Ketua OJK Sampaikan Pemantauan KSSK (11 Mei): Sektor Keuangan Masih Terjaga

432
Vibizmedia Picture

(Vibiznews – Banking, IDX, Bonds) – Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyampaikan hasil penilaian (assessment) sektor jasa keuangan periode Maret-April yang menunjukkan sektor keuangan Indonesia masih stabil, demikian disampaikan dalam rilis Konferensi Pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Senin ini (11/5), di antaranya:

  1. Dari sisi asesmen perkembangan sektor jasa keuangan, OJK mencermati stabilitas sektor jasa keuangan hingga April tercatat masih dalam kondisi terjaga di tengah tendensi pelemahan sektor riil dan potensi pelemahan sektor keuangan melalui tunggakan pembayaran pokok dan bunga. Namun, beberapa indikator intermediasi sektor jasa keuangan masih membukukan kinerja positif dan profil risiko industri jasa keuangan tetap terkendali.
  2. Memasuki bulan April 2020, volatilitas global mulai menurun. Dibarengi dengan kebijakan penanganan yang baik, telah membantu perbaikan kondisi pasar finansial domestik, gejolak pasar finansial mulai mereda. Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar rupiah, serta yield obligasi yang dialami selama bulan Maret 2020, mulai mereda di bulan April 2020.
  3. Memasuki bulan Mei tahun 2020, di pasar modal:
    • IHSG secara ytd telah terkoreksi 27,02% ytd (8 Mei 2020) ditutup di 4.597,4. Setelah mencapai titik terendahnya pada 24 Maret di level 3.937,6, kini volatilitas terpantau lebih rendah. Investor nonresiden di pasar saham masih mencatatkan net sell sebesar Rp20,79 T ytd.
    • Pasar SBN terlihat masih mengalami tekanan, dimana yield SBN per 8 Mei kembali melemah dengan yield naik sebesar 70,9 bps ytd dan mencatatkan net sell Rp139,1 triliun (6 Mei 2020).

Terkait Profil Risiko dan Permodalan, Ketua Dewan Komisioner OJK menyampaikan:

  1. Stabilitas sektor jasa keuangan yang masih terjaga didukung dengan tingkat permodalan yang tinggi. Pada Maret 2020, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio) mengalami penurunan namun masih cukup tinggi yaitu sebesar 21,72% (Desember 2019: 23,31%).

Sedangkan, RBC Asuransi Jiwa dan Asuransi Umum masih terjaga di atas threshold namun menurun, masing-masing menjadi 642,7% (Des-19: 789%) dan 297,3% (Des-19: 345%).

  1. Risiko kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) gross dilaporkan sedikit meningkat namun masih terjaga di 2,77% (Desember 2019: 2,53%). Beberapa sektor pendorong tingginya NPL adalah sektor transportasi, pengolahan, perdagangan dan rumah tangga.

Sedangkan untuk faktor Likuiditas, dijelaskan:

  1. Indikator kecukupan likuiditas juga menunjukkan kondisi yang cukup baik sebagaimana terlihat dari:
    • rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga per 29 April 2020 terjaga di 24,54% (22 April 2020: 22,36%, Desember 2019: 20,86%), masih di atas threshold-nya yang sebesar 10%.
    • AL/NCD secara industri juga terpantau masih tinggi dimana 28 April berada di level 114,91% (22/04: 104,89%) dengan threshold 50%.
    • Selain itu, volume dan suku bunga PUAB tercatat masih stabil.

Selanjutnya, dalam aspek Intermediasi, diterangkan berikut ini:

  1. Sementara itu, kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan hingga Maret 2020 masih menunjukkan peningkatan dengan didukung ketahanan perbankan, likuiditas, dan stabilitas pasar uang.
  2. Kredit perbankan tumbuh sebesar 7,95% yoy (Desember 2019: 6,08% yoy) terutama berasal dari pertumbuhan kredit valas, diiringi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 9,54% yoy (Desember 2019: 6,54% yoy).
  3. Dari jenis penggunaan, pertumbuhan kredit didukung oleh kenaikan kredit investasi (13,65% yoy) dan kredit modal kerja (6,63% yoy).
  4. Piutang Perusahaan Pembiayaan sedikit termoderasi namun tetap tumbuh sebesar 2,49% yoy (Desember 2019: 3,66% yoy).
  5. Pertumbuhan premi di industri Asuransi turun signifikan khususnya Asuransi Jiwa. Premi asuransi jiwa terkontraksi -13,8%yoy (Des-19: -0,38%) dan premi asuransi umum tumbuh rendah di 3,65%yoy (Des-19: 15,65%).
  6. Penghimpunan dana di pasar modal melalui penawaran umum per 5 Mei telah mencapai Rp31,88 Triliun atau secara nilai turun 11,9% yoy.

Namun, jumlah IPO dan Penawaran Umum mengalami kenaikan signifikan, dimana jumlah Penawaran Umum naik 34,2% secara yoy.  Di dalam pipeline per 5 Mei terdapat 61 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran sebesar Rp29,1 triliun.

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here