Energi Terbarukan adalah Masa Depan Dunia pada Paska Pandemi

787
Source: Terregra

(Vibiznews – Economy & Business) – Polusi udara telah sangat memengaruhi banyak aspek kehidupan manusia. Di samping telah menyebabkan kematian sekitar tujuh juta orang setiap tahunnya, juga telah membuat kita semua lebih rentan terhadap aneka jenis sakit pernapasan, termasuk, tentu saja, Covid-19. Dikhawatirkan wabah virus ini bisa menjadi musiman dan akan berulang.

Dilansir dari Forbes (4/5), isyu tentang dunia paska pandemi virus corona ini merupakan tulisan menarik dari pandangan salah satu kontributor seniornya untuk Leadership Strategy, Enrique Dans, yang berpendapat bahwa energi terbarukan adalah satu-satunya jalan ke depan untuk mengatasi polusi (Renewable energy is the only way forward).

Menurut Enrique: “Kita bukan hanya tahu bahwa kita harus memperbaiki masalah ini; kita juga tahu bahwa kalau tidak melakukan perbaikan ini akan membunuh kita, dan sekarang kita sudah memiliki contoh yang mendesak.” Berikut pandangannya dengan editing sebagian.

Seorang kartunis dari media The Economist, menggambarkan dengan baik dalam kartunnya minggu lalu: pertempuran yang dilakukan umat manusia melawan virus corona hanya merupakan suatu babak penyisihan. Setelah itu, kita memiliki lawan yang jauh lebih besar dan lebih kuat yang menunggu kita, disebut dengan “the climate emergency” (darurat iklim).

Source: Economist.com

Bahwa ada sebagian orang masih berpikir industri bahan bakar fosil sebagai salah satu pencapaian terbesar yang bisa dibuktikan secara obyektif dan ilmiah. Tidak demikian, menurut Enrique. Ini justru ancaman terbesar bagi kehidupan manusia.

Listrik yang dihasilkan melalui bahan bakar fosil menyumbang 25% dari emisi berbahaya di dunia, sementara sektor manufaktur dan transportasi, yang juga merupakan konsumen besar, masing-masing bertanggung jawab atas porsi 21% dan 14%. Jika ada satu perubahan yang memiliki dampak besar pada darurat iklim, itu adalah poros untuk energi terbarukan. Dan untuk hal ini ada dua komponen dasar yang dibutuhkan: panel surya (solar panels) dan baterai untuk menyimpan energi, yang tunduk pada skala ekonomi untuk membuatnya semakin efisien dan terjangkau.

Ekonomisnya energi terbarukan saat ini sudah semakin dikenal lebih luas. Bertahun-tahun yang lalu, energi terbarukan hanya kompetitif jika didukung oleh subsidi pemerintah. Sekarang, situasinya telah terbalik. Menurut Enrique, saat ini sejumlah perusahaan minyak menerima lebih dari $5 miliar setiap tahun dalam bentuk subsidi pemerintah (AS), dan mereka tidak memiliki masalah untuk mendapatkan kredit perbankan.

Sementara itu, energi terbarukan sudah lebih murah daripada minyak, gas atau batu bara, fakta yang seharusnya mengubah lanskap energi global. Microsoft kabarnya memiliki rencana ambisius untuk membalikkan semua emisi yang dihasilkan aktivitas perusahaan oleh dorongan keinginan untuk mengimplementasikan perubahan lanskap energi itu.

Menurut Enrique, yang juga adalah dosen Inovasi di IE Business School – Madrid: “Energi terbarukan telah menyumbang porsi 72% dari sumber energi baru yang dibangun instalasinya pada tahun 2019, ini didukung oleh prospek investasinya yang dapat mencapai potensi return 800%.”

Batubara, di sisi lain, adalah mesin yang merugikan, dan nilai ekonominya sama beracunnya dengan emisinya. Bahkan produsen batu bara besar seperti Australia berencana untuk melakukan penghematan besar-besaran dari turunnya biaya energi terbarukan, dan memperkirakan 90% dari pasokan energinya akan berbasiskan energi matahari dan angin pada tahun 2040, tanpa harus membebani konsumen untuk membiayai instalasinya. Norwegia berencana untuk melakukan elektrifikasi terhadap semua penerbangan domestiknya pada tahun 2040. Beberapa perusahaan minyak saat ini sudah berinvestasi dalam energi surya, sebagian memang sebagai bentuk greenwashing, tetapi sebagian lagi karena ini bisnis yang menguntungkan.

Inggris baru saja mencapai rekor 23 hari tanpa menggunakan batu bara untuk pembangkit listriknya, sementara negara bagian Amerika seperti Iowa, Virginia dan lainnya sedang merancang ulang untuk pemanfaatan energi terbarukan. Senat AS juga ingin memasukkan anggaran untuk perubahan iklim dalam paket krisis coronavirus, dan sedang mempertimbangkan pendanaan untuk 30 juta atap surya di seluruh negara.

“Mengubah peta energi dunia sepertinya mahal untuk dilakukan, tetapi dalam praktiknya, ini murah, terutama jika kita memperhitungkan aneka bencana yang disebabkan oleh kebakaran, angin topan, banjir, dan sebagainya. Jika kita memasukkan juga biaya pengobatan penyakit yang disebabkan kerusakan iklim, atau jika kita memasang harga demi menjaga kelangsungan hidup spesies manusia, menjadi jelas bahwa berpaling kepada energi terbarukan seharusnya adalah hal yang tidak perlu dipikirkan lagi,” tegas Enrique Dans, dilansir dari Forbes (4/5).

 

Analis Vibiz Research Center melihat pandangan untuk memberi prioritas kepada energi terbarukan memiliki basis yang kuat, bahkan berkaitan demi kesehatan umat manusia keseluruhannya. Ini telah menjadi suatu tren kesepakatan global. Adalah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang pada Januari 2020 lalu telah menyetujui Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang menitikberatkan kepada agenda pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW. Mayoritas bahan bakar untuk pembangkit listrik tersebut berasal dari batubara. Namun, RUEN memberikan ruang kepada pengembangan energi terbarukan sebesar 23% hingga tahun 2025 –dimana pada saat ini baru sekitar 9-10%.

Sebagaimana diketahui, draft Peraturan Presiden terkait energi baru dan terbarukan sampai pada awal Maret ini sudah disiapkan. Di antaranya ditekankan hal pembenahan harga guna mendorong investasi yang memiliki nilai keekonomian yang lebih wajar agar lebih menarik bagi para pengembang. Namun, agaknya wabah pandemi virus corona dari Wuhan ini telah mengalihkan banyak fokus perhatian kepada perlindungan kesehatan dan sosial masyarakat serta ketahanan ekonomi domestik. Maka, kemungkinannya bila wabah ini mereda, jalur bagi pengembangan energi terbarukan akan segera diluncurkan Pemerintah. Semoga.

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here