Analisis Fundamental Yen Jepang dalam USDJPY Periode 27 – 31 Juli

232

(Vibiznews – Forex) – Pair USDJPY pekan lalu bergerak bearish  dari penutupan pekan sebelumnya yang menguat tipis. Pekan lalu pair ditutup dengan penurunan 0,64%. Pekan lalu suasana pasar alami kondisi yang suram oleh banyaknya sentimen negatif yang melemahkan perdagangan aset resiko.

Masuki perdagangan pekan ini jelang akhir sesi Asia hari Senin (27/7/2020), posisi pair sedang bergerak turun  ke posisi terendah 4,5 bulan pada posisi 105.45 yang  merespon kuatnya kembali permintaan aset safe haven.  Pelemahan pair juga dipicu oleh anjloknya posisi dolar terhadap banyak rival utamanya dan juga secara indeks turun ke posisi terendah sejak September 2018.

Sentimen pasar berlanjut suram awal pekan ini merespon meningkatnya laju pertambahan kasus baru terinfeksi covid-19 seluruh dunia serta meningkatnya ketegangan AS-China menyusul penutupan konsulat China di Houston dan dibalas dengan penutupan konsulat AS di Chengdu oleh China.

Fundamental Pekan Lalu.
Melihat penggerak fundamental pekan lalu dari data ekonomi Jepang, ekspor  turun lebih dari 20% untuk bulan ketiga berturut-turut sehingga negara itu mencatat defisit perdagangan 42 triliun yen, turun dari 60 triliun yen sebelumnya. Di sisi inflasi, data CPI inti Nasional meningkat menjadi 0,0%, setelah dua penurunan lurus -02,%.

Dari data ekonomi  AS, data klaim pengangguran mingguan AS lebih tinggi dari minggu sebelumnya, keluar dari tren penurunan  panjang. Klaim naik 1,41 juta  dari 1,30 juta sebelumnya. Data PMI Manufaktur AS telah menunjukkan kontraksi selama empat bulan terakhir, namun indeks telah bergerak ke atas dan menunjukkan peningkatan yang kuat di bulan Juni, naik dari 39,8 ke 49,6.

Fundamental Pekan ini
Dari sisi data ekonomi banyak rilis data ekonomi yang akan menjadi market mover pekan ini khususnya dari  Amerika Serikat. Pekan ini akan ada rapat pertemuan kebijakan bank sentral AS (FOMC) dan data advance PDB AS kuartal kedua yang akan jadi fokus pasar. Selain dari laporan ekonomi, sentimen laju kasus baru terinfeksi covid AS, ketegangan AS-China serta harapan stimulus tambahan negara besar terdampak pandemi.

Untuk penggerak dari ekonomi Jepang,  awal pekan ini BoJ telah merilis risalah pertemuan BOJ bulan Juli dan data  BoJ Core CPI lebih tinggi dari periode sebelumnya.  Kemudian tengah minggu akan dirilis data Penjualan ritel yang telah mencatat tiga penurunan berturut-turut, diperkirakan akan berada pada -6,0%. Kemudian akhir pekan akan dirilis data pengangguran dan juga data prelim produksi industri yang diperkirakan ekspansi dari sebelumnya negatif.

Dari ekonomi Amerika Serikat, selain hasil pertemuan FOMC akan dirilis beberapa data ekonomi yang diperkirakan menunjukkan data yang kurang optimis seperti awal pekan  disajikan rilis data durable goods orders. Kemudian ada juga rilis data sentimen konsumen CB, data pending home sales, data personal spending dan data PDB AS untuk Q2-2020. Namun terdapat juga data yang diperkirakan positif seperti data core PCE indeks dan data manufaktur Chicago PMI.

Jul Allens/ Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here