New Normal dan Ekspektasi Pemulihan Ekonomi — Market Outlook, 8-12 June 2020 by Alfred Pakasi

784

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi global pada minggu lalu diwarnai dengan menguatnya ekspektasi pasar atas akan datangnya pemulihan ekonomi menuju kondisi new normal, naiknya permintaan risk asset, sekalipun ketegangan AS – China masih dalam perhatian. Untuk korban virus, berita resmi terakhirnya, sudah sekitar 6.8 juta orang terinfeksi di dunia dan 398 ribu orang meninggal, dan menyebar ke 213 negara dan teritori. Pasar saham dunia umumnya menguat, permintaan safe haven tergerus dan menekan dollar AS dan emas, sementara rupiah terus rally 5 minggu berturut-turut.

Minggu berikutnya, isyu antara pembukaan ekonomi new normal, indikasi pemulihan ekonomi, dan tensi lanjutan AS-China ini akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Market Review and Outlook 8-12 June 2020.

===

Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau lanjut menguat di minggu ketiganya oleh masuknya dana investor asing di tengah sentimen positif pembukaan ekonomi di sejumlah negara dan persiapan ekonomi new normal di dalam negeri. Sementara itu, bursa kawasan Asia umumnya menguat. Secara mingguan IHSG ditutup menguat signifikan 4.08% ke level 4,947.782. Untuk minggu berikutnya (8-12 Juni 2020), IHSG kemungkinan masih bisa lanjutkan rally-nya, dengan diintip investor untuk aksi profit taking. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 5041 dan kemudian 5365, sedangkan support level di posisi 4621 dan kemudian 4460.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terpantau menguat kembali dalam rally 5 minggu berturut-turut dengan masuknya dana asing ke pasar uang Indonesia, baik SBN maupun saham, menuju ekonomi new normal, sementara dollar global dalam tren melemah kembali, sehingga rupiah secara mingguannya menguat signifikan 5.27% ke level Rp 13,878. Rupiah kembali menjadi mata uang terbaik terhadap USD di kawasan Asia, dan sudah berada di posisi sebelum Covid-19. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan turun, atau masih bias positif bagi rupiah dengan sedikit koreksi pasar, dalam range antara resistance di level Rp14,780 dan Rp14,905, sementara support di level Rp13.654 dan Rp13,560.

Dalam rangka mitigasi dampak penyebaran COVID-19, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, pada akhir pekan menyampaikan beberapa hal terkait perkembangan terkini perekonomian dan kebijakan yang ditempuh BI, antara lain:

Perkembangan Indikator Ekonomi

  1. Nilai tukar terus mengalami penguatan sejalan dengan pandangan BI bahwa nilai tukar masih undervalued dan ke depan masih berpotensi untuk menguat. Saat ini sudah di bawah Rp14.000/USD.
  2. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2020 tetap rendah tercatat 2,19% (yoy). Bulan Juni diprakirakan lebih rendah, sebesar 1,81% (yoy).
  3. Aliran masuk modal asing ke SBN terus mengalami peningkatan sejak minggu II Mei 2020.
  4. Cadangan devisa akhir Mei 2020 diprakirakan meningkat.
  5. Pembelian SBN di pasar perdana oleh BI berkurang. Hal ini menunjukkan kemampuan pasar yang makin besar dalam membeli SBN untuk kebutuhan pembiayaan APBN.

BI memprakirakan dengan implementasi kebijakan kenormalan baru, akan mendorong aktivitas ekonomi terutama meningkatkan pendapatan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II – 2020 diprakirakan akan menurun dan kembali meningkat pada triwulan III – 2020.

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar secara umum tertekan di tengah berlanjutnya minat investor terhadap risk asset serta euro yang melompat oleh pertambahan nilai paket stimulus dari ECB, namun di akhir pekan rebound karena naiknya data tenaga kerja AS, dimana indeks dolar AS secara mingguan berakhir melemah ke 96.95. Sementara itu, pekan lalu euro terhadap dollar terpantau menguat tajam ke 1.2891. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.3838 dan kemudian 1.1495, sementara support pada 1.1068 dan 1.0871.

Pound sterling minggu lalu terlihat menguat ke level 1.2663 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.2849 dan kemudian 1.3200, sedangkan support pada 1.2204 dan 1.2075. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir menguat ke level 109.56.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 109.85 dan 110.08, serta support pada 107.08 serta level 106.36. Sementara itu, Aussie dollar terpantau menguat ke level 0.6968. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7032 dan 0.7082, sementara support level di 0.6506 dan 0.6371.

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum menguat, investor kembali mengejar risk asset di tengah harapan datangnya pemulihan ekonomi. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau berakhir menguat ke level 22,864. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 23807 dan 23995, sementara support pada level 20335 dan 19448. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir menguat ke level 24,770. Minggu ini akan berada antara level resistance di 24855 dan 25579, sementara support di 22520 dan 21139.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau melejit di antara optimisme pemulihan ekonomi dengan data melompatnya pertambahan tenaga kerja AS. Indeks Dow Jones secara mingguan menguat tajam ke level 27,111.0, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 25759 dan 27102, sementara support di level 24294 dan 22790. Index S&P 500 minggu lalu menguat ke level 3,189.0, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 3261 dan 3394, sementara support pada level 2909 dan 2766.

Pasar Emas

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau tertekan Kembali oleh data kuat tenaga kerja AS yang membangkitkan ekspektasi pemulihan ekonomi, sehingga harga emas spot secara mingguan terkoreksi ke level $1,685.27 per troy ons. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistant di $1745 dan berikut $1766, serta support pada $1661 dan $1641.

Ada sejumlah indikator data ekonomi kerap menjadi penggerak pasar, sementara sebagian data ekonomi lainnya sepertinya tidak berdampak terhadap harga di pasar investasi. Kadang seorang investor individual terkecoh dengan pilihan dan analisis fundamental data ekonomi. Hal itu dapat dimengerti kalau tidak mempelajari situasi pasar sebelumnya.  Demikianlah, fluktuasi pasar dan data perlu dipelajari hubungan dan kaitannya. Kalau Anda mengalami kesulitan mempelajari dan melihat contohnya, lihat saja Vibiznews.com. Sejumlah data lengkap dengan analisis seketikanya langsung tersaji tiap kali rilis berita ekonomi penting diumumkan. Itu akan memberikan gambaran arah pasar selanjutnya. Begitulah, kami ada hanya untuk sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here