Kenaikan Kasus Virus vs Ekspektasi Prospek Pemulihan — Market Outlook, 20-24 July 2020 by Alfred Pakasi

960

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi global pada minggu lalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • kekhawatiran investor atas menanjaknya kasus infeksi baru virus corona di AS dan beberapa negara lainnya;
  • meningkatnya tensi panas antara AS dan China, terkait pasar modal, Laut China Selatan, Hong Kong, dan terakhir travel ban;
  • ekspektasi pasar digelontorkannya dana stimulus besar untuk pemulihan ekonomi seperti di Kawasan Eropa;
  • harapan terhadap kemajuan pengembangan vaksin dan pengobatan virus corona.
  • Untuk korban virus, berita resmi terakhirnya, sudah sekitar 14.2 juta orang terinfeksi di dunia dan 599 ribu orang meninggal, dan menyebar ke 213 negara dan teritori.

Pasar saham dunia umumnya kembali bergerak variatif dengan bias menguat, permintaan safe haven terakhir naik lagi dan menopang terutama kenaikan lanjutan harga emas.

Minggu berikutnya, isyu antara perkembangan penyebaran wabah virus corona, prospek pemulihan ekonomi, dan tensi AS – China ini akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Market Review and Outlook 20-24 July 2020.

===

Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau menguat di minggu ketiganya dengan pasar menyambut positif pemangkasan suku bunga acuan BI ke level 4%, walau masih di sekitar area konsolidasinya di level 5000’an. Sementara itu, bursa kawasan Asia umumnya variatif. Secara mingguan IHSG ditutup menguat 0.97% ke level 5,079.585. Untuk minggu berikutnya (13-17 Juli 2020), IHSG kemungkinan berpeluang untuk melanjutkan rally 3 minggunya ke level 5100’an. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 5139 dan kemudian 5365, sedangkan support level di posisi 4862 dan kemudian 4712.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terpantau melemah ke level 7 minggu terendahnya dengan sebagian pasar mengkhawatirkan prospek pelambatan ekonomi dan kenaikan kasus baru virus corona di dalam negeri, sementara dollar global terlihat berlanjut terkoreksi, sehingga rupiah secara mingguannya melemah signifikan 1.88% ke level Rp 14,707. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan cenderung naik, atau tekanan pelemahan bagi rupiah, dalam range antara resistance di level Rp14,780 dan Rp14,820, sementara support di level Rp14.190 dan Rp14.116.

 

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 15-16 Juli 2020 telah memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 3,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 4,75%.

“Keputusan ini konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah, stabilitas eksternal yang terjaga dan sebagai langkah lanjutan untuk mendorong pemulihan ekonomi di masa pandemi COVID-19,” demikian disampaikan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

Selanjutnya BI juga menyampaikan sejumlah hal, antara lain:

  • Kontraksi perekonomian global berlanjut dan pemulihan ekonomi dunia lebih lama dari prakiraan sebelumnya. Penyebaran COVID-19 yang kembali meningkat di beberapa negara seperti Amerika Serikat (AS), Brazil, dan India, memengaruhi perkembangan ini.
  • Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II 2020 diperkirakan mengalami kontraksi, dengan level terendah pada Mei 2020. Perkembangan ini dipengaruhi oleh kontraksi ekonomi domestik pada April-Mei 2020 sejalan dengan dampak kebijakan PSBB.
  • Ketahanan sektor eksternal ekonomi Indonesia tetap baik. Defisit transaksi berjalan triwulan II 2020 diprakirakan tetap rendah dipengaruhi dengan membaiknya neraca perdagangan.
  • Nilai tukar Rupiah tetap terkendali sesuai dengan fundamental. Rupiah secara point to point pada triwulan II 2020 mengalami apresiasi 14,42% dipengaruhi aliran masuk modal asing yang cukup besar pada Mei dan Juni 2020.
  • Inflasi tetap rendah dan mendukung stabilitas perekonomian, dengan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Juni 2020 tercatat 0,18% (mtm) atau 1,96% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya.

 

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar secara umum masih tertekan di minggu keempatnya, oleh penguatan euro ke 4 bulan tertingginya karena harapan akan diluncurkannya stimulus untuk Kawasan Eropa dan berita kemajuan pengembangan vaksin virus corona, walau tertahan dengan kekhawatiran investor atas menanjaknya kasus baru wabah virus di berbagai negara, dimana indeks dolar AS secara mingguan berakhir melemah ke 96.01. Sementara itu, pekan lalu euro terhadap dollar terpantau menguat tajam ke 1.1425, sekitar 4 bulan terkuatnya. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1452 dan kemudian 1.1495, sementara support pada 1.1255 dan 1.1068.

Pound sterling minggu lalu terlihat melemah ke level 1.2563 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.2814 dan kemudian 1.3200, sedangkan support pada 1.2204 dan 1.2075. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir menguat ke level 107.01.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 108.17 dan 109.85, serta support pada 106.07 serta level 105.99. Sementara itu, Aussie dollar terpantau menguat terbatas ke level 0.6994. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7043 dan 0.7082, sementara support level di 0.6506 dan 0.6371.

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum variatif, digoyang antara memanjangnya ketegangan antara AS – China dengan harapan atas kemajuan pengembangan vaksin corona. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau berakhir menguat ke level 22,696. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 23178 dan 23807, sementara support pada level 21969 dan 20335. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melemah ke level 25,089. Minggu ini akan berada antara level resistance di 26782 dan 27767, sementara support di 24148 dan 23685.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau menguat oleh berita positifnya pengembangan vaksin virus corona walau tertahan dengan melonjaknya dalam rekor kasus baru infeksi virus di AS. Indeks Dow Jones secara mingguan menguat ke level 26,671.95, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 27580 dan 28403, sementara support di level 26103 dan 24843. Index S&P 500 minggu lalu menguat ke level 3,223.4, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 3235 dan 3394, sementara support pada level 2994 dan 2936.

Pasar Emas

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau berlanjut menguat dengan meningkatnya dalam rekor kasus infeksi baru virus corona di Amerika dan melemahnya dollar, sehingga harga emas spot secara mingguan menguat ke level $1,810.05 per troy ons. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistant di $1818 dan berikut $1862, serta support pada $1747 dan $1704.

 

Dinamika pasar terus bergerak secara aktif, naik turun di pasar investasi. Tensi yang melebar antara AS-China, prospek resesi ekonomi global, melonjaknya penyebaran baru wabah virus, dan lain sebagainya; itu yang di antaranya ramai terjadi dalam pasar financial global dan domestik. Kalau Anda tidak punya banyak kesempatan untuk mengikuti dan mengertikan pergerakan pasar demikian, Vibiznews.com dapat membantu Anda sepenuhnya serta memanfaatkannya untuk keputusan investasi yang lebih akurat. Terima kasih telah bersama kami karena mengingat kami ada demi sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here