Pasar Properti Secara Historis Booming Paska Krisis Finansial; Juga Paska Pandemi?

349

(Vibiznews – Property) – Sektor properti dewasa ini termasuk salah satu sektor ekonomi yang terdampak pandemic virus corona. Sektor yang memiliki keterkaitan dengan lebih dari 175 produk industri ini sedang dalam tekanan penurunan volume dan harga penjualan di semua segmennya. Tetapi fenomena ini juga terjadi merata di berbagai belahan dunia. Lalu, di tengah harapan bahwa penyebaran wabah ini akan turun juga, bagaimana prospek sektor properti untuk tahun depan dan berikutnya? Ternyata secara empiris global, sektor properti umumnya akan cepat bangkit paska krisis.

Dilansir dari media global Forbes (25/5), dalam tab Money, disebutkan bahwa secara data historis, dari periode akhir 1990-an, terlihat krisis keuangan sering diikuti dengan kenaikan tajam harga perumahan. Jika properti ini nanti tumbuh dengan cara yang sama seperti tahun 2000-an, aset safe haven lain seperti emas berpotensi mengikutinya. Berikut tulisan selanjutnya dengan di-edit seperlunya.

Pasar perumahan diproyeksikan mengalami aksi jual tajam pada paruh kedua tahun 2020 ini. Pasar AS, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan pasar properti negara lainnya (termasuk Indonesia) saat ini sedang berjuang dengan penurunan permintaan.

Pasar berpenduduk padat seperti Makati, Filipina, yang telah melihat lonjakan harga rumah ke level tertingginya dalam beberapa tahun terakhir, juga diperkirakan akan mengalami penurunan nilai 15% hingga 20% pada akhir tahun.

Tren jangka menengah pasar perumahan ini nampaknya masih suram. Namun, sebuah penelitian menunjukkan bahwa fase koreksi selanjutnya akan menandai dimulainya suatu pemulihan yang kuat pada pasar properti perumahan.

Sebuah makalah penelitian yang diterbitkan oleh Universitas Granada dan Federal Reserve Bank of Chicago di antaranya menyebutkan:

“Selama akhir 1990-an dan hingga 2007 beberapa negara mengalami kenaikan harga rumah yang tajam. Periode tersebut biasanya disebutkan sebagai sebagian penyebab gejolak ekonomi dan keuangan dunia yang terjadi belakangan ini. Pertumbuhan dramatis pinjaman bank selama periode ini secara luas dianggap bertanggung jawab terhadap dinamika pasar ini.”

Ada dua alasan utama mengapa pasar perumahan cenderung akan melihat lompatan panjang setelah krisis keuangan. Pertama, suku bunga akan bertahan rendah untuk periode yang relatif lama. Kedua, adanya berbagai stimulus dan program pemerintah yang diluncurkan untuk pemulihan ekonomi. Upaya ini biasanya mendorong kembalinya selera pembelian properti dengan berjalannya waktu.

Untuk AS, setidaknya dalam enam bulan ke depan, Federal Reserve tidak akan surut dalam memberikan stimulus perekonomian. Menyusul krisis keuangan terbesar yang berlangsung selama lebih dari satu dekade di Amerika, sikap agresif The Fed ini kemungkinannya akan mendorong agresifnya pinjaman bank. Hal tersebut akan merangsang pasar properti perumahan memasuki tahun 2021, yang mungkin akan membawa kepada dekade yang kuat ke depannya.

Analis Vibiz Research Center melihat bahwa umumnya elastisitas sektor properti lebih cepat dari gerak pertumbuhan ekonomi. Bila pertumbuhan ekonomi melambat, sektor properti akan menurun lebih tajam. Tetapi sebaliknya, bila ekonomi bergerak dalam pemulihan, properti akan cepat bangkitnya. Dengan demikian, di tengah berkembangnya harapan melambatnya penyebaran wabah virus di berbagai negara dan diikuti dengan rencana pembukaan kembali ekonomi, terbit juga harapan pemulihan kuat sektor properti berikutnya. Setidaknya, jika belum terjadi di kuartal keempat tahun ini, diharapkan terlihat pada tahun 2021. Semoga wabah ini cepat berlalu.

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here