Riset Perubahan Preferensi Konsumen Properti Hunian Akibat Corona; Seperti Apa?

142

(Vibiznews – Property) – Wabah pandemi virus corona ini tentunya telah mengubah banyak hal dalam aspek kehidupan kita maupun dalam bisnis normal yang selama ini dikenal. Industri property jelas sangat terpengaruh, karena industri ini berkaitan erat kepada interaksi aktif dan aktivitas dengan konsumen sebagai pembeli akhir. Adakah perubahan perilaku konsumen dan preferensi permintaannya untuk property, khususnya pada asset residensial bagi konsumen akhir atau pemakai?

Dilansir dari media global, Forbes (18/5), sebuah studi survey dari OJO Labs yang berbasis di Texas, AS, terhadap konsumen di Amerika yang baru saja dirilis menunjukkan seberapa dampak pandemic terhadap konsumen yang berusaha menyesuaikan diri dengan iklim baru di pasar residensial dewasa ini.

Studi ini menemukan bahwa 80% calon pembeli telah menunda pencarian perumahan mereka atau menghentikannya sama sekali.

Secara umum, alasan di balik penundaan ini tidaklah terlalu mengejutkan. 60% dari mereka yang disurvei menyebutkan kekhawatiran tentang prospek pekerjaan mereka ke depan, dan 54% menyebutkan tentang kesulitan untuk melihat rumah secara langsung sebagai pendorong utama atas keraguan untuk membeli tempat tinggal di hari-hari ini.

Ketika ditanya bagaimana caranya untuk mengembalikan keyakinan mereka untuk bisa membeli rumah, Chris Heller, Chief Real Estate Officer di OJO Labs mengatakan: “Mereka yang membatalkan rencana pembelian biasanya karena mereka dalam posisi yang tidak terduga sebelumnya, seperti kehilangan pekerjaan atau dicutikan, atau mereka berhenti mencari karena kekhawatiran terhadap ketidakpastian ini. Nanti bila situasi konsumen berubah, dan kita kembali mendekati normal, mereka akan siap untuk bergerak lagi. ” Ini menggambarkan bahwa masih banyak konsumen yang tetap menyimpan keinginan untuk membeli properti hunian.

Selanjutnya, studi menunjukkan bahwa mereka yang menunda pembelian pun masih aktif mencari listing yang tersedia. 28% melaporkan masih melihat listing foto dan 25% melihat tur video. Faktanya juga, 30% dari mereka lebih sering melihat listing dibandingkan pada waktu sebelum wabah virus corona.

Di sisi lain, 20% pembeli melaporkan bahwa mereka ingin mempercepat proses pembelian rumah mereka karena wabah virus ini, untuk mengejar suku bunga yang lebih rendah dan peluang mendapatkan penawaran bagus sebagai motivasi utama mereka. Meskipun, agaknya, sebagian besar (74%) dari mereka ini termasuk kelompok pembeli berulang (repeat buyers).

Terkait bagaimana wabah virus corona telah mengubah ekspektasi konsumen, riset ini menemukan bahwa pembeli memberikan beberapa penekanan baru dalam pencarian yang lebih baik untuk hunian mereka.

Pembeli melaporkan bahwa aspek-aspek berikut dipandang semakin penting bagi mereka mengingat wabah virus:

  • Ekstra kamar tidur (43,5%)
  • Adanya ruang terbuka (45,7%)
  • Pencahayaan yang baik (45,7%)
  • Dapur dengan model/style-nya (50%)

Terhadap perubahan penekanan ini, OJO Labs menyatakan: “Kriteria yang tadinya merupakan ‘keinginan’ –– seperti rumah kantor ––berubah menjadi ‘kebutuhan’ sebagai dampak dari COVID-19. Dengan tren bekerja jarak jauh yang akan terus berlanjut setelah reda wabah COVID-19 ini, pertimbangan lokasi rumah, dan jarak tempuh perjalanan (ke kantor), yang merupakan faktor pendorong pembelian hunian, akan berkurang peranannya dalam pencarian rumah untuk sejumlah konsumen. Sebaliknya, mereka akan memprioritaskan preferensi yang berbeda, seperti lingkungan tetangga, komunitas, dan gaya hidup.”

Memang, kemungkinannya akan membutuhkan waktu lebih panjang untuk melihat seberapa dampak wabah virus ini kepada pembeli hunian. Namun, penelitian ini setidaknya memperjelas satu hal, bahwa meskipun konsumen semakin berhati-hati, dorongan untuk memiliki rumah hunian masih tetap kuat saat ini, demikian dilansir dari Forbes (18/5) dengan basis survei konsumen di AS.

Analis Vibiz Research Center melihat bahwa umumnya untuk konsumen akhir (end user) kebutuhan memiliki hunian adalah suatu kebutuhan yang real. Itu sebabnya keinginan untuk membelinya pada saat masa pandemic ini tetap kuat. Mereka mencari waktu yang lebih tepat nantinya. Kecuali, mungkin bagi mereka yang sampai di-PHK sehingga kehilangan sumber pendapatan. Namun, patut diperhatikan di sini juga, bahwa tren bekerja jarak jauh dan pertemuan virtual nampaknya akan berlanjut paska pandemic ini, membentuk kebutuhan baru untuk keperluan bekerja dari rumah dalam pemilihan hunian ke depannya.

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here