Kenaikan Tensi AS – China dan Prospek Pemulihan Ekonomi Market Outlook, 27-31 July 2020 by Ricky Ferlianto

740

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi global pada minggu lalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:
• meningkatnya ketegangan antara AS dengan China menyusul penutupan konsulat China di Houston dan dibalas dengan penutupan konsulat AS di Chengdu oleh China,
• meningkatnya angka kasus coronavirus di AS maupun negara-negara lain di Amerika Latin dan Afrika,
• ekspektasi positif pasar terhadap rencana dana stimulus besar untuk pemulihan ekonomi di Eropa dan kemudian Amerika.
• Untuk korban virus, berita resmi terakhirnya, sudah sekitar 15.9 juta orang terinfeksi di dunia dan 643 ribu orang meninggal, dan menyebar ke 213 negara dan teritori.
Pasar saham dunia umumnya kembali bergerak variatif, permintaan safe haven naik lagi dan menopang terutama harga emas dalam rally 7 minggu.
Minggu berikutnya, isyu antara perkembangan penyebaran wabah virus corona, tensi AS – China, dan prospek pemulihan ekonomi ini akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Market Review and Outlook 27-31 July 2020.
===

Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau menguat di minggu keempatnya dengan pasar dalam sentimen positif namun terkoreksi di hari terakhir oleh tensi AS-China dan kekhawatiran akan datangnya resesi. Sementara itu, bursa kawasan Asia umumnya variatif. Secara mingguan IHSG ditutup menguat terbatas 0.07% ke level 5,082.991. Untuk minggu berikutnya (27-30 Juli 2020), IHSG kemungkinan di sekitar konsolidasinya dengan bias menguat melanjutkan rally 4 minggunya. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 5278 dan kemudian 5365, sedangkan support level di posisi 4964 dan kemudian 4712.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terpantau rebound dari level 7 minggu terendahnya dengan dana asing neto masih masuk ke pasar obligasi dalam negeri sementara dollar global terlihat berlanjut terkoreksi di minggu kelimanya, sehingga rupiah secara mingguannya menguat rebound 0.66% ke level Rp 14,610. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan cenderung turun, atau peluang penguatan kembali bagi rupiah, dalam range antara resistance di level Rp14,780 dan Rp14,820, sementara support di level Rp14.190 dan Rp14.116.

Bank Indonesia pada minggu lalu menyampaikan Tinjauan Kebijakan Moneter Juli, dimana disebutkan bahwa kontraksi ekonomi global terus berlanjut serta pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami kontraksi. Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II 2020 diperkirakan mengalami kontraksi, dengan level terendah pada Mei 2020. Perkembangan ini dipengaruhi oleh oleh kontraksi ekonomi domestik terutama pada April-Mei 2020.
Namun perkembangan terkini pada Juni 2020 menunjukkan perekonomian mulai membaik seiring relaksasi PSBB, meskipun belum kembali kepada level sebelum pandemi COVID-19. Perkembangan tersebut disertai dengan ketahanan eksternal perekonomian yang tetap baik, inflasi yang rendah, serta stabilitas sistem keuangan dan kelancaran sistem pembayaran yang tetap terjaga.

Pasar Forex
Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar secara umum berlanjut tertekan di minggu kelimanya ke level terendah hampir 2 tahunnya, oleh kekhawatiran investor atas kenaikan tensi politik AS – China ditambah tekanan penguatan euro ke posisi tertingginya sejak September 2018 karena kesepakatan stimulus besar untuk pemulihan Eropa, dimana indeks dolar AS secara mingguan berakhir melemah ke 94.35. Sementara itu, pekan lalu euro terhadap dollar terpantau menguat tajam ke 1.1654, sekitar hampir 2 tahun terkuatnya. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1757 dan kemudian 1.1815, sementara support pada 1.1370 dan 1.1255.
Pound sterling minggu lalu terlihat menguat ke level 1.2790 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.2814 dan kemudian 1.3200, sedangkan support pada 1.2480 dan 1.2204. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah tajam ke level 106.76. Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 108.17 dan 109.85, serta support pada 105.14 serta level 101.18. Sementara itu, Aussie dollar terpantau menguat signifikan ke level 0.7105. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7183 dan 0.7206, sementara support level di 0.6924 dan 0.6776.

Pasar Saham
Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum variatif, digoyang antara memanasnya ketegangan antara AS – China dengan harapan adanya dana stimulus untuk pemulihan ekonomi. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau berakhir menguat ke level 22,752. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 23178 dan 23807, sementara support pada level 21969 dan 20335. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melemah ke level 24,705. Minggu ini akan berada antara level resistance di 26782 dan 27767, sementara support di 24148 dan 23685.
Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau melemah oleh naiknya tensi politik AS – China dan koreksi signifikan pada saham-saham teknologi. Indeks Dow Jones secara mingguan melemah ke level 26,469.89, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 27580 dan 28403, sementara support di level 26103 dan 24843. Index S&P 500 minggu lalu menguat ke level 3,212.8, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 3235 dan 3394, sementara support pada level 2994 dan 2936.

Pasar Emas
Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau berlanjut menguat ke posisi 9 tahun tertingginya oleh memanasnya ketegangan politik AS – China dan terus meningkatnya kasus infeksi baru virus corona di Amerika dan berbagai negara, sehingga harga emas spot secara mingguan menguat tajam di minggu ketujuhnya ke level $1,901.64 per troy ons. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistant di $1910 dan berikut $1924, serta support pada $1790 dan $1747.

Bagi Anda yang mungkin baru kembali beraktivitas lagi dalam dinamika pasar investasi disarankan untuk pelajarilah dahulu situasi pasar secara hati-hati. Sikap “hati-hati” adalah kata kunci dalam berivestasi. Investasi itu bukan asal tebak, untung-untungan, atau sikap ‘semoga kali ini benar’. Investasi seutuhnya meliputi analisis, pengetahuan, pengalaman, pendalaman isyu, modal yang memadai, manajemen risiko, penguasaan psikologi, serta juga intuisi professional. Kombinasi ini semua membuat investor sukses berkarakteristik berhati-hati. Hati-hati tetapi berani mengambil keputusan sesuai dengan pertimbangan matangnya. Kalau perlu bantuan, gabung saja lagi dengan kami yang adalah partner sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner Vibiz Consulting
Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here