minyak dunia, rencana pembukaan kembali ekonomi Amerika, China yang mendapat tekanan atas sumber virus corona dan bersiap menghadapi perang dagang kembali, dan seterusnya. Itu yang ramai terjadi dalam pasar financial global. Kalau Anda tidak punya banyak waktu dan kesempatan untuk mengikuti dan mengartikan pergerakan pasar demikian, Vibiznews.com dapat membantu Anda sepenuhnya serta memanfaatkannya untuk keputusan investasi yang lebih akurat. Terima kasih telah bersama kami karena mengingat kami ada demi sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here