Analisis Fundamental Yen dalam USDJPY Periode 1 – 5 Juni 2020

469

(Vibiznews – Forex) – Melihat pergerakan pasar forex pekan lalu, posisi yen Jepang pekan lalu terhadap dolar AS sangat fluktuatif dengan akhir yang masih lemah dalam pair USDJPY. Pair mencetak kenaikan mingguan untuk pekan ketiga berturut-turut. Pekan lalu aset safe haven sangat digemari namun pasar lebih memilih dolar AS.

Fundamental Pekan Lalu
Kondisi ekonomi Jepang pekan lalu dilaporkan dengan tingkat inflasi tetap rendah di Jepang. Bank of Japan Core CPI, pengukur inflasi pilihan bank, turun sebesar 0,1% pada bulan Maret, penurunan pertama sejak Maret 2017. Kemudian ada berita suram dari belanja manufaktur dan konsumen di bulan April. Produksi Industri Awal turun 9,1%, sementara belanja konsumen turun sekitar 13,7 persen.

Dari data ekonomi AS, kepercayaan konsumen meningkat pada bulan Mei, karena indeks konsumen CB berada di 86,6, naik dari 85,7 sebulan sebelumnya. Lalu PDB kuartal pertama  turun ke -5,0%, dibandingkan dengan -4,8% dalam estimasi awal. Barang tahan lama jatuh pada bulan April, dengan angka headline turun 17,2% dan pembacaan inti turun 7,2 persen. Klaim pengangguran terus turun, dengan 2,12 juta klaim baru minggu lalu. Ini sedikit lebih tinggi dari perkiraan 2,10 juta dan meningkatkan total selama Covid-19 menjadi 41 juta.

Fundamental Pekan ini
Melihat data ekonomi Jepang, investor akan mengawasi data pengeluaran rumah tangga, ukuran penting dari pengeluaran konsumen dimana diperkirakan akan alami penurunan besar 12,8 persen pada April. Kemudian juga fokus terhadap data ekonomi AS seperti data NFP, tingkat pengangguran dan tingkat upah pekerja di AS.

Laporan Ketenagakerjaan AS pada hari Jumat kembali investor dihadapkan dengan data yang lebih rendah. Ekonomi AS diperkirakan akan kehilangan 8,0 juta pekerjaan lagi, setelah pembacaan sebelumnya yang mengindikasikan hilangnya sekitar 20,5 juta pekerjaan. Pertumbuhan upah diperkirakan akan turun menjadi 1,0%, turun dari 3,0% sebulan sebelumnya. Selain itu, tingkat pengangguran diperkirakan akan melonjak menjadi 19,5%, dibandingkan dengan 14,7% pada bulan April.

Selain data pentimg diatas juga terdapat data makro lainnya seperti data PMI Manufaktur yang diperkirakan jatuh ke kontraksi 43,5 poin. Namun untuk PMI Non-Manufaktur ISM diproyeksikan akan meningkat melebihi periode sebelumnya dengan perkiraan 44,0 poin.

Namun melihat sentimen pasar global beberapa hari terakhir, Minat perdagangan resiko pekan ini masih sangat terbatas dan jika Presiden AS Donald Trump semakin memperburuk situasi dengan China, dolar AS mungkin mulai naik tajam lagi. Permintaan investor untuk safe havens yen Jepang akan meningkat jika imbal hasil obligasi AS tergelincir ke posisi terendah baru atau bertahan pada tingkat yang sama, seperti yang terjadi dua bulan terakhir.

Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here