Kenaikan Baru Virus vs Peluang Pemulihan Ekonomi — Market Outlook, 3-7 August 2020 by Alfred Pakasi

717

(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi global pada minggu lalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:

  • kontraksi ekonomi kuartal II AS yang merupakan terbesar sepanjang sejarah,
  • pesan dari the Fed yang mengakui penurunan ekonomi dan komitmen untuk melakukan langkah-langkah stimulus lebih jauh,
  • meningkatnya angka kasus coronavirus yang dilaporkan WHO kembali mencatat rekor kenaikan harian di tingkat global,
  • kepastian stimulus fiskal dari pemerintah AS senilai $1 triliun untuk menopang mereka yang menganggur.

Untuk korban virus, berita resmi terakhirnya, sudah sekitar 17.7 juta orang terinfeksi di dunia dan 683 ribu orang meninggal, dan menyebar ke 213 negara dan teritori.

Pasar saham dunia umumnya bergerak variatif di tengah ketidakpastian, permintaan safe haven naik lagi dan menopang terutama harga emas yang mencetak rekor tertingginya, sedangkan di dalam negeri IHSG mencatat rally 5 minggu berturut-turut.

Minggu berikutnya, isyu antara perkembangan penyebaran wabah virus corona, tensi AS – China, dan peluang pemulihan ekonomi akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Market Review and Outlook 3-7 August 2020.

===

Minggu lalu IHSG di pasar modal Indonesia terpantau menguat di minggu kelimanya dengan investor asing melakukan net buy setelah dari Amerika the Fed menyatakan suku bunga akan tetap rendah untuk mendukung pemulihan ekonomi akibat pandemi virus corona. Sementara itu, bursa kawasan Asia umumnya melemah. Secara mingguan IHSG ditutup menguat 1.31% ke level 5,149.627. Untuk minggu berikutnya (27-30 Juli 2020), IHSG kemungkinan melemah di awal minggu, tetapi masih dalam bias penguatan bertahap melanjutkan rally 5 minggunya. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance level di 5278 dan kemudian 5365, sedangkan support level di posisi 5022 dan kemudian 4964.

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan lalu terpantau fluktuatif dan menutup minggu dengan penguatan terbatas dengan di tengah sebagian investor asing yang melakukan aksi profit taking dari penguatan rupiah pada kuartal II sementara dollar global terlihat berlanjut terkoreksi di minggu keenamnya, sehingga rupiah secara mingguannya menguat terbatas 0.07% ke level Rp 14,600. Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan cenderung turun, atau peluang penguatan kembali bagi rupiah, dalam range antara resistance di level Rp14,780 dan Rp14,820, sementara support di level Rp14.190 dan Rp14.116.

Dalam rapat terbatas yang membahas rancangan postur APBN Tahun 2021 minggu lalu, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa IMF memproyeksikan Indonesia masuk ke kelompok dengan pemulihan ekonomi tercepat setelah Tiongkok.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani juga menyampaikan harapan bahwa Indonesia bisa terlepas dari resesi, dimana dinyatakan kalau penanganan virus corona efektif dan berjalan seiring dengan pembukaan aktivitas ekonomi, maka kondisi ekonomi bisa recover pada kuartal III-2020 dengan positive growth 0,4% dan pada kuartal IV akan akselerasi ke 3%. Menteri Keuangan menyatakan kalau hal itu terjadi, maka pertumbuhan ekonomi kita secara keseluruhan tahun ini akan bisa tetap di zona positif.

Pasar Forex

Minggu lalu di pasar forex, mata uang dollar secara umum berlanjut tertekan di minggu keenamnya dan sempat ke level terendah 2 tahun lebihnya, serta membukukan loss bulanan terbesarnya dalam 1 dekade terakhir, oleh kekhawatiran investor atas prospek ekonomi AS di tengah kenaikan tajam kasus virus corona, dimana indeks dolar AS secara mingguan berakhir melemah ke 93.46. Sementara itu, pekan lalu euro terhadap dollar terpantau berlanjut menguat ke 1.1775, sekitar 2 tahun terkuatnya. Untuk minggu ini, nampaknya euro akan berada antara level resistance pada 1.1909 dan kemudian 1.1996, sementara support pada 1.1641 dan 1.1370.

Pound sterling minggu lalu terlihat menguat ke level 1.3077 terhadap dollar. Untuk minggu ini pasar berkisar antara level resistance pada 1.3200 dan kemudian 1.3284, sedangkan support pada 1.2480 dan 1.2204. Untuk USDJPY minggu lalu berakhir melemah ke level 105.85.  Pasar di minggu ini akan berada di antara resistance level pada 108.17 dan 109.85, serta support pada 104.18 serta level 101.18. Sementara itu, Aussie dollar terpantau menguat ke level 0.7139. Range minggu ini akan berada di antara resistance level di 0.7183 dan 0.7206, sementara support level di 0.6924 dan 0.6776.

Pasar Saham

Untuk pasar saham kawasan, pada minggu lalu di regional Asia secara umum melemah oleh data kontraksi kuartal II ekonomi AS yang tercatat terbesar sepanjang sejarah. Indeks Nikkei secara mingguan terpantau berakhir melemah ke level 21,710. Rentang pasar saat ini antara level resistance di level 23178 dan 23807, sementara support pada level 21530 dan 20335. Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong minggu lalu berakhir melemah ke level 24,595. Minggu ini akan berada antara level resistance di 26782 dan 27767, sementara support di 24148 dan 23685.

Bursa saham Wall Street minggu lalu terpantau variatif di tengah naiknya saham-saham teknologi tetapi investor mengkhawatirkan pembicaraan paket stimulus pengangguran yang belum tuntas. Indeks Dow Jones secara mingguan melemah tipis ke level 26,428.32, dengan rentang pasar berikutnya antara resistance level pada 27580 dan 28403, sementara support di level 26103 dan 24843. Index S&P 500 minggu lalu menguat terbatas ke level 3,227.4, dengan berikutnya range pasar antara resistance di level 3235 dan 3394, sementara support pada level 2994 dan 2936.

Pasar Emas

Untuk pasar emas, minggu lalu terpantau berlanjut menguat mencetak rekor tertinggi barunya oleh merosotnya nilai dollar dan rekor kontraksi ekonomi kuartalan AS, sehingga harga emas spot secara mingguan menguat di minggu kedelapannya ke level $1,975.96 per troy ons. Emas ini membukukan bulan terbaiknya sejak tahun 2016. Untuk sepekan ke depan emas akan berada dengan rentang harga pasar antara resistant di $1983 dan berikut $1990, serta support pada $1900 dan $1790.

 

Isyu resesi ekonomi global di tengah pandemic dunia serta panasnya tensi politik AS – China terus mengemuka. Isyu lain, rencana stimulus fiskal dari Amerika dan sejumlah negara lainnya bisa begitu menggerakkan pasar. Kita melihat bahwa faktor fundamental ekonomi serta politik begitu signifikan dalam memengaruhi pasar. Bagi investor lokal yang, katakanlah, bukan berlatar belakang pendidikan ekonomi kadang tidak mudah untuk memahami dinamika berbagai indikator perekonomian dan yang terkait tersebut. Kendala itu bukan merupakan masalah kalau Anda terus menyimak berita dan analisis pasar di vibiznews.com. Banyak orang telah mengakuinya. Terima kasih tetap bersama kami karena kami hadir demi mendukung sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!

 

Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here