Penyesuaian Bisnis Properti di Tengah Pandemi, Tetap Dapat Menghasilkan Transaksi

250
Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Property) – Sektor properti selama wabah pandemi virus corona ini telah terpukul dengan cukup dalam, terutama sejak Maret 2020. Bisnis yang secara umum memerlukan interaksi fisik dengan konsumen ini, di seluruh dunia mengalami tekanan sejak merebaknya pandemi.

Menghadapi situasi demikian, sejumlah pelaku industri properti, termasuk para pengembang dan agen broker, melakukan aneka penyesuaian di antaranya dengan memperkuat konsep digital marketing agar transaksi tetap dapat berjalan. Para developer dalam negeri saat ini juga dikabarkan mengembangkan strategi penjualan yang bisa digunakan dalam teknologi digital, misalnya menggunakan teknologi VR (Virtual Reality).

Sementara itu, dari pihak konsumen pembeli, nampaknya kelompok end user tetap masih mencari huniannya karena merupakan kebutuhan pokok. Di pasar saat ini masih ada transaksi pembelian rumah yang terekam, khususnya di lokasi-lokasi tertentu yang sudah memiliki konsep yang sesuai dengan kebutuhan di masa pandemi ini, misalnya.

Nampaknya, prospek pembelian dari end user yang masih tetap terbuka di masa ini merupakan fenomena yang cukup umum di berbagai belahan dunia. Dilansir dari media The Globe (22/7) yang berbasis di AS menyebutkan bahwa terbatasnya pasokan dan tingkat suku bunga yang rendah telah menjadikan musim panas di Amerika ini sebagai waktu yang tepat untuk membeli rumah. Para agen hanya perlu menambahkan penekanan untuk social distancing.

Beberapa langkah pengamanan, termasuk membatasi kontak fisik dengan sakelar lampu dan gagang pintu, kemudian menawarkan pembeli kesempatan untuk meninjau rumah tanpa kehadiran agen, serta juga penggunaan teknologi telah diupayakan. Penggunaan teknologi telah memainkan peranan penting dalam menjaga sektor properti ini tetap bergerak.

Teknologi baru seperti pertunjukan virtual, tanda tangan elektronik, dan online pre-approval memungkinkan pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi tanpa harus bertemu secara langsung.

Tahun ini, untuk pasar lokal Amerika, diperkirakan pada Juni hingga Agustus kemungkinan akan melihat transaksi terbanyaknya.  Secara keseluruhan, infonya, penjualan rumah ternyata tidak turun sebanyak yang diekspektasikan sebelumnya.

Di tempat lain, untuk pasar lokal dalam negeri kita, sebagai contoh, baru-baru ini proyek The Sanctuary Collection seluas 25ha yang berlokasi di dalam kawasan Sentul City, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, justru melakukan launching produk saat situasi pandemi saat ini.

Proyek perumahan mewah di kawasan Sentul ini dikembangkan secara joint venture antara Harita Group, dengan dua pengembang asal Singapura yaitu Perennial Real Estate Holdings Limited dan CNQC.

Di tengah kesadaran akan kesehatan yang meningkat di hari-hari ini, proyek ini menawarkan kawasan dengan udara yang masih sehat, karena kanan kirinya adalah kawasan pegunungan, selain lokasinya yang tidak jauh dari Jakarta.

Beberapa hal yang diterapkan untuk menyasar konsumen end user, adalah konsep rumah tipe terkecil juga sudah memiliki empat kamar tidur dan dengan kamar mandi di dalam dan dapur model island. Selain itu juga, ditawarkan produk rumah yang siap huni tanpa perlu ada renovasi tambahan lagi. Produk seperti ini disebutkan semakin diminati saat pandemi ini.

Analis Vibiz Research Center melihat bahwa bagaimanapun pelaku industri properti harus melakukan penyesuaian di tengah pandemi. Itu dapat berupa pengembangan konsep digital marketing, serta produk-produk hunian yang mendukung perubahan lifestyle terkait pandemi. Perubahan-perubahan tersebut misalnya lingkungan yang lebih sehat, ruang rumah yang memungkinkan untuk work from home, dan seterusnya. Dalam bisnis kita mengenal bahwa mereka yang sanggup beradaptasi adalah mereka yang dapat meraih peluang untuk memenangkan kompetisi bisnis. Semoga demikian.

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here