Nikkei Bulan Juli Anjlok Parah, Indeks Harian Terendah 6 Pekan

150

(Vibiznews – Indeks) – Perdagangan saham akhir pekan di bursa Jepang hari Jumat (31/07/2020) kembali merosot, memperpanjang penurunan harga saham beruntun untuk hari perdagangan keenam. Indeks Nikkei semakin turun ke kisaran terendah dalam 6 pekan oleh penguatan yen terhadap dolar AS.

Secara mingguan indeks juga alami pelemahan signifikan dengan turun 4,57% setelah 3 pekan sebelumnya bullish. Demikian secara bulanan, perdagangan saham di bursa Jepang pada bulan Juli anjlok 2,58% setelah 3 bulan berturut sebelumnya bullish kuat.

Indeks Nikkei ditutup anjlok  57,88 poin atau 0,26% lebih rendah ke posisi 2.233,23, posisi terendah sejak perdagangan 10 Juli. Demikian untuk  indeks Topix turun 9,57 poin atau 0,62 persen ke posisi 1.539,47. Untuk indeks Nikkei berjangka bulan September 2020 kini sedang bergerak negatif dengan turun 150 poin atau 0,67% ke posisi 22.170.

Sentimen investor tertekan  setelah seorang pejabat pemerintah memperingatkan bahwa pasar tenaga kerja di Jepang tetap dalam  keadaan parah  dan memerlukan pemantauan ketat yang menyikapi laporan bulan Juni bahwa pengangguran turun dari 2,9% menjadi 2,8%. Pejabat itu menyebutkan penurunan data dikarenakan  penurunan jumlah pencari kerja baru. Data  ketersediaan pekerjaan pada Juni turun menjadi 1,1, yang terus menurun dalam 6 bulan berturut.

Lebih lanjut membebani sentimen, Menteri Keuangan Jepang Taro Aso mengisyaratkan kekhawatiran tentang yen yang kuat  dapat menambah penderitaan lebih lanjut terhadap ekonomi yang terkena resesi karena krisis COVID-19.

Dari sisi laporan ekonomi terdapat data yang positif lainnya yaitu data prelim produksi industri yang ekspansi pada bulan Juni setelah periode sebelumnya kontraksi, naik 2,7% dari -8,9% bulan sebelumnya.

Penguatan yen Jepang menjadi pemicu utama anjloknya saham-saham eksportir utama dan menekan indeks, seperti saham Canon anjlok 6,6%, saham Honda Motor anjlok 5,1%, saham Toyota Motor turun 3,05% dan saham Mitsubishi anjlok 3,07%. Melihat pergerakan saham secara sektoral, semua sektor masuk zona merah dengan penurunan 0,8% hingga 4% lebih. Sektor yang paling tertekan sektor bahan baku anjlok 4% lebih.

Jul Allens / Senior Analyst Vibiz Research Center-Vibiz Consulting

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here