Permintaan Aset Properti Bergeser oleh Covid-19; Investor Global dalam Dilema

732
Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Property) – Pandemi virus corona telah menyebabkan ruang perkantoran menjadi sepi dan pertokoan ditutup, tetapi telah membuat pergudangan terisi dan permintaan naik untuk ruangan kerja-dari-rumah. Fenomena tersebut telah membuat investor bertanya-tanya apakah mereka harus melepaskan bisnis properti atau justru menggandakan pertaruhan mereka di industri ini.

Ketidakpastian masa depan yang menyertai pandemic ini telah menggoyang opsi pemilihan asset bagi para investor. Dilansir dari media regional The Business Times (1/06) disebutkan bahwa para investor sedang menghadapi dilema dalam investasi sektor properti karena Covid-19 ini. Berikut lanjutan pandangannya dengan editing yang relevan.

Properti telah lama dipandang sebagai bentuk portofolio investasi yang seimbang, yang disukai oleh lembaga dana pensiun dan perusahaan asuransi yang mencari aset yang menggabungkan antara pertumbuhan nilai capital –seperti yang ditawarkan saham- dengan pendapatan yang aman -seperti investasi obligasi.

Tetapi pandemi Covid-19 ini dengan kebijakan lockdown di sejumlah negara telah membuat terjadinya perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi miliaran orang yang hidup dan bekerja, telah memukul nilai dan prospek sewa mal dan gedung perkantoran pencakar langit, sehingga membuat investasi properti berada dalam pertaruhan yang lebih besar.

“Tidak jelas apakah kita akan melihat peningkatan permintaan untuk properti hunian karena social distancing, atau malah menurun karena banyak yang berkantor di rumah,” kata Joe Stadler, kepala the ultra-high net worth business di UBS, menunjukkan fokus kliennya yang masih bersifat teka-teki, sebagaimana dikutip The Business Times (1/6).

Ada jutaan karyawan sekarang yang bekerja dari rumah, sementara penjualan belanja online malah melonjak seperti yang dilaporkan oleh Alibaba dan Amazon.

Untuk kawasan Eropa, dikabarkan harga sewa kantor di prime area telah turun antara 2-10% tahun ini, sementara yields di pusat-pusat perbelanjaan utama Eropa turun sekitar 0,4-5,1% dibandingkan dengan tahun 2019.

Sebaliknya, permintaan untuk properti logistik atau pergudangan diperkirakan akan terus bertumbuh dalam dua hingga tiga tahun ke depan di Amerika Serikat.

Sejumlah investor yang berani kabarnya tidak hanya bertahan dengan aset properti tetapi juga meningkatkan nilai investasinya.

Satu firma riset untuk alternative asset, Preqin, baru-baru ini merilis bahwa dana investasi yang fokus ke properti Eropa telah mengumpulkan dana senilai US$13,2 miliar (sekitar Rp191,4 triliun) dari para investor untuk periode 1 April — 28 Mei 2020. Ini merupakan volume dana triwulanan yang tertinggi sejak kuartal keempat 2017.

Mengganti portfolio investasi properti perkantoran dan retail kepada properti pergudangan dan industri sepertinya sederhana. Tetapi sejumlah analis meyakini bahwa perubahan cara dunia dalam menggunakan properti, termasuk real estate, akan melalui waktu yang panjang, dan perubahan portofolio secara radikal sekarang ini bisa merugikan para investor.

Firma untuk jasa asset allocators cenderung memilih sikap “netral” untuk properti dewasa ini, sementara banyak perusahaan besar di dunia memberikan sinyal yang beragam untuk kebutuhan asset properti mereka kedepannya, hal yang menambah ketidakpastian bagi para pemilik tanah.

Perusahaan besar seperti Mastercard, Visa dan American Express kabarnya telah mengesampingkan kemungkinan untuk cepat kembali bekerja di kantor dan harus mengkonsolidasikan gedung-gedung kantor mereka jika para karyawannya lebih suka untuk bekerja di rumah.

Tetapi perusahaan finansial seperti Exane, yang merupakan anak perusahaan BNP Paribas, diberitakan sedang memperluas kantor mereka di London untuk bisnis cash equity.

Penurunan ekonomi global akan menekan harga sewa dan memicu kekosongan unit properti dalam beberapa jenis asset, tetapi fundamental pasar yang luas tetap mendukung prospek investasi properti yang dilakukan dengan cermat, menurut para analis.

Dengan imbal hasil obligasi pemerintah di pasar global yang cenderung turun, serta sekitar 15% obligasi korporasi yang mengalami penurunan rating, dan pembatalan dividen saham secara besar-besaran, investor saat ini mencari pendapatan yang dapat dipenuhi oleh asset properti.

Ekspektasi adanya paket stimulus global besar-besaran untuk mengatasi dampak Covid-19 akan dapat memicu naiknya inflasi pada tahun 2021. Ini diperkirakan akan menaikkan permintaan untuk properti, yang dapat menjadi hedging untuk melindungi tekanan inflasi.

Para investor juga khawatir rally di pasar saham AS belakangan ini tidak akan bertahan lama. Sejumlah investor akan berusaha mengunci keuntungan mereka, yang memungkinkan lebih banyak arus dana masuk ke aset-aset alternatif.

Mengingat adanya ketidakpastian untuk arus kas pada properti perkantoran dan retail, beberapa penasihat investasi mengatakan bahwa investasi perumahan atau hunian merupakan tempat investasi teraman untuk saat ini.

UBS menyatakan bahwa apartemen di AS saat ini menghasilkan rata-rata koleksi sewa yang tertinggi dari semua jenis properti, dengan tingkat vacancy triwulan pertamaa tahun ini yang bertahan sama dengan triwulan sebelumnya.

Analis Vibiz Research Center melihat perubahan gaya hidup dan preferensi kerja karena Covid-19 ini dan sesudahnya, dimulai dengan fase new normal, berpengaruh kepada pola permintaan konsumen terhadap produk sektor properti. Tulisan di atas menunjukkan ada penurunan permintaan, seperti sektor perkantoran dan pertokoan retail, tetapi ada peningkatan untuk sektor logistic atau pergudangan dan mungkin juga pada hunian yang memberi kenyamanan ruang kerja dari rumah. Tetapi seberapa besar pergeseran ini akan terjadi, masih merupakan teka-teki. Yang jelas prospek investasi pada properti masih terbuka, apalagi untuk hunian yang merupakan real demand di negeri kita mengingat backlog yang masih besar. Investor, pengembang, pemasar, dan pelaku industri properti lainnya perlu mencermati arah ke mana pergeseran permintaan properti ke depan ini.

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here