Nikkei Awal Pekan Nyaris Flat, Tertekan Anjloknya Saham Eksportir Utama

281
Photo by Vibizmedia

(Vibiznews – Indeks) – Bursa saham  Jepang  pada hari Senin (20/07/2020) berakhir dengan indeks Nikkei rebound dari bearish pekan lalu. Indeks Nikkei ditutup nyaris flat setelah awal sesi sempat menguat oleh prospek langkah-langkah stimulus lebih lanjut dari ekonomi global.

Kemudian sentimen menjadi negatif setelah investor mempertimbangkan meningkatnya laju pertambahan harian kasus baru terinfeksi coronavirus seluruh dunia, dengan  Jepang menambah rekor 842 kasus baru pada hari Sabtu, sementara secara global juga bertambah 237.600 dilaporkan secara global.

Sentimen juga diperberat oleh laporan risalah pertemuan kebijakan moneter BOJ pekan lalu,  bahwa dampak pandemi ini meluas ke perusahaan-perusahaan dari semua ukuran dan sektor. Jika kebangkrutan dan penutupan perusahaan meningkat, ada risiko Jepang dapat kembali ke deflasi.

Dari sisi data ekonomi,  neraca perdagangan Jepang bergeser ke defisit JPY 268,8 miliar pada Juni 2020 dari surplus JPY 588,1 miliar pada bulan yang sama tahun sebelumnya, dengan impor anjlok 14,4% YoY, menandai bulan ke 14 berturut-turut dari penurunan sementara ekspor turun untuk bulan ke-19 berturut-turut, turun 26,2% YoY.

Indeks Nikkei ditutup menguat 21,06 poin atau 0,09 persen lebih tinggi ke posisi 22.717,48, menyusul penurunan 0,79% di sesi sebelumnya. Demikian juga  indeks Topix menguat 3,18 poin atau 0,20 persen lebih tinggi pada 1,577,03. Namun untuk indeks Nikkei berjangka bulan September 2020 kini sedang bergerak negatif dengan turun 10 poin atau 0,04% ke posisi 22.640.

Penguatan indeks Nikkei diperkuat oleh saham sekuritas dan industri mesin, namun mayoritas saham eksportir utama dan kapital besar masih bergerak pada zona merah dengan penurunan yang cukup signifikan seperti saham Suzuki dan Nisaan anjlok masing-masig 3,75% dan 3,19%.

Jul Allens / Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here